BANDARLAMPUNG  –  Suasana H-2 menjelang Musyawarah Nasional (Munas) XVIII Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI) makin “panas”. Suara sumbang, ada yang hendak membuat chaos dan deadlock pada hari H agar munas dipindah dari Lampung.

Laskar Lampung telah mengingatkan datangnya sekelompok orang yang diduga preman bayaran dari Indonesia bagian timur yang berkedok pengamanan calon ketua umum telah masuk Lampung. Mereka telah siaga di beberapa hotel di Bandarlampung.

Panglima Laskar Lampung Nero Koenang mengingatkan agar tak terjadi gesekan antarpedukung para calon ketua BPP HIPMI harus mengembalikan para preman. “Jangan ngacak-ngacak Lampung,” ujar Panglima Laskar Lampung Nero Kenang sebagaimana dilansir heloindonesia.com.

Suasana jelang Munas XVIII HIPMI sudah terasa panas sejak munculnya empat caketum BPP HIPMI masa bakti 2026–2029. Dinamika meliputi perdebatan intervensi politik luar serta seputar visi kemandirian ekonomi.

Caketum nomor urut dua, Ade Jona Prasetyo yang paling banyak pasang benner di Kota Bandarlampung dinilai sosok yang diinginkan kekuasaan saat ini. Tiga calon lainnya –Reynaldo Bryan (1), Afifuddin S. Kalla (3), dan Anthony Leong (4) — diduga punya beking politik dan penguasa juga.

Pemilihan Ketua Umum BPP HIPMI Masa Bakti 2026–2029 akan segera diputuskan melalui Munas XVIII HIPMI pada 10 Juni 2026. Ada empat kandidat Calon Ketua Umum (Caketum) yang bersaing ketat, yaitu Reynaldo Bryan (Nomor Urut 1), Ade Jona Prasetyo (Nomor Urut 2), Afifuddin S. Kalla (Nomor Urut 3), dan Anthony Leong (Nomor Urut 4).

Sebelumnya Reynaldo Bryan, walkout dari forum debat kedua Calon Ketua Umum (Caketum) BPP HIPMI. Calon nomor urut 1 itu menyatakan sikap mundur dari arena debat. Ini sebagai protes terhadap panitia penyelenggara yang bersikukuh pelaksanaan Munas HIPMI ke-XVIII tetap diadakan di Kota Bandarlampung, Provinsi Lampung.

Protes terhadap Lampung Tuan Rumah Munas HIPMI sendiri sudah dilakukan berbagai pihak. Namun panitia penyelenggara tetap dengan keputusannya. Padahal, dari sisi kesiapan, baik infrastruktur maupun suprastruktur Lampung dianggap belum memadai untuk dijadikan Tuan Rumah.

“Sebagai Calon Ketua Umum nomor urut 1 saya mohon maaf kepada Ayahanda, seluruh Pengurus BPP HIPMI, Ketua SC dan OC, saya harus membawa aspirasi daerah terkait dengan tempat dilaksanakannya Munas, oleh karena itu, saya putuskan untuk tidak melanjutkan debat untuk menghargai aspirasi daerah,” demikian sikap resmi Caketum nomor 1 Reynaldo saat debat kedua berlangsung, bertempat di Hotel Merusaka, Sabtu (23/5/2026) lalu.

Sikap Reynaldo langsung disambut tepuk tangan oleh para pendukung dan simpatisan, serta para senior dan anggota HIPMI yang hadir.

Tiga tim pemenangan Caketum BPP HIPMI juga telah menyatakan keberatan dan permohonan peninjauan kembali terkait penetapan Bandar Lampung sebagai tuan rumah MUNAS XVIII HIPMI 2026. Ketiga tim berasal dari kubu Reynaldo Bryan, Afifuddin Kalla, dan Anthony Leong. Mereka kompak menyuarakan kekhawatiran terkait aspek netralitas dan kepatuhan terhadap aturan organisasi dalam proses penentuan lokasi.

Reynaldo Bryan dalam suratnya tertanggal 13 Mei 2026, menyoroti adanya indikasi ketidaknetralan oleh Steering Committee (SC) dan Organizing Committee (OC).

Wakil Ketua Timnas Reynaldo, Vico Septiandy Taufik, memaparkan dua poin krusial mengenai dugaan pelanggaran aturan organisasi. 

“Poin pertama berkaitan dengan waktu penetapan lokasi MUNAS yang dinilai tidak sesuai dengan Pasal 12 ayat 3 AD/ART karena seharusnya sudah ditetapkan paling lambat enam bulan sebelum pelaksanaan,” kata Vico.

Selain itu, dia juga menyoroti aspek legalitas keputusan terkait penerbitan Surat Keputusan (SK) kepanitiaan yang dianggap menciderai Pedoman Organisasi (PO) 11. 

Menurutnya, SK tersebut seharusnya hanya boleh dikeluarkan berdasarkan hasil rapat RBPH/RBPL BPP HIPMI agar tetap menjaga integritas aturan yang berlaku.

Senada, Tim Afifuddin Kalla menyatakan penolakan melalui surat yang ditandatangani oleh Ketua Tim Pemenangan Randi Wibawa pada 12 Mei 2026. 

Mereka menilai lingkungan pelaksanaan di Lampung berpotensi menguntungkan kandidat tertentu.

Sementara itu, Tim Pemenangan Anthony Leong (Nomor Urut 4) menekankan pentingnya menjaga marwah HIPMI dari pengaruh eksternal. 

Melalui surat yang ditandatangani Fathul Nugroho, mereka meminta agar proses MUNAS dijauhkan dari pengerahan kepentingan elit politik non-HIPMI serta lembaga yang seharusnya bersikap netral.

“Penyelenggaraan MUNAS di lokasi yang dipersepsikan netral akan memberikan rasa nyaman dan kepercayaan bagi seluruh peserta,” tulis pernyataan resmi Tim Anthony.

Sebagai solusi, para tim pemenangan mendesak SC MUNAS XVIII BPP HIPMI untuk memindahkan lokasi ke wilayah yang dinilai lebih netral. 

Beberapa provinsi yang diusulkan antara lain, DKI Jakarta, Jawa Timur atau provinsi lain yang tidak menimbulkan persepsi keberpihakan. 

Ketiga kubu menegaskan bahwa keberatan ini bukan ditujukan untuk mendiskreditkan daerah tertentu. Melainkan sebagai ikhtiar bersama guna menjaga legitimasi hasil MUNAS serta persatuan keluarga besar pengusaha muda di seluruh Indonesia.

Seperti diketahui ada empat kandidat caketum BPP HIPMI yang akan berkompetisi dalam Munas XVIII yang akan digelar pada 10 Juni 2026 di Lampung.

Pertama, Reynaldo Bryan dengan nomor urut 1. Lalu, Ade Jona Prasetyo dengan nomor urut 2. Selanjutnya, Afi Kalla dengan nomor urut 3. Dan terakhir Anthony Leong yang mendapatkan nomor urut 4.

Khusus Caketum Ade Jona Prasetyo dengan nomor urut 2, puluhan bannernya telah menghiasi dan bertebaran di berbagai titik lokasi strategis di Lampung. Ade Jona Prasetyo merupakan pengusaha dan politikus Partai Gerakan Indonesia Raya. Ia menjabat sebagai Anggota DPR-RI dari Fraksi Partai Gerindra periode 2024–2029. Ade Jona juga menjabat sebagai Ketua DPD Partai Gerindra Sumatera Utara. (red/net)