Home Hukum dan Kriminalitas 93 Warga Lampung Jadi Korban Investasi Bodong dan Penipuan Berkedok Arisan

93 Warga Lampung Jadi Korban Investasi Bodong dan Penipuan Berkedok Arisan

BANDAR LAMPUNG – Sebanyak 93 orang warga Lampung jadi korban dugaan penipuan berkedok arisan dan investasi bodong. Total kerugian ditaksir lebih dari Rp 5 miliar.

Salah seorang korban, Evi Ratnasari, mengatakan para peserta selama ini tidak pernah menaruh curiga karena arisan tersebut telah berlangsung bertahun-tahun. Seluruh pembayaran disebut selalu berjalan lancar sehingga banyak peserta kembali menanamkan uangnya.

“Korban yang kami data ada sekitar 93 orang, bahkan bisa bertambah karena belum semuanya melapor. Total kerugiannya sudah lebih dari Rp 5 miliar,” kata Evi.

Ia menjelaskan nilai kerugian yang dialami korban bervariasi. Mulai dari Rp 15 juta hingga ratusan juta rupiah.

“Ada yang rugi Rp 15 juta, Rp 33 juta, Rp 38 juta, Rp 50 juta, Rp 180 juta, Rp 500 juta, sampai Rp 600 juta,” ujarnya.

Selain mengikuti arisan, korban juga mengaku ditawari investasi dengan keuntungan yang dijanjikan cair dalam waktu singkat. Skema itu membuat banyak peserta tergiur untuk menyetorkan dana dalam jumlah besar.

“Misalnya setor Rp 13 juta, nanti satu atau dua bulan kemudian dikembalikan Rp 15 juta,” ungkapnya.

Menurut Evi, persoalan mulai muncul sejak Mei 2026 ketika pembayaran kepada peserta mulai terlambat. Kondisi itu terus berlanjut hingga pertengahan Juli 2026 saat penyelenggara diduga menghilang dan tidak lagi bisa dihubungi.

Evi mengaku terakhir mentransfer uang sebesar Rp 39 juta. Namun saat jadwal pencairan tiba, uangnya tak kunjung dikembalikan dan penyelenggara sudah tidak diketahui keberadaannya.

Merasa menjadi korban penipuan, para peserta akhirnya melapor ke Polda Lampung. Mereka membawa sejumlah barang bukti, mulai dari bukti transfer, percakapan WhatsApp hingga dokumen transaksi arisan dan investasi.

Evi menyebut mayoritas korban mengenal penyelenggara karena berasal dari lingkungan yang sama, yakni Desa Wates, Kecamatan Way Ratai, Kabupaten Pesawaran. Kedekatan itu membuat para korban percaya untuk mengikuti arisan maupun investasi yang ditawarkan. (detik)