Oleh Dr. As’ad M
Dosen FTIK UIN Jurai Siwo Metro/
Wakil Ketua Dewan Pendidikan Lampung 2025-2030
SEPAKBOLA adalah gudangnya kejutan. Kata “kejutan” sendiri artinya sesuatu yang datang tiba-tiba, tidak terduga dan membuat orang terperangah. Dari sekian banyak kejutan, salah satunya adalah Tanjung Verde. Sebagai sebuah negara kecil di Samudera Atlantik, Tanjung Verde atau Cape (Cabo) Verde, berhasil meneruskan debutnya yang mencengangkan di babak penyisihan hingga berhasil masuk babak 32 besar piala dunia 2026 mewakili grup G bersama tim nasional Spanyol.
Pada Babak 32 besar ini, Tanjung Verde akan berhadapan dengan raksasa sepakbola dunia lainnya : Argentina. Apapun hasilnya –menang aataupun kalah–, Tanjung Verde telah berhasil mengharumkan nama bangsa dan negaranya dari yang semula asing menjadi “tiba-tiba” terkenal ke seluruh penjuru dunia. Sebuah pencapaian yang luar biasa.
Namun demikian kemunculan yang begitu cepat di dunia sepakbola mengingatkan kita akan kisah timnas Yunani yang pernah menjuarai Piala Eropa 2004. Yunani saat itu juga “menghebohkan” dunia dgn capaiannya yang luar biasa. Dalam perjalanannya keberhasilan itu ternyata tidak didukung dengan prestasi yang sustainability. Sehingga sepakbola Yunani yang awalnya begitu bersinar, tiba-tiba juga redup dalam waktu yang tidak terlalu lama. Ke depan kelak kita akan menyaksikan apakah prestasi sepakbola Tanjung Verde akan bernasib sama dengan Yunani atau mampu membuktikan diri sebagai negara yang “survival” dalam dunia sepakbola.
JIka dikaitkan dalamm konteks dunia pendidikan, dari case debutan Tanjung Verde di atas, setidaknya terdapat 3 pelajaran pendidikan (lesson learn) yang bisa dipetik yaitu :
1.Teori Pertumbuhan – Growth Mindset
Tanjung Verde mungkin kalah dari sisi nama besar, tapi tidak kalah mental. Mereka berani bermain terbuka ketika berhadapan dengan negara-negara yang lebih dulu eksis dan establish dalam kancah sepakbola. Dibuktikan dengan prestasi yang fenomenal di babak penyisisihan grup.
Itulah yang dimaksud dengan growth mindset : berani menghadapi tantangan di atas levelnya, karena percaya kompetensi bisa tumbuh lewat proses. Dalam dunia pendidikan pun berlaku demikian : Anak dari sekolah kecil di daerah berhak bermimpi berhadapan dengan ujian berstandar nasional atau bahkan level olimpiade. Yang penting bukan takut kalah, tapi berani tampil dan belajar.
2.Proses di Atas Hasil Sesaat
Tanjung Verde tidak sekadar “beruntung” tapi berproses melalui latihan yang ketat dan disiplin sehingga menghasilakn pemain yang beratalenta dan memiliki taktik, skill dan mental yang berani. Selama ini, Pendidikan kita sering terjebak mengejar hasil, nilai dan ranking serta kelulusan semata. Padahal yang menentukan keberlanjutan adalah proses: kurikulum yang matang, guru yang kompeten, dan pembinaan karakter yang penuh nilai. Seperti Yunani tahun 2004, sesuatu hasil yang cepat tanpa proses yang kuat akan cepat pula padam.
3.Pendidikan Karakter: Sportivitas dan Rendah Hati.
Jikapun nanti misalnya Tanjung Verde kalah, tapi mereka akan pulang ke negaranya dengan kepala tegak karena telah berhasil memberikan kejutan. Inilah value dari pendidikan karakter. Kemenangan tidak membuat sombong, kekalahan juga tidak membuat patah arang. Di sekolah dan di kampus, kita harus melatih murid maupun mahasiswa untuk tampil menjadi “Tanjung Verde”: berani, gigih dan menghargai proses. Tanjung Verde tidak minder dengan negara yang lebih dahulu tampil di piala dunia sepakbola. Dari sinilah kita bisa belajar bahwa dunia pendidikan juga begitu. Ada sekolah besar dan elit yang telah lama eksis namun ada juga sekolah baru tumbuh. Ada guru senior tetapi ada juga guru muda penuh talenta. Semua harus saling membantu dan memacu menjadi tim yang solid agar mutu pendidikan bisa merangkak naik. Karena pada akhirnya, yang kita cari bukan sekadar juara atau rangking di kelas atau di kampus. Tapi murid atau mahaiswa yang qualified, punya mental bertanding, dan siap bersaing kapan pun, di mana pun. (*)



















