Syukuran Cagub Di Rumah Dinas

SEBAGAI umat manusia, kita memang senantiasa harus wajib bersyukur atas segala nikmat dan karunia yang diberikan Tuhan YME. Betapa indahnya, ayat Al-Quran pada surat Ar-Rahman yang artinya, “Nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan?” Karena sesungguhnya, nikmat Allah benar-benar tak terhingga.

Karenanya saya sangat bahagia, di saat membaca sebuah media online dimana menuliskan bahwa Herman HN langsung menggelar syukuran. Ini pasca dirinya mendapat restu dari Ketua Umum PDI Perjuangan (PDI-P) Megawati Soekarnoputri, Jumat 5 Januari 2018, sebagai Calon Gubernur (Cagub) Lampung.

Tiada yang salah dengan yang dilakukan Herman HN. Hal ini justru membuktikan bahwa dirinya sangat percaya dengan janji Allah tentang orang-orang bersyukur. Dengan bersyukur, Allah akan senantiasa menambahkan nikmat yang diberikan. Namun bila kita mengingkari nikmat yang Allah berikan, maka sesungguhnya azab-NYA sangat pedih.

Sayang, ada hal yang mengganjal dihati saya, disaat melanjutkan membaca berita tersebut. Dimana tertulis jika saat mengadakan syukuran tersebut, ternyata dilakukan bersama simpatisan di rumah Dinas Walikota Bandarlampung Herman HN, di Jalan Gatot Subroto.

Saya pun lantas berpikir, bolehkah syukuran tersebut digelar di rumah dinas ? Dengan makan-makan bersama, yang tentunya tidak menelan dana yang tidak sedikit.

Jujur saya tidak ingin berpolemik. Biarkan Bawaslu Lampung atau pihak-pihak berkompeten yang menjawabnya. Terkait apakah ada pelanggaran atau tidak.

Yang pasti pada kesempatan ini, saya hanya ingin mengingatkan sebuah cerita di masa pemimpin negara Khalifah Umar Bin Khatab. Beliau sangat pandai membedakan mana urusan pribadi, keluarga, kelompok atau golongan, dengan urusan publik atau negara. Beliau sangat takut, semua urusan tersebut saling bercampur. Sebab baginya itu adalah pengkhianatan berupa penyalahgunaan kekuasaan yang kelak akan dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT.

Alkisah, suatu malam saat sang khalifah mengerjakan tugas negara di ruang pribadinya dengan diterangi lampu minyak, datang saudaranya bermaksud menyampaikan sesuatu. “Masalah keluarga atau soal negara yang ingin kau sampaikan ?” tanya khalifah Umar. “Masalah keluarga” jawab saudaranya. Seketika itu juga, lampu minyak di depannya ia matikan.

Saudaranya heran : “Wahai khalifah , mengapa engkau matikan lampu itu ?” Umar menjawab dengan suara rendahnya : “Lampu minyak ini dibiayai negara, tidak sepantasnya pembicaraan ini menggunakan fasilitas negara. Mendengar jawaban Umar, saudaranya terkejut dan hanya bisa diam merenungi perkataan Umar.

Kisah ini adalah kisah nyata. Tercatat dalam sejarah agar bisa kita merenungi dan menjadikan tauladan disaat memegang kekuasaan untuk tak tergoda dan mabuk kekuasaan. Sehingga lupa bahwa kekuasaan sebenarnya bukan keistimewaaan. Melainkan tanggung jawab. Salahsatunya dengan bisa membedakan kepentingan pribadi, keluarga, kelompok dan golongan. Dengan kepentingan publik atau negara.

“Ya Allah, berikan kami pemimpin yang seperti ini. Tak ada yang tak bisa, bila engkau berkehendak. Amien (wassalam)