Pemecatan Lurah Ala Herman HN

Dalam berbagai portal media beberapa hari lalu tertulis berita bahwa Walikota Bandarlampung, Herman HN telah memecat Lurah Gedongair, Kecamatan Tanjungkarang Barat (TkB), Bandarlampung. Alasannya yang bersangkutan dinilai terlibat sosialisasi pencalonan salahsatu pasangan calon (paslon) peserta Pilgub Lampung.

Tentu saya menyambut baik apa yang dilakukan Herman HN. Ini menandakan beliau paham aturan. Dimana Aparatur Sipil Negara (ASN) dilarang berpolitik praktis.

Namun, dihati kecil saya muncul pertanyaan. Mengapa hanya LURAH saja yang dicopot. Jangan-jangan, Lurah ini “dipecat” lantaran bukan mendukung Herman HN sebagai Calon Gubernur (Cagub) Lampung.

Pasalnya untuk ASN lainnya yang secara terang-terangan mendukung dirinya, Herman HN malah terkesan tidak mengeluarkan kebijakan serupa. Misalnya, soal beredarnya foto salahsatu ASN yang berpose bersama Bakal Calon Wakil Gubernur Lampung, Sutono yang kebetulan berpasangan dengan dirinya.

Lalu terkait mangkirnya Plt Kadis PU Bandarlampung, Iwan Gunawan yang tak memenuhi undangan pemeriksaan Panwaslu soal ucapan selamat atas diresmikan Fly Over Mal Boemi Kedaton bergambar Herman HN dan bertuliskan Calon Gubernur Lampung.

Kemudian ASN Pemkot Bandarlampung, Cik Raden selaku Kepala Badan Pol PP dan Siddik Ayogo selaku Kepala Dinas Lingkungan Hidup. Cik Raden dipanggil Panwaslu karena diduga melanggar netralitas ASN setelah ada temuan foto yang bersangkutan dalam banner sebagai Koordinator Pol PP dengan salah satu Bakal Calon Gubernur. Sedangkan Siddik Ayogo diduga turut serta menyebarkan aktivitas salahsatu Bakal Calon Gubernur Lampung di akun sosial medianya.

Lantas mengapa nama-nama ini tidak ditindak, bahkan dijatuhi sanksi PEMECATAN juga ? Padahal sebagai ASN apalagi pejabat atau pimpinan satuan kerja perangkat Daerah, mereka harusnya bisa memberi contoh kedisiplinan mematuhi setiap regulasi. Yakni ketentuan netralitas ASN. sebagaimana diatur dalam UU No 5 Tahun 2014 Tentang ASN.

Tentunya jawabannya ada di hati kecil Herman HN. Sementara kita (masyarakat,red) hanya bisa menilai dan menggagap “lucu” tentang peristiwa diatas seraya membaca ulang petuah pribahasa “Gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan terlihat jelas. Pribahasa ini berarti tentang kecenderungan orang untuk dengan mudah melihat kesalahan atau kekurangan orang lain. Namun sebaliknya sangat sulit melihat kesalahan atau kekurangan dirinya sendiri.(wassalam)