Booming Caleg

MEMBACA nama-nama yang dilansir Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi, Kabupaten/Kota terkait Daftar Caleg Tetap (DCT) di Lampung, membuat saya geleng-geleng kepala. Terus tersenyum. Banyak sekali, yang masuk DCT. Sementara yang akan jadi dan duduk sebagai anggota dewan terhormat “betulan” hanya sekitar 10 % saja.

Sisanya 90% akan kembali kehidupan yang lama. Yang bertani, kembali bertani. Yang berwiraswasta, kembali berwiraswasta. Atau yang pensiunan, kembali menikmati hari-hari pensiunnya.

Itu semua pun bisa dinikmati, jika yang bersangkutan alias caleg yang gagal tak mengalami drop mentalnya. Atau bahasa umumnya, biasa disebut stres. Gangguan Psikis. Makanya yang enak justru jadi penyelenggara he..he..he..

Kok bisa ? Ya bisa. Menjadi caleg sekarang tak ada yang gratis. Hanya sekedar terdaftar aja, harus mengeluarkan uang. Misalnya menyiapkan berbagai dokumen persyaratan. Itu semua sebagian, bayar lho.

Lalu masuk masa sosialisasi. Duh.. ini yang buat “pening”. Selain menguras kantong, juga harus menguatkan fisik dan mental.

Tiap mengundang atau bersilaturahmi dengan warga masyarakat guna menyampaikan “hajat” tak mungkin tangan-kosong, bekkang bahasa kerennya. Tapi harus ada bekal yang “dikimel-kimel”. Minimal rokok untuk yang laki-laki. Atau cendera mata apalah untuk yang wanita. Bisa jilbab, gantungan kunci dan lainnya.

Jika tidak, maka sepulang dari acara, muncul “koor” senada. ”Mau nyaleg ga ngasi apa-apa, ngomong aja. Wong acara tahlilan yang dapat pahala aja, minimal harus mempersiapkan konsumsi”.

Ini baru hitungannya “materi”. Belum lagi yang saya sebut diatas soal “fisik dan mental”. Jadi caleg kini harus rajin-rajin turun kebawah menyapa masyarakat. Begadang sampai larut malam. Terus tidur dialas tikar tanpa AC . Makan mie instan. Mandi dikali atau kamar mandi seadanya. Biar timbul kesan merakyat. Kalo istilah Jokowi dulu, PENCITRAAN. Jadi kalo ga kuat fisik, jangan harap deh.

Terus soal mental. Nah ini yang bisa malah sangat “menyiksa”. Bagaimana tidak, yang dulu tak pernah beribadah, tiba-tiba harus rajin ibadah. Melayani jamaah. Ikut acara keagamaan.

Wow. Kalau ga biasa, ini bisa buat “kram hati” lho. Greget gitu. Tapi tak berdaya. Ya mau gimana. Semua harus dijalani. Ini semata demi menarik simpati rakyat tadi.

Kesiapan fisik sudah. Mental sudah. Terus yang terakhir “siraman fajar”. Meski dilarang, entah mengapa ini masih dan pasti terjadi. Bukan isu lho.

Untuk menang, sebagian caleg meski sudah mempunyai jaringan, tapi masih membutuhkan amunisi. Uang namanya. Pemilu kita sangat “sadis”. Kalo istilah orang pacaran, ada uang abang sayang, tak ada uang abang ditendang”. Penyelenggara seperti KPU dan Bawaslu sangat paham soal-soal begini. Apalagi ada contoh Pilgub Lampung, Juni 2018 lalu., dimana calon yang “modal tinggi” yang paling “dicintai”.

Karenanya pada kesempatan ini, andai mau didengar, saya ingin titip pesan. Jangan terlalu memaksakan diri. Bila memang “defosito” sudah cukup, ya silakan saja bertarung “brutal”. Leg-leg-an. Tos-tos-an. Tay-tay-an. Saling tumbur. Saling timpa. Toh mang dah udah lebih semua kok. Anggap sedekah.

Tapi jika tidak, duh… saya harap jangan memaksakan dirilah. Pake Jual tanah, jual kebun, gadai rumah. Lalu berhutang, ambil uang “panas”. Sabet sana-sani. Percayalah, urusan sama Bank resmi aja terkadang rumit lho. Apalagi jika harus bermasalah dengan rentenir.

Jangan deh. Mengapa ? Sebab, andai hajat terkabul dan resmi dilantik menjadi anggota dewan, belum tentu lho modal kembali. Mengingat ganasnya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT). Lalu boomingnya peran polisi, jaksa, LSM, wartawan dll. Waduh……

Belum lagi andai gagal. Semua harta habis tergadai. Hutang. Bisa-bisa rumah tangga hancur berantakan, yang ujungnya mengalami gangguan kejiwan atau stres tadi.

Saya mohon ya Tuhan, semoga kondisi seperti ini tidak terjadi di Lampung. Dimana caleg-caleg yang bertarung dan menjadi caleg sebagian besar masih bisa dikatakan adalah kakak, adik dan teman-teman saya.(wassalam)