Mengenal Surono Danu Tokoh PDIP yang Dukung Ridho Ficardo

BANDARLAMPUNG – Keengganan kader dan tokoh PDI-Perjuangan terhadap sosok Calon Gubernur (Cagub) Lampung Herman HN mencuat. Bahkan kini mulai terang-terangan mendeklarasikan diri. Terbaru, Suronu Danu, kader dan tokoh PDI-Perjuangan dari Lampung Tengah (Lamteng). Surono Danu adalah pejuang petani yang fokus di perjuangan kedaulatan pangan di Indonesia. Ia pemulia tanaman yang menemukan varietas padi MSP.

“Saya punya lima karakter anak. Pertama lima orang anak kandung, anak ruh, anak ideologi, anak asuh dan banyak anak angkat. Muhammad Ridho Ficardo adalah anak ruh saya. Saya mengenalnya sejak taman kanak-kanak. Saya akan berjuang bersamanya,” tutur Surono Danu saat bersilaturahmi dan dikunjungi Ridho Ficardo, 9 Februari lalu, di kediamannya di Kampung Nambah Dadi, Lampung Tengah.

Lantas siapa Surono Danu ?  “Selain beliau seorang tokoh di PDI-P, beliau juga sangat konsen di bidang pertanian. Banyak penghargaan dari pemerintah yang beliau dapatkan sebagai aktifis bidang pertanian. Sewaktu Harlah PDI-P di Jakarta beliau yang di percaya ibu Megawati untuk menyerahkan untaian padi ke Presiden Jokowi,” jelas salahsatu pengurus PDI-P yang enggan namanya dituliskan.

“Bahkan ibu Megawati pernah ke rumah beliau. Semua orang DPP pasti kenal dia. Orang PDI-P Lampung pasti kenal sampai ke tingkat PAC,” terangnya lagi.

Surono Danu sendiri pencipta benih padi unggul Sertani 1 yang populer di kalangan petani. Surono menjejakkan kaki pertama kali di Lampung tahun 1982 di Desa Bungkuk, Jabung, Lampung Timur. Saat itu ia meneliti dan mengenalkan beberapa tanaman ke petani. Ia membuat pola pengembangan tanaman nilam dan vanili. Tujuannya menambah komoditas di Lampung yang otomatis akan menambah income petani.

Tahun 1984, ia melanjutkan penelitian dan pengenalan bercocok tanam yang baik ke umbulan Way Pengubuan, persisnya Kampung Terbanggibesar. Ia membawa benih nilam dan melakukan hal serupa ke petani di sana. Namun, bibit nilam disimpan di Talang Jago, Bukit Kemuning. Ia juga mengenalkan benih jagung hibrida C-1, sekaligus mengajari petani cara bercocok tanam yang baik.

Rupanya Surono kurang puas dengan hasil yang diperoleh petani di Terbanggibesar. Ia pun “bertualang” lagi ke daerah lain di Bumi Ruwa Jurai. Seperti Kalianda, Kotaagung, dan daerah lain sembari meneliti benih padi unggul.

Selama bertualang, Surono lebih banyak berjalan kaki atau dengan sepeda tuanya. Maklum, kondisi ekonominya jauh dari cukup.
Selama bertahun-tahun ia menjelajahi daerah-daerah pertanian di Lampung. Hasilnya, Surono mengoleksi 181 jenis benih padi. Benih-benih itu dia teliti dan kemudian menetapkan tiga jenis benih padi unggulan. Ketiga jenis benih padi itu pun ia uji dan teliti.

Untuk benih jantan, Surono memilih padi asal Terbanggibesar yang diberi nama Dayang Rindu. Sedangkan benih betina dipilih dua jenis padi, yakni asal Kampung Gunungbatin, Terusannunyai, yang dinamainya “Si rendah sekam kuning” dan “Si rendah sekam putih”.

Sejak 1985, Surono praktis memusatkan penelitian ketiga jenis padi itu. Dari hasil persilangan benih itu, 10 tahun kemudian ia menemukan benih padi yang berusia 150 hari. Dan, tujuh tahun kemudian–dengan rumus ciptaan dan pengetahuan yang dimilikinya–Surono akhirnya menemukan benih padi berusia 135 hari.

Meski hasilnya cukup spektakuler, Surono belum puas. Ia masih terus meneliti dan tahun 1997 ditemukanlah benih padi berusia 105 hari. Benih padi itu pun ia beri nama Sertani 1.

Menurut Surono, satu hektare tanaman padi ini, dengan perlakuan yang baik, mampu memproduksi gabah maksimal 14 ton. “Benih ini tidak memiliki perawatan khusus bahkan tidak membutuhkan suplai air yang memadai,” kata Surono Danu.

“Justru dengan pasokan air yang lebih banyak, produksi menjadi tidak maksimal,” kata Surono. Benih ini juga mampu hidup di berbagai kondisi tanah apa pun seperti perladangan, gaga rancah, sawah, dan salinitas atau lahan yang kurang bagus untuk produksi.

Dari segi pemupukan, benih Sertani 1 ini hanya membutuhkan paling banyak lima kuintal per hektare dan tahan terhadap hama apa pun seperti hama tikus.

Sembari mengembangkan benih Sertani 1 dan mengenalkan pada petani, Surono terus meneliti. Dua tahun kemudian (1999), dia berhasil menemukan benih padi dengan usia panen 95 hari. “Benih padi itu diberi nama EMESPE-1 singkatan dari Mari Sejahterakan Petani,” ujarnya.

Menurut Surono, padi EMESPE ini sudah ditanam di seluruh Indonesia. Ini memang jadi keinginannya agar padi hasil penelitian bertahun-tahun bisa meningkatkan kesejahteraan petani karena hasil panenan bisa dua kali lebih banyak ketimbang jenis padi lokal lain.

“Dahulu, Mahapatih Gajah Mada pernah bersumpah tidak akan makan buah palapa kalau belum bisa menaklukkan dan menyatukan wilayah Nusantara. Saya pun tidak makan nasi hasil penemuan saya ini sebelum tertanam di seluruh Indonesia. Nah, karena sekarang sudah tertanam di seluruh Indonesia, saya pun sudah merasakan nasi dari padi EMESPE,” jelas Surono.

Selama 20-an tahun meneliti, Surono tidak pernah menerima dan meminta imbalan dari siapa pun. Semua yang dia lakukan semata-mata didorong keinginannya menyejahterakan orang banyak, terutama petani.
Hal yang membuat Surono tidak pernah surut untuk meneliti adalah sikapnya yang kritis dan selalu bersemangat. “Saya tidak punya apa-apa kecuali sikap kritis dan spirit. Seperti virus, inilah yang saya sebarkan kepada masyarakat. Jika kebaikan dan pengetahuan kita sebarkan seperti virus, masyarakat akan kuat,” ujarnya.

Benih unggul temuan Surono kini terkenal di seantero Indonesia. Meski begitu, kehidupan ekonomi Surono belum beranjak naik. Ia tetap saja seorang petani desa yang hidup penuh kesederhanaan. “Ibarat lukisan, saya ini lukisan abstrak, tidak jelas tapi mempunyai arti,” ujar Surono.(net)

BIODATA

Nama: Ir. Surono Danu 
Tempat, tanggal lahir: Cirebon, 11 September 1951
Istri: Rohmiati
Tempat, tanggal lahir: Sukoharjo, Solo, 23 Februari 1961

Anak:
1. Aditiya Veda Ariono (12 Juni 1979)
2. Dyang Vita Aryani (18 November 1980)
3. Aditya Kama Nugrah (7 Maret 1988)
4. Nyang Vania Ayuningtyas Harini (4 Januari 1990)
5. Aditya Prima Tirta (11 September 2001)