Doa Untuk Kapolda

BEBERAPA hari ini saya mendengar sikap pro-kontra. Ini soal fenomena tindakan tegas jajaran Polda Lampung terhadap pelaku begal dan narkoba. Bagi yang pro, mereka mendukung. Sebab ini bisa membuat pelaku kejahatan jera dan berpikir dua kali melakukan aksi. Namun bagi yang kontra, mereka berpendapat sikap ini tidak serta-merta mengurangi angka kejahatan. Disisi lain sikap sama disampaikan keluarga para pelaku korban penembakan. Mereka merasa jika sebenarnya putra-putranya masih mempunyai harapan hidup untuk dibina agar tidak mengulangi perbuatan jahatnya.

Sayapun langsung teringat kisah sepupu saya. Beberapa tahun lalu dia ditembak mati polisi. Versi polisi, sepupu saya ini penjahat sadis yang tidak segan melukai korban saat beraksi.
Tapi ini berbeda dengan penilaian keluarga. Termasuk di mata saya. Dia sosok “tulang punggung” keluarga yang bisa dikatakan hidup di tengah himpitan ekonomi. Dia sangat menyayangi ibu-ayahnya. Dia menjadi “benteng” bagi adik dan kakaknya agar “dihargai” di mata orang lain. Dia yang melunasi biaya kontrakan rumah sederhana yang mereka huni. Belum lagi kebutuhan hidup sehari-hari. Singkatnya dia tidak ingin melihat keluarganya menderita. Begitu juga tingkah lakunya. Dia penolong. Sang sepupu pun cenderung pemalu dan santun.

Tragisnya, kematian ini tidak dapat diterima ibundanya, yang biasa saya panggil tante. Seketika tante menangis, meratap dan dunia tiba-tiba gelap. Dia jatuh pingsan. Esoknya, sesudahnya pemakaman, tante saya ini hanya terlihat melamun. Dia termenung sambil sekali-kali menyebut nama putranya. Dia tidak ingin disapa. Dia sangat depresi. Dengan tatapan kosong hanya satu kalimat yang disampaikannya, jika putra tercintanya telah mati ditembak polisi.

Begitu berhari-hari hingga berminggu-minggu. Hingga akhirnya tante saya yang umurnya belum terlalu tua ini meninggal dunia beberapa bulan kemudian. Saya tidak tahu penyakit yang dideritanya. Yang pasti kondisinya begitu drop dan nyaris kehilangan ‘akal sehat” karena tidak dapat menerima kenyataan bahwa putranya telah tiada.

Lalu bagaimana sikap saya dengan polisi ? Saya coba memahami. Bahwa menjadi polisi, apalagi menjadi pimpinan sekelas POLDA Lampung adalah hal sulit. Selain keterampilan ilmu kepolisian, disana harus ada kematangan, kearifan, kebijaksanaan, dan pengalaman mensikapi berbagai peristiwa yang terjadi di masyarakat.

Saya yakin, seyakin-yakinnya tidak ada “kebanggaan dan kebahagiaan” bagi Irjen. Pol. Sudjarno, sebagai pimpinan tertinggi Polda Lampung,  bila jajarannya menembak mati pelaku kejahatan. Dalam hatinya pasti “Sang Jenderal” bersedih bahkan menangis. Meski tampak gagah dan tegar saat ber-konfrensi pers bersama wartawan yang menyorotnya, sebenarnya hatinya rapuh. Bisa saya tebak, dirinya pasti di setiap kesempatan, selalu berdoa memohon ampunan kepada Tuhan YME.

Setiap langkah tegas yang diambil jajaran polisi ini sendiri, saya yakin bukan kesewenang-wenangan. Tapi lebih langkah terakhir karena tidak ada “pilihan”. Dan yang namanya langkah terakhir, dalam hal apapun dia diambil dengan penuh rasa terpaksaan dan penyesalan.

Jadi sekarang tergantung kita semua, bagaimana menempatkan posisi menilainya. Tidak ada kata salah atau benar. Dia hanya bisa dinilai dengan suara hati masing-masing. Untuk itu, yang pasti saya hanya bisa berdoa untuk “Sang Jenderal”. Semoga selalu mendapat hidayah dalam menjalankan tugas. Sebab bagaimanapun, andaikan benar saja di setiap mengambil tindakan, belum tentu beliau mendapat pujian. Apalagi jika yang terjadi adalah kekhilafan.(wassalam)