Lagi, Peningkatan Draktis Harta Kekayaan Bupati Tuba Hj. Winarti Dikritisi

TULANGBAWANG – Ketua Forum Rakyat Tulang Bawang (Fortuba), Andika ikut mengkritisi adanya dugaan peningkatan draktis terhadap harta kekayaan milik Bupati Tulang Bawang (Tuba) Hj. Winarti. Padahal Winarti belum lama menjabat sebagai bupati.

“Tentu menjadi pertanyaan masyarakat Tuba. Belum dua tahun menjabat bupati sudah punya rumah mewah yang ditaksir seharga Rp. 20 miliar. Tentu perlu di tanya dari mana sumber dana pembangunan rumah itu. Karena dia merupakan pejabat publik,” kata Andika, belum lama ini sebagaimana dilansir website Ring1.ID.

Menurut andika, secara logika Winarti baru saja mengeluarkan dana yang cukup besar saat pencalonan dan kampanye saat pilkada Bupati Tuba tahun 2017. Sehingga secara nalar pasti harta kekayaan berkurang.

Andika menyarankan agar ada transparansi, sebaliknya KPK dan aparat penegak hukum lain bisa menelusuri dari mana sumber dana membangun rumah mewah itu. Sehingga, publik tahu bahwa Winarti membangun rumah mewahnya dengan dana legal.

“KPK bisa meminta Winarti melaporkan LHKPN-nya lagi, karena LHKPN yang terahir dilaporkan tahun 2016. Dari LHKPN yang baru dan LHKPN yang lama nantinya dibandingkan ada peningkatan berapa harta kekayaannya dan dari mana saja sumbernya,” ujar dia.

“Namun kini hartanya malah bertambah. Karena dalam LHKPN tahun 2016, kan harta Winarti tercatat hanya sekitar Rp.7 Miliar lebih. Setelah jadi bupati hartanya yang terlihat kasat mata saja naik hingga Rp. 20 miliar melalui rumah mewahnya. Belum lagi kendaraan pribadinya,” ungkap Andika.

Apalagi, lanjut dia, selama ini Winarti belum pernah memberikan klarifikasi terkait kendaraan dan rumah mewah yang baru dibangun olehnya. Sehingga masyarakat bertanya-tanya. Padahal klarifikasi penting agar tak terjadi kesalah pahaman.

“Kalau tidak ada tanggapan bersangkutan, kan bisa saja muncul tudingan dugaan terima gratifikasi, hadiah atau hal lainnya. Maka harus ada penjelasan karena dia merupakan pejabat publik,’ imbuhnya.

Sebelumnya tokoh masyarakat yang juga mantan Wakil Bupati Tuba,  AA. Syopandi juga berharap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI merespon dugaan praktek Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) di Kabupaten Tuba. Caranya melakukan serangkaian penyelidikan dan penyidikan. Bahkan mengambil langkah tegas menggelar Operasi Tangkap Tangan (OTT) seperti yang kerap dilakukan KPK.

“Seperti yang sudah pernah saya sampaikan, saya menyorot dugaan penambahan kekayaan oleh Bupati Tuba Winarti. Karenanya perlu langkah cepat KPK merespon seperti menggelar OTT dan lainnya,” tegas AA. Syopandi, Jumat (10/5) lalu.

Menurut AA. Syofandi, kini Winarti diduga memiliki rumah baru seharga Rp20 miliar. Rinciannya harga tanahnya bisa mencapai Rp5 miliar. Belum lagi bangunan rumah yang hasil intervieu pihaknya mencapai kurang lebih Rp15 miliar. Dari keterangan yang didapat, granitnya saja dari luar negeri. Belum lagi tukangnya yang berasal dari Bandung. “Coba sekali-kali foto. Biar masyarakat semua tahu,” himbau AA. Syopandi.

Yang perlu dicermati ujar AA. Syopandi adalah laporan harta kekayaan penyelenggara negara (LHKPN) Winarti per 21 September 2016 yang mencapai Rp7.697.096.858 saat masih menjadi Ketua DPRD Tuba. Sementara Winarti dilantik sebagai bupati Tuba, Senin (18/12/2017).

“Pertanyaan darimana perolehan tambahan harta itu. Ini yang harus dicros-cek KPK dan dijawab Winarti. Selain itu, masyarakat juga harus berani bersikap kritis,” pungkasnya.

“Silahkan dikaji berdasarkan logika dan azas kewajaran atas sumber kekayaan Winarti yang menjabat bupati. Tapi, telah berhasil membangun rumah mewah di Jalan Mawar Indah No. 20, Labuhan Dalam, Kota Bandarlampung yang ditaksir memakan biaya milyaran rupiah. Selain itu yang bersangkutan juga diketahui memiliki 2 unit mobil mewah usai menang Pilkada 2017 lalu. Dari mana duit itu, wajar saja yang bertanya, lihat saja dari LHKPN-nya” terang Syofandi.

Menurut Syofandi, sikapnya ini bukan merupakan fitnah atau tanpa fakta. “Coba berpikir jernih. Saat kampanye Cabup pada Pilkada 2017 lalu, Winarti berhutang dana kesalahsatu mantan bupati sebesar Rp500 juta. Tak berselang lama saat Pilkada dia menang dan terpilih menjadi bupati,” imbuh Syofandi.

Tapi sambung Syofandi, hanya hitungan hari usai terpilih jadi bupati usai digelar Pilkada Tuba 2017, tepatnya saat acara syukuran potong tumpeng, datang 2 unit mobil mewah Alphard dan Rubicon. “Ini luar biasa. Duit dari mana kalau dia (Winarti,red) mengaku membeli. Apakah dapat uang dari warisan uang tabungan. Lalu, kenapa harus repot berhutang ke mantan bupati meski saat ini pun hutangnya sudah dibayar, kan duit juga itu buat membayar, belum lagi dalam tempo singkat kembali membangun rumah mewah menghabiskan dana milyar, jadi wajar kalau masyarakat bertanya – tanya,” tuturnya panjang lebar.

Merespon cuitan AA. Syopandi ini, DPRD Tuba beraksi. “Bila memang beliau (AA. Syopandi,red) akan melaporkan Winarti ke KPK, kami dari DPRD siap mensupport dan mengawal bahkan mendampinginya,” terang Wakil Ketua Fraksi Keadilan Nurani Rakyat DPRD Tuba, Mustafa Kamal, S.E, Senin (6/5).

Menurut Mustafa Kamal, hal ini penting agar informasi yang disampaikan AA. Syopandi tidak menjadi “liar”. Bahkan dimanfaatkan pihak tertentu untuk mendiskriditkan kinerja Winarti sebagai Bupati Tuba.

“KPK merupakan salahsatu institusi yang sangat dipercaya masyarakat. Jika memang, AA. Syopandi melihat kejanggalan misalnya ada dugaan KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme) silakan melapor ke KPK atau aparat penegak hukum lain seperti kejaksaan dan kepolisian. Kami dari dewan siap mendampingi, sehingga permasalahan ini menjadi jelas dan tidak simpang siur serta dapat menjadi fitnah,” tandasnya lagi.

Hal senada ditegaskan anggota DPRD Tuba dari Fraksi PDI-Perjuangan, Ketut Anom. “Namun yang saya harapkan bukan hanya Bupati Tuba Winarti yang diadukan. Tapi semuanya pejabat juga. Termasuk wakil bupati serta Pimpinan DPRD dan Sekretariat Dewan. Biar semua buka-bukaan,” tegasnya.

Seperti diketahui tokoh masyarakat Lampung, M. Alzier Dianis Thabranie juga mendukung sikap kritis AA. Syofandi. Terutama terkait kinerja Bupati Tuba, Hj. Winarti.

“Saya pun menilai Winarti sudah tidak pantas memimpin Kabupaten Tulang Bawang. Manajemen kepemimpinannya lemah. Selain itu keberpihakannya terhadap masyarakat kecil, patut dipertanyakan. Misalnya soal kebijakannya yang lebih cenderung menguntungkan kalangan pengusaha besar daripada kepentingan masyarakat kecil,” tutur Alzier.

Karenanya lanjut Alzier, memang sudah sepantasnya masyarakat Tuba bersikap kritis. Pasalnya sudah saatnya setiap kepala daerah harus membuka diri. Mulai kini, tidak boleh lagi berpikir hanya untuk kepentingan diri sendiri. Tapi harus lebih mengutamakan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.

“Apalagi kita tahulah Winarti itu siapa. Jadi kalau ada protes atau sikap kritis dari AA. Syopandi yang mempertanyakan asal muasal harta kekayaan Winarti, ya itu wajar-wajar saja. Dan harusnya sudah menjadi kewajiban Winarti menjelaskan dan mengklarifikasi. Jika memang benar, untuk apa takut,” himbau Alzier.(red)