Orasi Ilmiah : Dr. Budiyono, SH, MH
Musyawarah Wilayah IV KAHMI Provinsi Lampung
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Para senior yang saya takzimi, para Guru Besar yang hadir. Para pengurus Wilayah KAHMI Provinsi Lampung periode sebelumnya yang telah mewakafkan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk menjaga marwah organisasi ini. Dan saya banggakan seluruh pengurus Daerah Kahmi di seluruh kab/kota se-Provinsi Lampung. Serta seluruh saudara-saudariku kandungku dalam rahim hijau-hitam, kanda dan yunda, para insan cita yang hadir pada hari ini.
Sebelum saya melangkah lebih jauh dalam pemaparan gagasan yang saya beri judul Rekonseptualisasi Peran Cendekia: “Menuju Kahmi Lampung yang Berdaya Dan Bermartabat” ini, izinkan saya mengajak kita semua untuk berpikir sejenak sebagai bentuk penghormatan tertinggi.
Muswil ke-IV ini bukanlah sekadar ritual organisasi atau pergantian struktur kepengurusan di atas kertas. Muswil ini adalah sebuah estafet peradaban.
Kepada para pengurus periode lalu, terima kasih sedalam-dalamnya telah menjaga api organisasi ini tetap menyala di tengah badai zaman. Tanpa pondasi kokoh yang kalian bangun dengan peluh, mustahil kita bisa berdiri setegak hari ini untuk menatap masa depan.
(Candaan Ringan) : Saya melihat wajah-wajah di depan saya ini adalah wajah penuh gagasan besar, meski saya juga menangkap ada gurat-gurat “kurang kopi” karena begadang menyiapkan draf rekomendasi yang berjilid-jilid. Tapi tenang di KAHMI, termasuk sekeras apa pun biasanya akan mereda saat aroma kopi Lampung menyeruak, dan benar-benar selesai kalau pindangnya sudah keluar bukan? Itulah indahnya kita; kita mampu berdebat dengan dalil, namun selalu mampu berdamai dengan selera.
Saudara-saudaraku sekalian, sebagai seorang akademisi yang menghabiskan waktu di ruang-ruang kuliah dan tumpukan literatur, saya seringkali dihadapkan pada pertanyaan yang sangat eksistensial sekaligus menampar: “Pak Bud, apa maksud teori hukum yang canggih dan gelar doktor yang mentereng kalau harga singkong di Lampung masih fluktuatif, kemiskinan masih membayangi petani kita, dan angka putus sekolah masih menjadi berita rutin?”
Pertanyaan ini adalah kritik pedas bagi kita semua. KAHMI adalah perkumpulan para intelektual, kumpulan orang-orang yang diberikan anugerah ilmu pengetahuan. Namun, secara sosiologis, kita harus bertanya dengan jujur: apakah ilmu kita selama ini hanya terjebak dalam “Menara Gading”? Sebuah menara yang memikat dengan dirinya sendiri, tinggi menjulang secara teoritis, namun akarnya tidak menyentuh bumi kenyataan.
Kita harus berani melakukan refleksi sosiologis yang mendalam. Apakah KAHMI selama ini sudah benar-benar menjadi lokomotif perubahan bagi masyarakat Lampung, atau jangan-jangan kita hanya menjadi “paguyuban nostalgia”? Kita
seringkali terlalu bangga dengan romantisme masa lalu di sekretariat HMI yang kumuh namun penuh diskusi berbobot. Tapi hari ini, di hadapan mata kita, dunia telah berubah. Kita berada di era Kecerdasan Buatan , disrupsi global, dan volatilitas ekonomi yang tak terduga. Pertanyaannya: Apakah diksi perjuangan kita masih relevan dengan denyut nadi masyarakat hari ini?
Dalam perspektif hukum yang saya geluti, hukum bukan sekadar deretan pasal kaku dalam lembaran negara. Hukum adalah instrumen keadilan sosial (Social Engineering). Hukum hasil dari pertarungan gagasan dan kepentingan. Begitu juga dengan KAHMI. KAHMI harus menjadi “Hukum yang Hidup” di tengah masyarakat.
Jika ketimpangan sosial masih kasat mata di Lampung, maka intelektualitas KAHMI tidak boleh diam. Kita harus hadir memberikan solusi teoritis, teknis dan taktis, bukan sekadar menjadi penambah hiruk-pikuk masalah di media sosial tanpa substansi.
Para hadirin yang saya hormati.
Lalu, di tengah kerumitan ini, ke mana KAHMI Lampung akan melangkah? Saya menawarkan sebuah paradigma baru yang saya sebut sebagai Hilirisasi Intelektual KAHMI. Sebuah konsep di mana pengetahuan tidak boleh berhenti di kepala, tetapi harus “dihilirkan” menjadi manfaat nyata bagi masyarakat Lampung.
Pertama: KAHMI sebagai “Think-Tank” Kebijakan Publik.
Provinsi Lampung memiliki kekayaan geostrategis yang luar biasa. Kita adalah lumbung pangan nasional, pintu gerbang utama Pulau Sumatera, dan memiliki potensi pariwisata yang dahsyat. Namun, potensi ini tidak akan menjadi kesejahteraan tanpa kebijakan yang berbasis sains (Science- based Policy). KAHMI harus mampu menerjemahkan data mentah menjadi rekomendasi kebijakan. Kita memerlukan pusat studi internal yang kredibel, yang mampu memberikan masukan tujuan kepada pemerintah daerah. Kita berbicara dengan data, kita mengkritik dengan metodologi,
dan kita menawarkan solusi yang terukur. KAHMI harus menjadi navigasi intelektual bagi pembangunan Lampung.
Kedua: Penguatan Ekosistem Kewirausahaan dan Ekonomi Kader.
Secara historis, kita mahir mencetak birokrat unggul dan politisi ulung. Namun, untuk menjadi bangsa yang berdaulat, kita memerlukan kemandirian ekonomi. Saya bermimpi KAHMI Lampung menjadi inkubator bagi para pengusaha muda alumni HMI.
Kita harus menjembatani antara intelektualitas akademis dengan profesionalisme bisnis. Bayangkan jika riset-riset kampus tentang teknologi pertanian dari kader KAHMI dikawinkan dengan modal dan jaringan usaha yang juga dimiliki oleh alumni KAHMI. Sinergi inilah yang akan menciptakan lapangan kerja dan memutus rantai kemiskinan di daerah kita.
Ketiga: Digitalisasi Organisasi dan Modernisasi Database.
(Humor) : Lucu rasanya jika kita berteriak lantang tentang Revolusi Industri 4.0 di atas podium, tapi untuk urusan daftar hadir Muswil saja kita masih rebutan pulpen yang tintanya habis atau sibuk mencari kertas yang terselip.
KAHMI Lampung harus bertransformasi secara digital. Kita membutuhkan sistem basis data alumni yang terintegrasi dan presisi. Kita harus mengetahuinya secara real-time : siapa kita, di mana kita berada, dan keahlian apa yang spesifik kita. Dengan digitalisasi, kolaborasi antar alumni bukan lagi sekedar kebetulan di acara seremoni, melainkan sebuah orkestrasi yang sistematis dan efisien.
Saudara-saudaraku yang saya muliakan, Kepemimpinan di masa depan bukan lagi soal siapa yang paling dominan atau siapa yang paling kuat semata. Kepemimpinan masa depan adalah soal “Kepemimpinan Kolaboratif” —siapa yang paling mampu merangkul berbagai potensi dan menyatukannya menjadi kekuatan kolektif.
Kehadiran tokoh-tokoh akademisi dalam pimpinan organisasi tidak boleh membuat KAHMI menjadi kaku seperti ruang kelas yang membosankan. Sebaliknya, pendekatan akademis diperlukan untuk memastikan bahwa setiap langkah organisasi, setiap pernyataan sikap, dan setiap kebijakan yang diambil memiliki landasan etika yang kuat dan metodologi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dunia kampus dan dunia organisasi adalah dua sisi dari satu mata uang yang sama bernama Pengabdian. Di manapun kaki kita berpijak entah itu di dinginnya ruang birokrasi, di hangatnya kursi parlemen, di tengah riuhnya pasar, atau di sunyinya ruang penelitian kampus ruh hijau-hitam tidak boleh luntur. Nilai-nilai Dasar Perjuangan (NDP) harus tetap menjadi kompas moral kita dalam mengambil setiap keputusan sulit.
(Candaan) : Maka dari itu, jika nanti ada alumni HMI yang diberi amanah menjadi pejabat tapi tiba-tiba “amnesia” terhadap sesama kader atau alumni, apalagi lupa pada rakyat, mungkin itu tandanya dia perlu dipanggil untuk Latihan Kader (LK) ulang. Atau minimal, baca kembali bab tentang Kemanusiaan dalam NDP agar jati dirinya yang hilang segera ditemukan kembali.
Sebagai penutup orasi ini, izinkan saya mengutip sebuah mutiara hikmah: “Ilmu tanpa amal adalah kegilaan, dan amal tanpa ilmu adalah kesia-siaan.”
Muswil IV KAHMI Lampung ini adalah momentum emas bagi kita untuk menyatukan kembali antara kedalaman ilmu dan keberanian amal. Saya mengajak seluruh elemen KAHMI Lampung: mari kita jadikan organisasi ini sebagai mercusuar pemikiran di Tanah Lampung.
Mari kita buktikan kepada dunia luar bahwa alumni HMI adalah sosok Insan Cita sejati; sosok yang tidak hanya pandai berwacana di forum-forum diskusi, tapi juga sosok yang tangkas, cerdas, dan tuntas dalam bekerja nyata bagi kemaslahatan umat.
Terima kasih kepada para senior atas bimbingannya yang tak putus asa. Terima kasih kepada panitia yang telah bekerja melampaui batas lelah. Mari kita jalani musyawarah ini dengan hati yang riang gembira, dengan semangat persaudaraan yang melampaui segala kepentingan politik pada saat itu. Karena di atas segalanya, kita adalah saudara.
KAHMI Lampung: Berdaya, Bersinergi, Bermartabat!
Billahitaufiq Wal Hidayah, Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.



















