Debat Kedua Cagub Masih Miskin Program Brilian

//Giliran Herman HN Jadi Gunjingan//

BANDARLAMPUNG – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Lampung kembali menggelar debat kandidat kedua untuk pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Lampung yang akan bertarung pada Pilkada 2018 mendatang.  Acara debat yang dihelat di Hotel Novotel, Sabtu (28/4) malam itu nyaris sama dengan acara serupa yang dihelat beberapa  pekan lalu.

Faktanya, para Paslon lebih berkutat pada program umum yang sebenarnya sudah merupakan kepanjangan tangan pemerintah pusat. Seperti misalnya infrastruktur, pertanian, pendidikan dan reformasi birokrasi. Tak ada calon yang benar-benar memiliki program brilian. Misalnya, bagaimana mengentaskan kemiskinan atau meningkatkan perekonomian masyarakat di tengah kurs dollar yang semakin melambung.

Mirisnya lagi, para calon lebih pada aksi saling sindir. Lihat saat pasangan nomor urut dua, Herman HN-Sutono menyindir pasangan nomor urut satu, Ridho Ficardo-Bachtiar Basri. Sindiran itu dikatakan Herman saat menjawab pertanyaan seputar pelayanan terhadap penyandang disabilitas (keterbatasan fisik).

“Kalau Pemerintah Kota Bandarlampung, kami sangat peka melayani mereka para disabilitas, tidak seperti di Provinsi,” kata Herman.

Coba lihat, lanjut Herman, di gedung pelayanan satu atap Pemerintah Kota Bandarlampung dan di Kantor Pemerintah Kota Bandarlampung, kita telah buatkan jalur khusus penyandang disabilitas.

“Sekarang lihat di Pemprov Lampung, ada atau tidak? Tidak ada. Di Pemprov Lampung tidak ada jalur khusus disabilitas,” ucap Herman.

Harusnya, lanjut dia, pelayanan publik seperti di Samsat juga sudah ada jalur khusus penyandang disabilitas. “Tapi mana, tidak ada kan di Samsat. Samsat saat ini juga terlalu ribet. Muter-muter pengurusan segala berkas,” ungkapnya.

Sementara Ridho membalas ucapan Herman HN dengan menyindir pecahnya kaca Gedung Pelayanan Satu Atap Pemkot Bandar Lampung, 19 April lalu.

Kata Ridho, pihaknya akan menerapkan satu pintu terkait pelayanan publik bidang perizinan dan pengurusan dokumen kependudukan. “Perizinan satu pintu, berjalan lancar tanpa ada jendela yang pecah,” kata Ridho.

Giliran Herman yang Kena

Seperti debat perdana, debat kedua ini juga menyajikan pertanyaan yang harus dijawab dengan cepat oleh para calon (quick  respons). Bedanya, jika debat perdana, calon nomor urut 3, Arinal Djunaidi yang jadi bahan tertawaan karena ‘gelagapan’ saat ditanya e commerce, debat kedua ini justru cagub nomor urut 2, Herman HN yang sering selip lidah.

Hal tersebut dikarenakan, jawaban cagub yang diusung Partai PDI-P pada segmen Respon Cepat (Quick Respon) dianggap banyak yang tidak masuk akal.

Diantaranya, ketika ditanya Moderator Debat Publik Pilgub Lampung 2018 Putaran Ke-II, Budi Susanto Budiman, dengan pertanyaan “Disabilitas?” Calon yang diusung partai PDI-P itu menjawab “Kendaraan”.

Mendengar jawaban yang dilontarkan Walikota Bandar Lampung (non aktif) itu, sontak ruangan dipenuhi tawa publik yang menyaksikan langsung acara tersebut.

“Masa ditanya disabilitas jawabnya kendaraan, nggak nyambung,” cetus salah satu pendukung paslon.

Selain itu, pertanyaan ke empat dari moderator “Revormasi atau Revolusi?” yang harusnya dipilih salah satu, dijawab Herman HN dengan “Kecepatan Pelayanan”.

Diketahui, segmen Respon Cepat (Quick Respons) digagas pihak penyelenggara untuk menguji ketangkasan para Paslon.

Pada segmen ini, para Paslon diharuskan menjawab empat pertanyaan yang sudah disiapkan di dalam amplop bersegel. Pertanyaan tersebut, tiga harus dijawab dengan cepat, satu jawab pilihan. Masing-masing paslon diberikan durasi 30 detik. (net)