JAKARTA – PBNU dikabarkan akan menggelar rapat pleno, hari ini, Kamis (29/1/2026). Surat undangan diteken langsung Rais Aam KH Miftachul Akhyar.
Undangan tertanggal 28 Januari 2026 itu, mengajak PBNU untuk mengikuti pleno yang digelar di Kantor PBNU Kramat Raya, pukul 16.00 sampai dengan selesai.
“Kalau pemimpin tertinggi (PBNU) sudah mengambil keputusan seperti itu, apa pun alasan yang melatar belakanginya, ya harus diterima. Suka atau tidak suka, benar atau tidak benar. Kita harus taat asas. Ini organisasi, jangan maunya sendiri,” tegas seorang sumber dilansir duta.co.
Kabar terbaru KH Yahya Cholil Staquf konon sudah sowan ke Rais Aam di Surabaya. Intinya Harlah 100 tahun NU di Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta jangan sampai gagal.
“Sementara Rais Aam merasa dicatut namanya. Maka, ketika tahu jelang acara, beliau memberikan syarat, bahwa pleno harus dilaksanakan terlebih dahulu. Pun undangan harus diteken empat orang, jajaran syuriyah dan tanfidziyah. Di situ sekaligus mengembalikan posisi Gus Ipul (H Saifullah Yusuf) sebagai Sekjend PBNU,” terang sumber tersebut.
Nah, dalam pleno nanti akan ada legalisasi baru, bisa jadi membatalkan (menasakh) keputusan Rapat Pleno sebelumnya dengan mengembalikan posisi Ketum PBNU kepada Gus Yahya, misalnya. Sementara jabatan Sekjend harus kembali ke Gus Ipul.
“Bisa saja Pj Ketum PBNU KH. Zulfa Mustofa mundur. Karena alasan yang paling rasional dan legal serta elegan adalah bila Pj Ketum PBNU mengundurkan diri atau menyerahkan mandatnya kepada Rais Aam PBNU. Sehingga Rais Aam punya alasan untuk mengisi kekosongan jabatan Ketua Umum PBNU perlu dilakukan rapat pleno,” tebak Drs Abdul Kholiq, warga NU Jombang.
Dan, lanjutnya, tampaknya alasan itulah salah satu yang akan digunakan oleh Rais Aam, bahwa Pj Ketum PBNU KH. Zulfa Mustofa telah menyerahkan mandatnya kepada Rais Aam PBNU. “Ini organisasi kang. Bukan kumpulan arisan,” pungkasnya. (mky)


















