Selamat jalan Prof. Abdulkadir Muhammad, Terima Kasih atas Semuanya

SEBENARNYA tulisan ini ingin saya buat beberapa hari lalu seiring adanya kiriman foto yang mengabarkan tentang kondisi Prof. Abdulkadir Muhammad di ponsel saya. Waktu itu, saya ingin mengajak teman-teman terdekat sekedar merenung mendoakan kondisi beliau yang terbaring sakit.

Namun entah mengapa, ada saja halangan. Mulai dari ide yang belum terlintas. Lalu ada kesibukan mencari dan menggali isu pemberitaan pilkada serentak. Serta “bersilaturahmi”  menggugah beberapa sahabat saya agar bisa menjadi “sponsor” hingga koran ini tetap bisa terbit.

Dan kini saya harus menyesal. Belum lagi sempat mengajak teman-teman untuk berdoa kesembuhan beliau, hari ini Rabu, 14 Februari 2018, kabar duka itu keburu datang. Lewat beberapa grup yang saya ikut bergabung tertulis pesan Prof. Abdulkadir Muhammad telah meninggal dunia.

Jujur saya memiliki beberapa kenangan dengan sang GURU BESAR. Tepatnya saat mengenyam ilmu di Fakultas Hukum (FH) Universitas Lampung (Unila) 22 tahun silam. Dan jika tidak karena “kedewasaan dan kearifan” nya sudah dipastikan tidak ada embel gelar S.H. dinama saya.

Berawal dari saya mengambil salahsatu mata kuliah yang almarhum ajarkan. Karena kenakalan dan rasa malas, pernah suatu saat saya memalsukan tugas mata kuliah milik teman dan mengganti dengan nama saya. Caranya men-tipp-ex nama teman tersebut dan diganti dengan tulisan nama saya.

Karena belum pengalaman berbohong, langkah konyol ini langsung terdeteksi. Ini menyusul pengaduan sang teman tadi yang merasa sudah mengumpulkan tugas, tapi tidak mendapat nilai. Spontan saat itu juga tugas yang sudah dinilai dan keburu dibagikan dikumpulkan diperiksa kembali.

Apes dan sialnya, berkat sorot tajam mata beliau, saya tertangkap basah. Saat itu juga saya langsung diminta menghadap keruangannya. Banyak sekali nasehat dan “ocehan” yang mendengung ditelinga saya waktu itu. Karena merasa salah, saya hanya diam menunggu nasib.

Manisnya, meski sangat marah beliau masih memberikan kesempatan saya “bertaubat”. Caranya dengan membuat SURAT PERNYATAAN tiga rangkap bermaterai yang tembusannya harus disampaikan ke REKTOR UNILA dan DEKAN FH UNILA. Ya sudahlah saya jalani.

Hari-hari berikutnya, sosok saya selalu menjadi perhatian. Apapun gerak-gerik saya saat menempuh kuliah mata pelajaran yang diasuhnya selalu menjadi perhatian. Saya merasa seperti pesakitan.

Alhamdulillah, perlakuan ini menimbulkan sosok diri saya yang lain. Waktu itu saya sangat fokus belajar khusus mata kuliahnya. Saya tunjukan dan buktikan, bahwa saya bukan keledai yang bisa jatuh dilubang sama. Hasilnya secara sportif, beliau menuliskan nilai Predikat SANGAT MEMUASKAN di beberapa mata kuliah yang diajarkan.

Sikap sportif ini yang terus saya ingat. Beliau tidak dendam. Malah memiliki keyakinan bahwa sosok saya yang buruk sebenarnya masih bisa dibina menjadi baik bila diberikan kesempatan. Suatu tauladan yang kini jarang saya dapati. Dimana kini banyak yang sangat mudah menuduh dan melabeli saya seperti SETAN. Tanpa berusaha dan mencoba memahami ke diri saya untuk menyadari kesesatannya.

Selamat jalan Prof. Terimakasih atas semuanya. Semoga Allah SWT selalu menerima semua amal ibadah yang telah Prof berikan kepada saya khususnya. Tak lupa juga saya memohon agar Prof dapat diampuni segala dosa dan khilaf serta ditempatkan ditempat yang layak disisi-NYA”.. Amien…(wassalam)