Dilema Guru, Kita yang Harusnya Bijak

UNTUK kesekian kali saya harus menulis nasib guru. Kali ini soal peristiwa yang menimpa Astri Tampi (57). Kepala Sekolah SMP Negeri 4 Lolak, Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara itu harus dilarikan ke rumah sakit akibat mengalami luka serius di bagian tangan, wajah dan kepala lantaran dianiaya orangtua muridnya sendiri.

Peristiwa berawal saat Astri, memanggil pelaku dan anaknya. Saat sedang membina dan memberi surat pernyataan untuk ditandatangani, ternyata pelaku marah dan lantas menendang meja kaca di depannya. Akibatnya pecahan kaca melukai tangan kanan korban. Tidak berhenti di situ, pelaku juga mengayunkan meja kaca ke arah kepala Astri sehingga korban luka serius di wajah dan memar.

Lalu mengapa ini semua bisa terjadi ? Tepatkah aksi pelaku yang berbuat tersebut dengan alasan membela dan sangat “menyayangi” anaknya? Lagi-lagi saya tidak berani menyimpulkan lantaran tak memiliki kemampuan akademik untuk menelaahnya.

Tapi saya hanya ingin sumbang-saran untuk kita semua, sesama orang tua. Bahwa mencintai anak itu harus benar-benar ditakar kadarnya. Harus pas ukurannya. Tidak boleh kurang. Tapi juga tidak boleh lebih karena akan sangat “berbahaya”.

Melihat anak dimarahi guru karena berbuat kekeliruan, mungkin sangat menyakitkan hati kita. Namun akan lebih sakit, jika sang anak nantinya tak ada yang menegur agar segera menyadari kekeliruannya.

Jadi jangan coba sekali-kali kita membelanya, yang justru malah dapat menjerumuskan sikap kepribadiannya kelak.

Atas nama cinta-kasih, kita bisa memberikan anak sepeda motor hingga mobil. Menyangoni uang jajan yang lebih dari cukup.

Tapi kita lupa ini bisa menjadi “racun” dikemudian hari. Anak menjadi manja dan dapat kehilangan rasa empati karena semua selalu ada.

Dan akan lebih miris jika tiba-tiba karena itu semua, suatu hari kelak kita mendapati mereka dalam keadaan terbujur kaku. Tewas karena overdosis mengonsumsi narkoba atau terlibat kecelakaan lalu lintas.

Ini semua terjadi karena sang anak tidak pernah belajar yang namanya “penderitaan”. Dia tidak diajarkan proses bagaimana merasakan apa yang disebut meraih kemenangan. Padahal ini merupakan investasi awal guna menghadapi kerasnya kehidupan.

Akhir kata, ikan di kolam saja bisa mati kekenyangan lantaran terlalu disayang dengan cara terus-menerus menaburi makanan dikolam.(wassalam)