Politik Sandiwara Pilgub Lampung

MENCERMATI dinamika perpolitikan khususnya ajang Pemilihan Gubernur (Pilgub) Lampung, benar-benar membuat kita sesak napas. Terutama bagi para kandidat atau setidaknya para tim sukses. Bagaimana tidak keputusan parpol dalam mengusung calon yang diusung sangat dinamis, bahkan terkadang memakai “tangan besi”.

Berawal dari DPD Partai Golkar Provinsi Lampung. Meski dituding melanggar aturan internal, partai berlambang pohon beringin tersebut tetap mengusung sosok Arinal Djunaidi sebagai cagub. Bisa ditebak. Keputusan ini memakan korban bagi mereka yang berseberangan. Ambil contoh Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar Provinsi Lampung, M. Alzier Dianis Thabranie serta Wakil Ketua DPD Partai Golkar Lampung, Indra Karyadi beserta puluhan kader potensial lainnya diusulkan “dipecat” dari kepengurusan.

Lalu beralih ke PDI-Perjuangan. Para kader Partai berlambang Kepala Banteng moncong putih inipun bereaksi saat DPP menunjuk Sudin sebagai Ketua DPD PDI-P Lampung. Santer terdengar penetapan Sudin juga dinilai melanggar aturan internal partai. Namun demi mengamankan kebijakan terkait rekomendasi cagub maka ditunjuklah anggota DPR-RI ini. Sudin menyingkirkan tokoh sekelas Mukhlis Basri yang sebelumnya digadang-gadang arus bawah untuk menjadi ketua DPD PDI-P Lampung. Dan lagi-lagi kebijakan ini pun memakan korban. Ada kader potensial seperti Syafariah Widianti (Atu Ayi) yang memilih mundur dari kepengurusan.

Kemudian PAN. Lagi-lagi politik tangan besi juga terlihat di Partai berlambang Matahari Terbit. Demi memuluskan rekomendasi cagub terhadap Arinal Djunaidi, Ketua DPW PAN Lampung Bachtiar Basri harus di “kudeta” dari singgasananya. Dia digantikan Zainudin Hasan yang tak lain adik kandung Ketua Umum DPP PAN, Zulkifli Hasan melalui musyawarah wilayah luar biasa. Bahkan karena luar biasanya, semuanya berjalan serba kilat.

Ada lagi PKB. Meski arus bawah secara tegas mendukung Mustafa sebagai cagub, namun aspirasi ini tak digubris. DPP PKB malah mengusung tokoh yang diisukan santer didukung perusahaan kakap, PT. Sugar Group Companies, Arinal Djunaidi sebagai cagub. Akibatnya dapat diprediksi suara kaum NU yang merupakan basis pemilih tradisional PKB dipastikan tercerai berai.

Selanjutnya Partai Gerindra. Meski Ketuanya Gunadi Ibrahim lewat organisasi KAHMI secara tegas menolak cagub yang merupakan boneka “korporasi”, tapi tetap saja tidak berdaya. Ketua Umum DPP Partai Gerindra, Prabowo Subianto justru menjagokan dan mengeluarkan Arinal Djunaidi sebagai cagub, meski sosoknya dituding merupakan calon titipan korporasi.

Terakhir Partai Hanura. Ada yang aneh dengan partai ini. Meski hanya merupakan minoritas dan hanya mempunyai dua kursi, namun Partai binaan Menko Polhukam Wiranto ini seolah-olah mempunyai posisi tawar yang tinggi. Terbukti dalam mengeluarkan rekomendasi, tidak hanya untuk Cagub Mustafa. Tapi juga sekaligus Helmi Hasan sebagai cawagubnya. Padahal Helmi Hasan juga diketahui merupakan adik kandung Zulkifli Hasan, Ketua Umum DPP PAN yang sebelumnya menyatakan dan mendeklarasikan dukungan terhadap Cagub Arinal Djunaidi.

Jujur saya tidak bisa memprediksi apakah sikap Partai Hanura ini sebenarnya merupakan penolakan halus terhadap sosok Mustafa atau tidak.

Atau malah permainan Ketum PAN Zulkifli Hasan yang sebenarnya tidak serius mendukung Arinal Djunaidi dan diam-diam menyiapkan “dinastinya” di Lampung.

Karenanya kita tunggu saja detik-detik terakhir saat pendaftaran di Komisi Pemilihan Umum (KPU) beberapa bulan lagi. Yang pasti seiring adanya dinamika yang terjadi nantinya rakyat Lampung dapat menilai mana Partai yang menerapkan politik “Pura-Pura” dan penuh akal culas Kemunafikan. Atau mana parpol yang serius memperjuangkan idiologi.

Dan khusus untuk para kandidat yang digadang-gadang sebagai cagub, saya hanya dapat berdoa agar diberikan kekuatan dan kesehatan diatas rata-rata oleh Allah SWT. Sehingga tidak kaget dan terkena penyakit jantung andai keinginannya tidak sesuai dengan kenyataan. Serta tidak menjadikan sebagai beban pikiran, disaat menemui parpol yang dianggap sahabat namun ternyata justru menggunting dalam lipatan.(wassalam)