Pasien Bebas

oymedsosMeski baru terbit, saya mendapat laporan bahwa media ini menjadi “buah bibir” di berbagai kalangan. Dia jadi topik, isu dan “keributan” di media sosial (medsos) hingga menjadi bahan gunjingan ibu-ibu yang membeli sayuran. Ada yang mencaci tentunya dengan sebutan ini adalah “koran merah”. Namun ada pula yang memuji. Pokoknya sikapnya sangat-sangat beragam.

Saya pun merasa bersalah. Tidak ada maksud saya dan teman-teman menimbulkan kegaduhan. Saya hanya coba menempatkan posisi sebenarnya. Dimana bahwa informasi yang layak disampaikan, harus berani saya beritakan karena itu adalah hak pembaca untuk mengetahui, meskipun belum tentu nilai kebenarannya.

Tentu saya sangat tidak ingin isu yang ada makin melebar sehingga menimbulkan keresahan. Untuk itulah “kami” muncul. Masalah kebenaran, justru ini yang sangat dinantikan, agar siapapun yang menjadi topik pemberitaan, dia dapat tampil mengklarifikasi. Dia tidak boleh terus menghindar. Apalagi dia ini merupakan figur publik dan tokoh panutan. Dia harus berani mengungkap yang sebenarnya sehingga tidak menimbulkan sikap pro-kontra di masyarakat. Jadi tujuannya sederhana. Itu saja.

Sayangnya sikap saya ini oleh beberapa kalangan dianggap gila, tidak waras atau berseberangan. Ada pesan yang masuk kalau saya ini sudah gila. Berani bersikap berbeda, disaat orang lain atau media kebanyakan memilih “diam”. Dan yang menjadi penyesalan, terkadang penyampaian atau protes yang dilakukan kurang pas di hati saya.

Banggakah saya ?  Tidak. Saya tidak senang disebut gila dan saya harus klarifikasi bahwa saya tidak gila. Hasil psikotes saat di RS Jiwa Kurungan Nyawa beberapa tahun silam, nilai “kewarasan” saya di atas rata-rata orang lain yang mengikuti tes di hari yang sama. Bahkan masuk dalam kategori tertinggi.

Tapi ini tetap tidak menghibur hati saya. Saya pun coba merenungkan dan berinstropeksi sebenarnya apa yang telah terjadi. Saya sadar langkah saya “berbeda”. Ini bisa mengundang pandangan yang beragam. Bisa ada yang memusuhi. Tapi tak sedikit pula yang merestui.
Tapi sebenarnya secara nyata, apa yang kami sampaikan dalam perbedaan adalah kebenaran. Saya ingin menyebutnya “kegilaan yang waras”.

Karena substansinya waras, maka ada baiknya kita bersama bersikap “dewasa” membedahnya. Jika dimaknai “prasangka” maka dia akan “berkonotasi” negatif. Misalnya tuduhan jika ada yang “membayar” atau “mengongkosi” saya guna mempublikasikan masalah atau suatu berita. Ada isu-isu yang disampaikan jika saya telah di “upah” tokoh A, B, H, M, O atau tokoh A lainnya.

Dan dengan tegas saya harus membantah bahwa itu tidak benar. Saya hanya bisa berdoa agar mereka yang memiliki pikiran ini segera disadarkan dari kekhilafan. Saya tidak ingin berdebat atau menyalahkan. Karena mungkin saja sikap itu muncul lantaran yang bersangkutan belum mengenal dan memahami siapa saya.

Namun sebaliknya. Jika dimaknai dengan apa yang dinamakan “kedewasaan”, saya yakin apa yang saya sampaikan, dia bisa menjadi obat. Dan yang namanya obat, harus ditelan meski rasanya sangat pahit.

Sebenarnya bukan kepahitan yang harus dipersoalkan. Tapi solusi obat untuk mendapat kesembuhan, itu yang harus menjadi tujuan. Sehingga “penyakit” yang ada tidak melebar dan makin “menjadi-jadi”. Dan bila ini yang dipahami, saya yakin “pasien” nya akan tersenyum, memeluk, dan mengucapkan rasa terima-kasih yang tulus dan mendalam karena bisa terbebas dari “himpitan penyakit” dan derita panjang yang menyanderanya.

Dan anda boleh percaya atau tidak, “pasien” seperti ini sudah beberapa kali saya temui. Yang awalnya sangat membenci, namun akhirnya berbalik sangat menyayangi. Dan, biasanya setelah ini terjadi, giliran saya yang malah pergi seperti ditelan bumi.(wassalam)