Oposisi Sial

Bukhori MuzzammilBARU saja menerbitkan koran ini saya mendapat banyak istilah. Salahsatunya adalah “oposisi sial”. Apesnya istilah itu dilabeli ke saya yang kebetulan menjadi penanggungjawab media ini.

Awalnya, coba tidak saya tanggapi dengan terus bercanda dengan teman atau pun keluarga. Tapi ketika dalam suasana sendiri, istilah itu muncul lagi di pikiran saya. “Jangan sampai kamu menjadi oposisi sial….bla..bla..bla,” begitu pesannya yang masuk dalam ponsel saya.

Saya pun terpaksa berpikir. Positifnya, istilah itu saya anggap pesan yang baik untuk mengingatkan ataupun memberi saran. Tapi ada juga sedikit kesan negatif, meskipun selalu saya coba “membuangnya”, bahwa ini merupakan “peringatan”.

Selama hidup saya merasa tidak pernah sial. Istilah “kesialan” yang saya alami adalah ketika ibu kandung atau anak-anak saya menderita sakit. Saat itulah seluruh konsentrasi pikiran terpusat hingga air matapun kadang-kadang terjatuh melihat “penderitaan” yang mereka alami. Tapi itupun lagi-lagi saya syukuri. Karena disaat-saat demikian saya biasanya menjadi lebih “perasa”. Ingin selalu lebih dekat ataupun berbaik hati mengabulkan apapun keinginan permintaan mereka.

Jadi sebenarnya kesialan itu sebenarnya tidak pernah ada. Tuhan YME tidak pernah memberikan istilah itu kepada hamba-NYA. Rasa sial itu hanya muncul hanya ketika kita ingin merasakan dan memikirkannya. Tapi kalau kesialan dianggap suatu hikmah, maka itu bisa disebut keberuntungan. Dimana kesialan bisa menyadarkan kita dari kekhilafan.

Dengan demikian, saya berkesimpulan gelar oposisi sial, sebenarnya tidak bisa ditambatkan kepada saya ataupun siapapun. Apalagi jika gelar ini diberikan karena adanya ketidaksukaan ataupun perbedaan. Misalnya dalam mensikapi pemberitaan yang kami tonjolkan.

Sebab perbedaan suatu pandangan itu sudah ada dari zaman dahulu. Sikap itu diciptakan “sang pemilik” agar dunia menjadi indah dan beragam. Tapi perbedaan bukan tanpa ujung. Dia diberikan jalan diatasi dengan cara yang dikenal di masyarakat dengan sebutan “bermusyawarah”.

Jadi sekali lagi ini tergantung pada diri kita sendiri. Mau tidak menggunakan karunia Tuhan YME yang dinamakan hati nurani. Karena hati nurani pada hakekatnya tidak bisa dibohongi atau ditutupi dalam mensikapi suatu keadaan. Dia akan terus bergeliat, untuk menyatakan suatu kebenaran atau kesalahan. Tidak pernah abu-abu.

Kecuali hati nurani kita telah mati, tertutup kepentingan atau ambisi pribadi sehingga sanggup melawan suara hati. Dimana yang benar bisa disalahkan dan yang salah bisa dibenarkan. Dan “orang-orang” yang memiliki mental seperti ini tidak perlu ditanggapi. Karena kita bisa “sakit” sendiri.

Kecuali masalah yang diungkapkan adalah hal yang sangat menyangkut wilayah privasi. Misalnya masalah aqidah atau kehormatan anak, istri ataupun suami. Bila ini yang terjadi, selembut-lembut kita, setakut-takutnya kita harus dituntut “berani”. Sebab jika tidak, maka hilanglah apa yang disebut harga diri. Dan orang yang kehilangan harga diri, kadar karatnya sama dengan makhluk mati.

Selebihnya, kita pasrahkan saja kepada sang Illahi mengenai kemungkinan yang bakal terjadi. Kalau keyakinan ini yang ditunjukkan, maka apapun sebutannya, termasuk dikatakan oposisi sial, itu sebenarnya tidak pernah ada. Dia hanya dinilai ada oleh mereka yang tertipu melihat keadaan kita. Menilai kita menderita karena dianggapnya sial, padahal sebenarnya sangat-sangat bahagia.(wassalam)