FPI Vs Tempo

 

SAYA bukan simpatisan Front Pembela Islam (FPI). Bukan juga penggemar Imam Besar FPI, H. Muhammad Habieb Rizieq Shihab. Saya sekedar “kagum” dengan keberanian mereka. Disaat yang lain “terbuai”, mereka justru tampil “berbeda”. Itu saja, tidak lebih-tidak kurang. Suatu karakter yang juga coba saya selami.

Namun untuk peristiwa (kasus) dengan Majalah Tempo yang memuat publikasi karikatur “mirip” Habieb Rizieq, saya harus menyatakan majalah ini telah “offside”. Pemimpin Redaksi Majalah Tempo Arif Zulkifli tak bisa berdalih karikatur yang dipersoalkan FPI itu sebuah karya seni dan hasil kerja jurnalistik. Dimana Tempo menurutnya tak ada niat menghina ormas atau orang tertentu, termasuk Imam Besar FPI Habieb Rizieq lantaran gambar yang dipublikasi di majalah Tempo edisi 26 Februari-4 Maret 2018, bisa dimaknai beragam penafsiran.

Mengapa saya katakan “Offside” ? Karena dengan berdalih demikian, justru Majalah Tempo secara tidak langsung menegaskan adanya kekeliruan. Mengakui karikatur itu bisa menimbulkan beragam panafsiran, sama saja dengan Majalah Tempo menyatakan bahwa penafsiran yang dimaksud bisa juga berupa “keresahan”. Yang harusnya bisa dihindarkan.

Selain itu, tak bisa pula Majalah Tempo berlindung pada Undang-undang Pers. Dimana, seharusnya pihak yang keberatan bisa melapor ke Dewan Pers. Sehingga nanti Dewan Pers yang menilai dan mengambil keputusan apakah itu melanggar kode etik atau tidak.

Mengapa ? Karena dengan ada pernyataan ini, Majalah Tempo terkesan lepas tangan. Mengesampingkan etika dan logika akal sehat. Seolah-olah penduduk Indonesia khususnya umat muslim adalah orang-orang “bodoh” yang tidak bisa menilai. Buta akan maksud dan tujuan isu karikatur tersebut.

Padahal apa yang menimpa Habieb Riziek diakui atau tidak, kental nuansa politis. Dimana Habib Rizieq ditetapkan tersangka kasus konten pornografi di situs baladacintarizieq.

Ada yang janggal dengan kasus ini. Jika chat aplikasi whatsapp jadi dasar tersangka Habib Rizieq, jelas merupakan alat bukti yang rentan dipersoalkan. Sebab harus diuji dulu akurasinya.

Malah bisa menunjukkan kesan ada usaha sistematis guna menjatuhkan sang Habib sebagai tokoh ulama dan pemimpin kelompok umat Islam yang gigih memperjuangkan amar ma’ruf dan nahi munkar.

Bagaimana pun beredarnya produk pornografi di chat aplikasi whatsapp itu dilakukan seseorang atau sekelompok orang yang “bisa saja” berupa fitnah menjatuhkan martabat dan membunuh karakter Habib Rizieq. Seyogyanya polisi membuktikan dan menangkap pelaku ini terlebih dahulu daripada mentersangkakan Habieb Riziek.

Dan inilah sebenarnya yang harus menjadi “PR” sekelas Majalah Tempo untuk mengungkapnya. Guna menginvestigasi tentang apa yang disebut berita dibalik berita. Mengapa pelaku pengunggah chat justru “menghilang”.

Dengan berbagai uraian diatas, ada baiknya dan sudah sepantasnyalah Majalah Tempo segera meminta maaf. Akui bahwa memang benar telah “keliru”. Dari pada menunggu masyarakat kehilangan kepercayaan. Saya yakin, yang namanya umat Islam tetap memegang teguh filosofi bahwa  berbuat baik itu mulia, namun mampu memaafkan jauh lebih mulia. (Wassalam)