DI LERENG Bukit Barisan, di sebuah desa kecil bernama Kutabesi, Liwa, Lampung Barat, aroma kopi robusta menjadi bagian dari udara yang dihirup sejak kecil. Di sanalah Alian Syahri tumbuh, sebagai anak seorang petani kopi, dibesarkan di tengah lingkungan yang keras—bukan karena kejam, tapi karena begitulah cara hidup mengajarkan disiplin kepada anak-anak petani: bangun pagi, bekerja di kebun, dan tidak mengenal kata menyerah pada cuaca maupun hasil panen yang tak selalu manis.
Masa kecil hingga SMP dihabiskan sepenuhnya di kampung halaman itu. Tidak ada bayangan tentang hotel berbintang, apalagi kursi general manager. Yang ada hanyalah satu keinginan sederhana: melanjutkan sekolah kejuruan yang tidak tersedia di desanya. Berikut ini hasil perbincangan ringan dengan Alian Syahri, Kamis (30/7/2026).
Merantau Demi Secarik Harapan
Keinginan itulah yang membawanya meninggalkan Kutabesi menuju Bandar Lampung, menumpang tinggal di rumah paman sembari bersekolah di STM jurusan Teknik Elektro. Bagi anak kampung yang terbiasa dengan ritme kebun kopi, kota adalah dunia baru yang harus dipelajari dari nol—termasuk cara hidup, cara bersosialisasi, dan cara bertahan jauh dari orang tua.
Dari sang paman pula ia belajar banyak hal tentang bagaimana bertahan dan menyesuaikan diri di kota. Pendidikan tidak berhenti di situ. Ia melanjutkan kuliah S1 jurusan Sistem Informasi, aktif di berbagai organisasi kemahasiswaan, hingga akhirnya lulus pada tahun 2010.
Bahkan sebelum lulus, di tahun keempat kuliah sembari menyelesaikan skripsi, ia sudah mulai bekerja di bagian penerimaan mahasiswa baru di kampusnya sendiri. Pekerjaan formal pertamanya ini menjadi jendela awal untuk mengenal dunia kerja yang sesungguhnya.
Mengadu Nasib di Jakarta
Lulus dan diwisuda, Alian memutuskan mengadu peruntungan ke Jakarta. Tak sampai sebulan mencari kerja, ia diterima sebagai staf pasasi di salah satu maskapai penerbangan swasta di Bandara Soekarno-Hatta, sebuah pekerjaan yang ia jalani hampir dua tahun.
Dari dunia penerbangan, langkahnya berbelok ke industri perbankan. Ia mencoba peruntungan sebagai marketing di sebuah bank pemerintah, sebelum kemudian pindah ke bank swasta. Setiap perpindahan bukan tanpa alasan—setiap babak karier menjadi bagian dari pencarian panjang tentang di mana sebenarnya ia akan menemukan rumah profesionalnya.
Kembali ke Bandar Lampung, Menemukan Rumah di Dunia Hotel
Tahun 2013 menjadi titik balik. Ia menikah dengan pasangan yang tinggal di Bandar Lampung, dan keputusan itu membawanya pulang dari Jakarta. Sempat kembali bekerja di sebuah bank swasta selama beberapa bulan, namun rupanya jalan hidupnya belum berhenti di sana.
Pada 1 Juni 2013, sebuah kesempatan datang: bergabung sebagai staf Sales & Marketing di Novotel Lampung. Di titik inilah, untuk pertama kalinya, Alian merasa benar-benar menemukan kenyamanan dan kecocokan dalam bekerja—dunia hospitality, dunia hoteliers.
Tangga karier yang dipanjat setapak demi setapak dedikasinya segera membuahkan hasil. Hanya tiga bulan setelah bergabung, ia dipromosikan menjadi Assistant Sales Manager. Tahun berikutnya, ia naik menjadi Sales Manager, kemudian Senior Sales Manager, lalu Assistant Director of Sales & Marketing.
Pada tahun 2020, di tengah tantangan besar yang dihadapi industri perhotelan global, ia dipercaya menjadi Director of Sales & Marketing. Akhir 2023, kepercayaan yang lebih besar datang lagi: ia ditunjuk sebagai Assistant Executive Manager.
Dan pada Januari 2026, perjalanan panjang itu mencapai puncaknya—Alian Syahri resmi menjabat sebagai General Manager Novotel Lampung, memimpin seluruh lini operasional hotel bintang empat tersebut, mulai dari kontrol SOP, F&B, housekeeping, engineering, dapur, MICE dan event, sales, hingga media sosial.
Dari Kebun Kopi ke Kamar Hotel
Kisah Alian adalah kisah tentang bagaimana keberanian meninggalkan kampung halaman dapat berbuah manis ketika dijalani dengan kerja keras dan kesungguhan yang konsisten. Dari anak petani kopi yang dibesarkan dengan disiplin keras di Kutabesi, menempuh jalan berliku melalui dunia pendidikan, penerbangan, perbankan, hingga akhirnya menemukan panggilan sejatinya di dunia perhotelan—setiap babak dalam perjalanannya menjadi bekal yang membentuknya menjadi pemimpin hari ini.
Tiga belas tahun di Novotel Lampung, dari staf sales hingga general manager, adalah bukti bahwa jenjang karier bukan hanya soal kesempatan, tapi juga soal kesetiaan menjalani proses—satu tangga demi satu tangga, tanpa jalan pintas.
Menutup perbincangan, Alian memberikan pesan motivasi untuk masyarakat, “Untuk anak-anak dari kampung, jangan pernah ragu, keterbatasan bukanlah batu sandungan tetapi titik awal untuk kita maju. Kalau saya bisa, kalian pasti bisa.”
(Iman Prihartono)



















