BANDARLAMPUNG – Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Provinsi Lampung, Minggu, 8 Maret 2026 menggelar acara pelantikan pengurus serta Perayaan Imlek Bersama dan Festival Cap Go Meh. Acara ini dipusatkan di Mahan Agung, rumah dinas Gubernur Lampung.
Hadir dalam acara itu, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, Sekda Provinsi Lampung Marindo Kurniawan, Ketua DPRD Lampung Ahmad Giri Akbar, Pangdam II/Sriwijaya Mayjen TNI Ujang Darwis, serta unsur Forkopimda. Tampak juga Wali Kota Bandar Lampung Eva Dwiana, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Lampung, serta ribuan masyarakat Tionghoa.
Dalam sambutannya, Ketua PSMTI Lampung Periode 2025–2029, Christian Chandra, S.H., M.H., menjelaskan, Festival Cap Go Meh merupakan rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek yang diperingati pada hari ke-15 setelah Imlek. Tahun Baru Imlek kali ini berada pada Tahun Kuda Api yang memiliki makna simbolis yang kuat. Menurutnya, kuda melambangkan kecepatan, kekuatan, dan ketekunan. Sementara unsur api menggambarkan semangat serta energi yang besar.
“Karena itu Tahun Kuda Api dipercaya membawa energi yang kuat, keberanian, serta peluang keberuntungan bagi mereka yang berani mengambil risiko dan bertindak dengan penuh semangat,” katanya sebagaimana dilansir dari tribunlampung.co.id.
Christian Chandra menilai perayaan imlek dan Cap Go Meh menjadi momentum penting mempererat persaudaraan dan kebersamaan di tengah masyarakat. Ia juga mengutip pesan Presiden Prabowo saat perayaan imlek nasional di Jakarta yang menekankan pentingnya menjaga persaudaraan dan persahabatan antar masyarakat.
“Dengan kebersamaan dan semangat gotong royong, kita berharap persaudaraan di antara kita semua semakin kuat,” ujarnya.
Christian Chandra pun menyampaikan terima kasih kepada para tamu undangan yang hadir, termasuk Gubernur Lampung, unsur Forkopimda, tokoh lintas agama, serta seluruh masyarakat yang ikut merayakan.
Disisi lain, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menyebut perayaan imlek dan Cap Go Meh 2577 menjadi momentum memperkuat persaudaraan dan kebersamaan di tengah keberagaman masyarakat di Lampung. Dalam sambutannya, Mirza mengajak seluruh masyarakat bersyukur karena dapat berkumpul merayakan Imlek dan Cap Go Meh di suasana penuh persaudaraan.
“Ini malam yang istimewa karena tahun ini perayaan imlek dan Cap Go Meh juga bertepatan dengan bulan suci Ramadan. Satu adalah perayaan budaya yang penuh sukacita, sementara satu lagi bulan suci yang penuh doa dan ketenangan,” ujarnya.
Menurut Mirza, kedua perayaan itu memiliki pesan yang sama. Yakni tentang kebaikan, harapan, keberkahan, serta persatuan bagi seluruh umat manusia.Ia menilai Lampung merupakan daerah yang istimewa karena mampu menjaga kerukunan di tengah keberagaman suku dan agama.
“Lampung dikenal sebagai Sang Bumi Ruwa Jurai. Penduduk Lampung sekitar 9,5 juta orang, tetapi masyarakat asli Lampung hanya sekitar 16 persen. Artinya hampir semua suku di Indonesia ada di sini,” katanya.
Mirza mengatakan keberagaman ini justru menjadi kekuatan karena masyarakat dapat hidup berdampingan dan saling menghormati selama puluhan bahkan ratusan tahun. Menurutnya, masyarakat dari berbagai suku yang tinggal di Lampung pada akhirnya merasa Lampung sebagai tanah kelahiran dan tempat berjuang.
“Orang Tionghoa yang tinggal di Lampung ketika di luar daerah akan mengatakan dirinya orang Lampung. Begitu juga orang Bali, Jawa dan suku lainnya. Semua merasa Lampung adalah tanah air mereka,” ujarnya.
Ia juga menyoroti peran masyarakat Tionghoa yang telah lama menjadi bagian penting dalam perjalanan sejarah Provinsi Lampung. Menurut Mirza, kontribusi masyarakat Tionghoa sangat besar dalam berbagai sektor, mulai dari perdagangan, ekonomi, budaya hingga kegiatan sosial kemasyarakatan.
“Masyarakat Tionghoa selalu hadir membantu ketika ada kesulitan, bencana, atau kebutuhan masyarakat. Ini menunjukkan bahwa perayaan imlek bukan hanya milik satu komunitas, tetapi menjadi perayaan kebersamaan masyarakat Lampung,” katanya.
Dalam kesempatan itu Mirza juga menyinggung pentingnya peran pengusaha lokal dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Ia menilai pengusaha yang berasal dan tinggal di Lampung cenderung akan mengembangkan usahanya kembali di daerah tersebut sehingga memberikan dampak ekonomi yang lebih luas.
“Kalau pengusahanya dari Lampung, maka uangnya akan berputar di Lampung. Mereka menyimpan uang di bank di Lampung, mempekerjakan masyarakat Lampung, dan membelanjakan uangnya di Lampung,” ujarnya.
Mirza pun mengajak para pengusaha, termasuk dari kalangan masyarakat Tionghoa dan organisasi PSMTI Lampung untuk terus berkolaborasi dengan pemerintah dalam memajukan perekonomian daerah.
“Manusia bisa berbeda bahasa dan keyakinan, tetapi kita memiliki satu kesamaan, yaitu hati yang sama untuk menyebarkan kebaikan,” pungkasnya.
Acara ini juga dilengkapi dengan santunan kepada anak yatim, pertunjukan rebana, tari adat Lampung dan Tionghoa serta pertunjukan barongsai. (red/net)




















