PALEMBANG – Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru menyebut antrean panjang di sejumlah SPBU diakibatkan adanya sindikat dan mafia bahan bakar minyak (BBM) jenis solar.

Hal itu membuat alokasi di SPBU cepat habis, sehingga pemilik kendaraan kerap tak kebagian. Bahkan, antrean itu telah mengakibatkan korban nyawa.

“Persoalan antrean ini sebenarnya klasik, pertama karena ada sindikat. Baik itu di internal masing-masing SPBU, ada juga operator yang punya 5 barcode, kemudian tukang unjal (angkut). Tapi, apapun itu, ini persoalan yang harus diatasi secara komprehensif,” ujar Deru dilansir detik.com.

Dia meminta polisi untuk turun dalam pengawasan, termasuk BPH Migas dalam pendistribusian BBM.

“Yang pidana silakan polisi, yang di dalam distrbusi silakan BPH Migas,” katanya.

Deru juga meminta untuk mem-breakdown permasalahan antrean panjang di tiap SPBU. Tak hanya di Palembang, tapi juga yang ada di kabupaten/kota.

“Kuota ini saya minta di-breakdown juga mana SPBU yang bermasalah dari distribusi ini sehingga mengakibatkan antrean. Karena ada yang sudah terpenuhi kuotanya, ada juga yang melampaui kadang-kadang,” jelasnya.

Dia menambahkan, Sumsel tidak akan mengusulkan penambahan kuota BBM subsidi.

“Penambahan kuota provinsi tidak ada, tapi memungkinkan untuk menambah kuota di kabupaten/kota dan SPBU. Tapi, kalau kuota kita tidak cukup kita akan minta lagi,” tukasnya.

Fakta dilapangan, banyak kendaraan mengantri panjang, namun sejumlah pengecer di pinggiran jalan punya banyak stok untuk dijual. Harga Solar dibandrol Rp10.000 per liter.

(dtc/ilo)