BANDAR LAMPUNG – Universitas Lampung (Unila) menghargai opini jurnalis Herman Batin Mangku, ketua Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Lampung, sebagai tulisan pertama dari 46 penulis berbagai disiplin ilmu dan latar belakang pada buku bunga rampai “Covid-19 & Disrupsi” yang terbit pada pekan kedua November 2020.

Menurut Syafarudin  S.Sos, MA, PJ kegiatan/editor buku yang diterbitkan Laboratoriun Politik Lokal dan Otonomi Daerah (Labpolitda), Jurusan Ilmu Pemerintahan, FISIP, Universitas Lampung, buku ini jadi catatan pandemi Covid-19.

Mereka yang menulis pada buku setebal 481 halaman tersebut berlatar belakang beragam, dari akademisi, jurnalis, aktivis, sampai diaspora membahas wabah Corona dari tatanan sosial budaya, ekonomi, politik, dan multi.

Herman Batin Mangku, Pemred Kantor Berita RMOLLampung yang juga Ketua Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Lampung yang tampil mengawali tulisan dalam buku berjudul “Keren, Cara Orang Indonesia Atasi Covid-19”.

Pak Ho, panggilannya, memotret reaksi pejabat dan pengusaha sejak datangnya wabah dari Wuhan, China ini ke Indonesia  sampai mencoba melihat ada pada posisi mana Indonesia dalam menghadapi wabah dibandingkan negara lain.

Tulisan tersebut sudah pernah dimuat di rubrik opini media online RMOLLampung pada 3 Juni 2020. Saat, wabah tersebut sedang heboh-hebohnya, suasana mencekam, hingga berlomba-lombanya masyarakat tolong-menolong atas dampaknya.

“Terimakasih, catatan saya ikut terdokumentasi dalam buku bersama para penulis-penulis lain. Mudah-mudahan bermanfaat kelak,” ujar Herman Batin Mangku yang karir jurnalistiknya dimulai dari “Teknokra”, surat kabar mahasiswa Universitas Lampung.

Dia melihat apa yang dilakukan civitas akademika Universitas Lampung dalam membuat buku ini merupakan penghargaan terhadap karya jurnalis dan para jurnalis di Provinsi Lampung. “Apalagi, tulisannya jadi pembuka karya ilmiah lainnya,” katanya.

Syafarudin berharap buku yang menjadi semacam kapsul waktu atas terjadinya peristiwa yang dapat mengubah peradaban manusia. “Jangan sampai, anak cucu kita kelak, tak memiliki cukup refrensi tentang musibah dunia saat ini,” katanya.

Seperti, katanya, tragedi serupa yang pernah melanda dunia, termasuk Nusantara, tahun 1917-1920. Akibat virus spanyol masa itu, jutaan manusia dari berbagai negara meninggal dunia. Sayangnya, catatan tentang tragedi tersebut sulit ditemukan catatannya kini.

Budi Harjo  S.Sos, MIP, ketua Labpolitda Universitas Lampung berpendapat bangsa yang besar adalah bangsa yang kembali belajar dari capaian masa lalu sesuai motto Universitas Lampung: Berkarya, Bersinergi, dan Berinovasi Demi Negeri.”

Tim buku yang mulai beredar pekan kedua November 2020 ini membagi lima kelompok tulisan, yakni (1) Dinamika dan Tatanan Sosial, (2) Dinamika dan Tatanan Budaya, (3) Dinamika dan Tatanan Ekonomi, (4) Dinamika dan Tatanan Politik, (5) Dinamika Tatanan Multi.

Setiap kelompok tulisan, Jauharu Zailani dengan tulisan sastra relejius singkatnya dengan judul: (1) Menyambut Corona Dengan Cinta, (2) Karena Corona, Cermat Ibadah, (3) Negeriku Adalah Rumahku, (4) Corona Sebagai Sandiwara, (5) Merdeka dari Corona.

Mereka yang ingin memiliki buku yang diterbitkan Labpolotda bersama Pustaka Media bisa ke Jl. Endro Suratmin, Pandawa Raya No.109, Korpri Jaya, Sukarame, Kota Bandarlampung, HP 082282148711, email: [email protected], website: www.pustakamedia.com.

Mereka yang menulis dalam buku tersebut adalah Herman Batin Mangku, Riyanto Priyo Suharjo, Syamsul Bakhri, Yuliana Rinderiyana, Sunardi, Erna Rochana, Karina Lin, Asril Gunawan, Tantowi Alwi, Christian Heru Cahyo Saputro, Finka Setiana Adiwisastra, Ismi Ramadhoni, Rilda Taneko, Athik Hidyatul Ummah, Ami Amala, Erizal Barnawi, Roveneldo, Wahyu Hidayat, Taufikurrahman, Perry Rumengan, Kristina Novi Susanti, Erwin Sianturi, Bangun Suharti, Jeni Wulandari, Ludwig Suparmo Astadi Pangarso.

Lalu Yahnu Wiguni Sanyoto, Yusrizal Karana, Ridwan Saifuddin, Syaifuddin Iskandar, Heri Kurniawansyah, Andri Marta, Yusdianto, Fena Rosalia SBY, Syafarudin, Neti Yuliana, Zulkarnaen Ridwan, HS Tisnanta, Ahmad Irzal Fardiansyah, Soesiladi Esti Widodo, Fritz Akhmat Nuzir, Andre W Setiawan, IB Ilham Malik, Aliet Noorhayatu Sutisno, Agung Abadi Kiswandono, Nuhasanag, Citra Persada, Fadhillah Rusmiati, Rika Alfianti  Umar Sholahudin, Jauhari Zailani. (rls)