Rasa Hormat saat Pilgub

INSIDEN antara Velentino Rossi dengan Marc Marquez saat MotoGP Argentina, beberapa hari lalu, sebenarnya bisa diambil hikmahnya. Yakni tentang perlunya memiliki rasa hormat kepada para pesaing. Bahwa dalam setiap perlombaan, perlunya semua kontestan untuk mematuhi semua regulasi yang ada.

Begitu pula jika dikaitkan dengan agenda Pemilihan Gubernur (Pilgub) Lampung, 27 Juni mendatang. Sudah selayaknya setiap Calon Gubernur (Cagub) dan Wakil Gubernur (Wagub) yang menjadi kontestan agar memiliki rasa hormat.

Tidak boleh semaunya. Mereka harus bisa mengkuti semua regulasi yang telah ditetapkan. Tidak boleh mentang-mentang.

Mengapa ? Karena jika semua Cagub dan Wagub Lampung dapat mematuhi regulasi, maka dapat dipastikan semua kontestan akan bersikap legawa. Mereka akan dapat menerima apapun hasil pesta demokrasi pilihan rakyat ini secara santun dan jiwa besar.

Namun sebaliknya, jika proses pilgub diwarnai “kecurangan” dan “pelanggaran” maka yang harus diwaspadai adalah bahwa hal ini akan dapat memantik rasa ketidak puasan. Iya, kalau rasa ketidak puasan dilakukan masih dalam koridor hukum. Yakni dituangkan berupa gugatan ke ranah pengadilan.

Tapi jika tidak dan rasa ketidakpuasan malah menjalar hingga keakar rumput, maka yang menjadi taruhan adalah Citra Provinsi Lampung.

Untuk sudah semestinya, pemangku kepentingan seperti Komisi Pemilihan Umum (KPU), Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), aparat Polda Lampung dan Kejaksaan Tinggi Lampung harus benar-benar memastikan bahwa semua kontestan patuh pada regulasi.

Misalnya bila ada pemasangan Alat Peraga Kampanye (APK) yang melanggar segera tertibkan. Jika ada kampanye yang tak sesuai ketentuan bubarkan dan proses hukum. Serta bila ada yang coba-coba money politik, tangkap dan penjarakan.

Penegakan hukum ini penting, agar rakyat tidak mengambil langkahnya sendiri. Yang justru bisa membuat Provinsi Lampung “terbakar”. Semoga jangan. (wassalam)