Melihat Bulan

Saya pun merenung. Sesuatu yang terlihat indah, megah, gagah, tampan, cantik dari jauh, ternyata tidak sama ketika dilihat dari dekat. Apalagi jika, Tuhan YME berkehendak untuk membukanya.

SETIAP purnama, saya dan anak-anak pasti memilih makan malam bersama di halaman rumah.  Tujuannya satu kami ingin melihat cahaya bulan. Kami sekeluarga memiliki rasa dan selera yang sama untuk menilai dan mengagumi keagungan dan keindahan cahaya bulan purnama.

Tapi kesakralan saya dalam mengagumi sang bulan sedikit terusik.  Dimana putri saya yang masih berumur 9 tahun, tiba-tiba berkeinginan untuk naik dan duduk di bulan sana. Dia berpendapat di atas bulan pasti lebih megah dan sangat menarik lagi. Sebab dari jauh saja sudah terlihat indah pedar-pedar warnanya. Apalagi kalau dekat secara langsung. Pasti sangat indah dan mempesona mata.

Saya pun mencoba tidak menanggapi karena sibuk mengunyah makanan. Tapi selesai makan, apa yang diucapkan sang putri ternyata terngiang. Saya pun lalu mencoba browsing di internet bagaimana keadaaan bulan yang sebenarnya. Dan hasilnya, dijelaskan tidak seindah yang terlihat dari jauh. Bulan sebagian besar terdiri dan berbatuan dan kawah-kawah. Tidak ada laut disana. Malah beberapa permukaan tampak gelap dan suram.

Memahami ini saya jadi teringat dengan beberapa tokoh dan figur pemimpin Lampung yang pernah sangat disanjung dan dipuji baik oleh masyarakat ataupun media. Malah ada yang kadang-kadang diundang untuk berdoa, mengisi ceramah, ataupun menjadi saksi dan wali nikah. Tiap acara pasti tokoh-tokoh diminta untuk berfoto bersama yang pertama kali. Sang tokoh tidak perlu antri seperti tamu kebanyakan atau umumnya.

Tapi semua berubah. Saat sang tokoh terjerat dan diketahui terlibat masalah hukum. Sang tokoh bisa menyulap uang negara menjadi hilang. Ini masih ditambah lagi dengan beberapa skandal sosial lainnya.

Saya pun merenung. Sesuatu yang terlihat indah, megah, gagah, tampan, cantik dari jauh, ternyata tidak sama ketika dilihat dari dekat. Apalagi jika, Tuhan YME berkehendak untuk membukanya.

Dan saya hanya berdoa, ini tidak terjadi dengan saya. Karena jika yang maha kuasa ingin membuka sedikit saja aib yang saya miliki, maka saya tidak akan sanggup menanggungnya. Apalagi jika beberapa aib yang dibuka, bisa-bisa saya tidak berani untuk mengajak sang anak untuk makan bersama. Jangankan makan bersama, menatap matanya pun saya pasti tidak punya nyali. Saya mohon ya Tuhan, jangan sampai itu terjadi. Biarlah ini menjadi rahasia-Mu dan malaikat-malaikat-Mu. (wassalam)