Konflik Golkar-PKB Tolak Arinal-Nunik

TAK hanya di Partai Golkar yang “bergejolak”. Sosok Calon Gubernur (Cagub) dan Wakil Gubernur Lampung, Arinal Djunaidi- Chusnunia alias Nunik, ternyata juga sangat “kontroversial” di tubah Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Provinsi Lampung.

Buktinya kemarin, dua anggota Fraksi PKB DPRD Lampung, Khaidir Bujung dan Midi Ismanto terang-terangan membelot. Mereka menyatakan tidak mendukung sosok Cagub dan Cawagub yang diusung Partai Golkar dan PKB tersebut.

Namun justru malah mendukung pasangan Mustafa dan Ahmad Jajuli. Keduanya terlihat ikut mengantar saat pasangan dengan jargon ‘Mustafa Aja’ itu mendaftar di KPU Lampung.

Tentunya hal ini, harus menjadi evaluasi bagi tim sukses dan pasangan Arinal- Nunik. Bagaimana ingin menarik simpati masyarakat dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) Lampung, 27 Juni mendatang, bila “orang-orang” terdekat saja ternyata merasa “kegerahan”.

Untung masih ada waktu guna menjalin silaturahmi dan komunikasi. Upayakan rangkul kembali kelompok Forum Penyelamat Kewibawaan Partai Golkar Lampung (FPKPGL) yang sebelumnya berseberangan. Beri ruang untuk berdialog. Jangan kedepankan ego dan terpengaruh “bisikan-bisikan” yang justru malah memperkeruh keadaan. Belum tentu “mereka” yang selama ini memberi bisikan tersebut berniat baik. Bisa saja justru malah menjerumuskan dan ingin mengunting dalam lipatan.

Hal yang sama juga harus dilakukan kepada kader, pengurus, dan simpatisaan PKB. Ajak silaturahmi. Jangan justru malah dikucilkan.

Mengapa ini perlu saya ungkapkan ? Karena jujur saja, semua Bacagub dan cawagub yang akan berkompetisi, bukanlah lawan yang enteng dan mudah ditaklukin. Ada sosok Herman HN, Walikota Bandarlampung. Lalu, Mustafa, Bupati Lampung Tengah. Dan tak ketinggalan petahana, Gubernur Lampung saat ini, Ridho Ficardo. Belum lagi ditambah pasangannya masing-masing yang juga memiliki basis massa fanatik.

Jadi sekali untung semua belum terlambat. Untung waktu pencoblosan masih panjang. Masih sekitar lima bulan lebih.

Sebab, jika semua sudah terjadi dan kekalahan yang ternyata didapati, tiada berguna penyesalan. Tiada berguna berbagai teori dan alibi. Dan tidak akan membalikan keadaan dengan hanya mencucurkan air mata, berdoa berharap kepada Yang Kuasa.

Apalagi politik itu dinamis. Tidak ada hal yang tidak bisa dikomunikasikan. Semua sangat cair.

Namun jika ini diabaikan, tentunya akan berlaku idiom lama. Dimana kawan seribu terlalu sedikit. Musuh satu terlalu banyak. Dan boleh jadi musuh satu tersebut bisa lebih berguna daripada kawan seribu yang tadi yang bisanya hanya memuja dan memuji. Namun lari dan tak bisa memberikan solusi menyikapi dinamika yang terjadi.Semoga tulisan ini bisa menjadi renungan.(wassalam)