Kejari-Polresta Diminta Turun Awasi Proyek Flyover MBK

BANDARLAMPUNG – Komite Pemantau Kebijakan dan Anggaran Daerah  (KPKAD) Lampung berharap masyarakat Lampung kritis mensikapi proyek Flyover Mal Boemi Kedaton (MBK). Alasannya belum saja digunakan, sudah tampak “keretakan” pada beberapa bagian.

“Bayangkan dengan menggunakan logika sehat, belum menahan berat beban saja sudah begitu modelnya. Seharusnya keretakan tak hanya ditutupi semen (plaster), tetapi diperiksa yang retaknya luarnya saja, apa didalam. Harus dites metode beton yang digunakan, jika tidak proyek ini bakal ditolak masyarakat khususnya pengguna jalan di Bandarlampung,” tutur Gindha Ansori Wayka, Koordinator Presidium KPKAD.

Untuk itu, Ansori mendesak pemenang tender memperbaiki segala dugaan kekurangan atas spesifikasi yang dapat menyebabkan bangunan tak sesuai perencanaan. Ini untuk menghindari terjadinya hal yang tidak diinginkan akibat berdirinya flyover MBK.

Selain itu pihaknya, mendesak Walikota Bandarlampung melalui dinas terkait memaksimalkan pemantauan dan evaluasi intensif atas pekerjaan flyover. Lalu, mendesak DPRD bersikap tegas mengawasi agar kontraktor dapat memaksimalkan hasil kerjanya.

“Kami juga mendesak Kasi Pidsus Kejari Bandarlampung dan tim Tipikor Polresta Bandarlampung menurunkan tim pengawasan melekat guna memantau pekerjaan karena menyangkut keselamatan banyak orang. Hal ini sebagai upaya preventif pencegahan tindak pidana korupsi,” tuturnya.

Seperti diketahui ahli Tekhnologi Beton dari Fakultas Tekhnik (FT) Universitas Lampung (Unila), Masdar Helmi, ST.,DEA., Ph.D, menyatakan ada dua kemungkinan penyebab “keretakan” pada dinding beton proyek MBK.

Pertama, karena ada perbedaan waktu saat dilakukan sambungan pengecoran. Dimana pengecoran berhenti, dilanjutkan esok harinya sehingga seolah-olah terlihat retak. Kalau ini yang terjadi sebenarnya tidak retak, karena merupakan sambungan dari suatu pekerjaan yang berlainan waktu.

“Konsekuensinya kalau memang bukan retak, ini tidak masalah. Hanya saja jika fisiknya tidak sama atau rata, maka akan terlihat fisiknya seperti “lari” antara yang lama dengan yang baru sehingga keliatan seperti retak,” tuturnya.

Sementara kemungkinan kedua, akibat adanya pekerjaan pemadatan tanah disaat mengecor belum cukup umur. Sehingga tekanan tanah mendorong beton, ini berakibat bisa retak.

“Jika faktor kedua yang terjadi, dari standar proyek jelas menyalahi aturan. Dimana pengecoran umurnya belum cukup, kekuatan belum memadai, tapi sudah dipaksakan menahan beban tanah yang dipadatkan,” jelas dia.

Akibatnya, keretakan harus segera diperbaiki. Dimana harus “diisi” kembali semua yang rusak, sehingga tak berakibat berkarat di ruangan dalamnya.

Lebih jauh dipaparkannya, idialnya baik poin pertama maupun point kedua, harusnya tidak terjadi. Dimana proses pengecoran harus sesuai perencanaan hingga sampai permukaan tertinggi dan tidak terputus. “Jika prosedur ini dipenuhi, maka yang diinformasikan ditemukannya keretakan dipastikan ini tidak terjadi,” tutupnya.

Seperti diberitakan belum lagi rampung, pembangunan flyover di ruas Jalan Teuku Umar-ZA Pagar Alam di depan MBK sudah menyulut kontroversi. Itu setelah ditemukan retakan pada sambungan beton.

Sekretaris Komisi III DPRD Kota Bandar Lampung Achmad Riza, membenarkan itu. Kata dia, pihaknya mendapati retakan di konstruksi sambungan beton di Flyover MBK. Sedikitnya ada dua retakan di dinding flyover MBK. Selain di depan Rumah Makan Bumbu Desa, keretakan pada sambungan beton juga terjadi di dinding depan Gang Balau. Titik retakan kedua juga masih sejajar dengan yang pertama, yaitu dinding sebelah kiri flyover dari arah Rajabasa ke Tanjungkarang.

“Kita minta dinas PU mengecek retakan konstruksi. Ini sebagai antisipasi kasus konstruksi flyover yang roboh di Jawa Timur tidak terjadi di Lampung,” jelas Achmad Riza.
Disisi lain pengamat konstruksi Unila, Sasana Putra, menilai pernyataan pengembang jalan layang, PT Dewanto Cipta Karya (PT DCK), terkait retaknya dinding flyover MBK tidak masuk akal. Menurutnya, proyek yang menelan biaya Rp40 miliar lebih itu memang mengalami keretakan. Kemudian, umur beton yang belum sesuai tetapi sudah dilakukan penimbunan dan pengerasan tanah. Akibatnya, terjadi penekanan ke bagian samping.

“Kemungkinan retakan itu terjadi karena adanya daya tekan ke samping yang ketika proses perataan dan penimbunan tanah, sementara umur beton belum sesuai,” kata dia, saat dikonfirmasi Lampost.co.

Selain itu, lanjut Sasana, keretakan di bagian beton juga kemungkinan terjadi lantaran pekerjaan yang tidak maksimal atau beton yang tidak dilakukan perawatan. Namun, bisa juga terjadi karena peralatan pihak perusahaan tidak sesuai standardisasi konstruksi beton.
“Bisa jadi juga karena peralatan beton tidak bagus. Mungkin tidak dilakukan perawatan beton atau dilakukan dengan tidak baik. Atau, mungkin juga dari pelaksanaannya,” ujar Kepala UPTD Laboratorium Konstruksi Unila itu.

Pihak perusahaan sendiri berupaya menutupi retakan dengan melapisi dengan adukan semen. Namun, upaya itu tidak memberikan dampak terlalu besar, karena hanya menutupi bagian luar sehingga retakan tidak terlihat.

“Jika bagian dalam tidak tertutup, saat beton kemasukan air, retakan bagian dalam dapat menjadi jalur air. Ke depannya, akan mengakibatkan keretakan di mana-nama,” kata dia.
Terkait pernyataan pengembang retakan karena perubahan desain, Sasana mengatakan alasan itu akal-akalan pihak perusahaan dan tidak masuk akal. Kalau karena perubahan desain, ya harus ada penyesuaian. “Kalau ada perubahan desain tapi tidak ada penyesuaian, kan lucu. Malah jadi aneh,” ujar Sasana.

Sementara pelaksana lapangan jalan layang MBK PT DCK, Sutarno, memastikan sudah memperhitungkan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di proyek itu. Pihaknya telah memasang bracing (penguat) pada balok girder. “Kami memastikan pekerjaan saat ini sudah aman bagi para pekerja,” kata dia.(red/dbs)