Karangan Bunga

Rasa penasaran pun timbul. Siapakah gerangan yang telah wafat atau meninggal dunia. Siapa tahu masih ada hubungan kekerabatan atau minimal saya mengenalnya. Kurang elok rasanya jika ada yang tertimpa musibah kematian, namun saya tidak hadir guna mengucapkan rasa duka-cita yang mendalam.

Kemarin malam, selesai shalat tarawih, saya dan anak-anak ingin mencari makanan diluar. Kurang puas rasanya berbuka puasa dengan menyantap menu masakan sang istri yang biasa-biasa saja. Kami pun lantas berkeliling Kota Bandarlampung untuk mencari restoran yang bersih dan nyaman. Syukur-syukur yang ada panggung dan orgennya untuk bernyanyi sekedar menyalurkan hobby.

Namun di tengah perjalanan, pas melewati jalan protokol yang percis didepannya ada rumah salahsatu pejabat daerah, saya terpaksa menghentikan dan menepikan kendaraan. Di sepanjang jalan ini, saya menjumpai puluhan karangan bunga. Saya tidak menghitungnya, namun jumlahnya cukup banyak.

Rasa penasaran pun timbul. Siapakah gerangan yang telah wafat atau meninggal dunia. Siapa tahu masih ada hubungan kekerabatan atau minimal saya mengenalnya. Kurang elok rasanya jika ada yang tertimpa musibah kematian, namun saya tidak hadir guna mengucapkan rasa duka-cita yang mendalam. Kecuali kalau pas kebetulan saya sedang ada di luar kota.

Namun ternyata setelah saya dekati, dugaan saya ini salah total. Itu bukan karangan bunga ucapan kematian. Namun ucapan pujian sukacita dan rasa syukur atas prestasi yang telah dicapai oleh pejabat daerah tersebut.

Seketika saya langsung menyadari “ketololan” saya. Ternyata sikap primitif saya yang menilai jika karangan bunga hanya diperuntukan buat acara pernikahan atau kematian, kini sudah ketinggalan zaman. Kini arti dan makna karangan bunga sudah meluas kepada ucapan selamat atas prestasi tertentu. Khususnya “prestasi” oleh pejabat daerah.
Saya pun terharu. Pasalnya setelah saya baca, sebagian besar karangan bunga itu berasal atau kiriman dari staff atau bawahan sang pejabat. Mereka turut bangga merayakan dan melihat keberhasilan “bosnya” dalam memperoleh penghargaan. Suatu bentuk loyalitas dan dedikasi yang tinggi seperti yang pernah ditunjukkan oleh pejuang-pejuang kita zaman dahulu.

Mereka tidak peduli bagaimana harus membayar karangan bunga tersebut nantinya. Tidak malu meski harus berhutang. Atau tidak peduli jika biaya uang sekolah anaknya masih menunggak. Semua mereka tepikan dan singkirkan semua dahulu. Mereka tetap rela dan ikhlas untuk merogoh “kantong” dalam rangka mengucapkan puji syukur atas “kehebatan” pimpinannya. Tentunya sikap loyalitas, dedikasi dan rasa penghargaan yang tinggi ini harus saya apresiasi, karena tidak mungkin saya miliki.

Namun dibalik itu semua, kadang-kadang muncul juga pertanyaan nakal saya. Tuluskah mereka dalam mengirim karangan bunga tersebut. Adakah yang memobilisir dan memerintahkannya. Ataukah mereka hanya takut pada “atasan” nya jika tidak bersikap sama dalam hal mengirim bunga.

Saya sangat berharap pertanyaan nakal ini tidak menjadi kenyataan. Sebab, andai pertanyaan nakal saya ini yang benar terjadi, maka sia-sialah “pengorbanan” mereka. Sudah rugi biaya, namun tidak mendapat pahala karena rasa terpaksa dan tidak ada keikhlasan.
Dan sebenarnya sikap “pujian” yang ditunjukan oleh para bawahan atau staf dengan cara seperti ini, justru sangat berbahaya bagi pejabat atasan yang menerimanya. Dia akan terlena dan terpukau. Dia tidak menyadari bahwa sebenarnya para bawahannya justru ingin “menjerumuskannya”.

Karenanya mungkin kedepan, tidak perlu lagi sikap pujian yang dilontarkan melalui mengirimkan atau mombilisasi karangan bunga. Cukup dengan berdoa dan bersyukur kepada Tuhan YME sehingga rasa “berkah dan karunianya” justru makin terasa dan bertambah. Saya tidak ingin memakai kata “ridhoNYA” karena kerap diplintir seolah-olah saya sedang memuji seseorang.

Dan makna karangan bunga pun bisa kembali kepada dahulu. Yakni dimaknai hanya untuk ucapan duka-cita kematian atau sukacita pernikahan. (wassallam)