Jalan Sehat Majelis Taklim Berwarna “Merah”

SAYA ini orang awam. Pengetahuan saya minim. Pergaulan pun sangat terbatas. Karenanya begitu melihat, hal yang “berbeda”, rasanya “katro” banget.

Seperti pagi kemarin. Saat mendapat share foto-foto tentang acara jalan sehat dalam rangka peringatan milad salah-satu majelis taklim di Bandarlampung. Tampak ribuan massa, termasuk Bakal Calon Gubernur (Cagub) dan Wakil Gubernur Lampung, serta pejabat KPU Kota Bandarlampung dan tokoh Partai Politik (Parpol), tumpah ruah bersuka cita.

Mereka tampil dengan setelan baju kaos berwarna merah menyala yang identik dengan parpol tertentu untuk mengikuti acara yang kabarnya memperebutkan hadiah mobil tersebut.

Jujur, setau saya dulu almarhumah ibunda saya, jika menghadiri acara majelis taklim, pasti memakan gaun putih dan terlihat sangat anggun. Tapi kini ternyata semua sudah berubah.

Dulu arti majelis taklim hanya sebagai tempat pengajaran atau pengajian bagi mereka yang ingin mendalami ajaran Islam sebagai sarana dakwah agama. Majelis taklim salah-satu lembaga pendidikan diniyah non formal yang bertujuan meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT dan akhlak mulia bagi jamaahnya, serta mewujudkan rahmat bagi alam semesta.

Dalam prakteknya, majelis taklim merupakan tempat pendidikan agama Islam yang paling fleksibal dan tidak terikat waktu. Majelis taklim bersifat terbuka terhadap segala usia, lapisan atau strata social, dan jenis kelamin apalagi golongan atau pun parpol.

Waktu penyelenggaraannya pun tidak terikat, bisa pagi, siang, sore, atau malam . Tempat pengajarannya bisa dilakukan di rumah, masjid, mushalla, gedung, aula, halaman, dan sebagainya. Selain itu majelis taklim memiliki dua fungsi sekaligus, yaitu sebagai lembaga dakwah dan lembaga pendidikan non-formal. Fleksibelitas majelis taklim ini yang menjadi kekuatan sehingga mampu bertahan dan merupakan lembaga pendidikan Islam yang paling dekat dengan umat (masyarakat).

Dimana majelis taklim merupakan wahana interaksi dan komunikasi yang kuat antara masyarakat awam dengan para mualim. Antara sesama anggota jamaah majelis taklim tanpa dibatasi oleh tempat dan waktu.

Dengan demikian majelis taklim menjadi lembaga pendidikan keagamaan alternative bagi mereka yang tidak memiliki cukup tenaga, waktu, dan kesempatan menimba ilmu agama dijalur pandidikan formal. Inilah yang menjadikan majelis taklim memiliki nilai karkteristik dibanding lembaga keagamaan lainnya.

Tapi kini agaknya kegiatan majelis taklim sudah “bertransformasi”. Tidak lagi hanya menghimpun dan distribusi zakat, mengadakan TPA (Taman Pendidikan Al Quran) bagi anak-anak, penyelenggaraan jenazah bagi jamaah yang meninggal dunia atau melakukan kajian, menjadi orang tua asuh, mengumpulkan tabungan qurban dan lain-lain. Tapi sudah meluas dengan menggelar ajang Jalan Sehat Spektakuler berhadiah ratusan juta rupiah.

Semoga kegiatan jalan sehat ini tidak menghilangkan esensi dan tujuan mulia adanya majelis taklim. Apalagi sampai ditarik-tarik masuk keranah politik hanya untuk mendukung cagub dan cawagub tertentu.

Karena jika ini yang terjadi, maka hilanglah makna dan arti majelis taklim sesungguhnya. Yakni sebagai tempat yang sakral dalam mempelajari dan mendalami ajaran Islam sebagai sarana dakwah dan pengajaran agama.

Sebab bagaimanapun mulianya tujujan dunia politik, tapi kini kita harus berani jujur mengatakan. Bahwa ranah politik tersebut, lebih cenderung menimbulkan perpecahan dan perbedaan daripada nilai persatuan dan persaudaraan umat. Semoga hal ini tidak terjadi. (wassalam)