Gubernur-Walikota Bertengkar

Sangat tidak elok mempertontonkan “pertengkaran” di depan rakyat. Kedepankanlah sikap dewasa, arif dan bijaksana. Tidak ada masalah di dunia ini yang tidak bisa “dinegosiasikan”. Kecuali hal ini menyangkut masalah aqidah atau kehormatan keluarga. Duduklah satu meja. Ngopilah bersama. Apalagi ini bulan ramadhan. Bulan penuh berkah. Penuh rahmat dan ampunan.

Waktu kecil hal yang paling memilukan bagi saya adalah jika melihat orangtua bertengkar. Apalagi jika pertengkaran ini dikarenakan membahas kenakalan saya. Misalnya karena habis berkelahi, alpa tidak masuk sekolah, atau susah diminta untuk menjalankan ritual agama.
Meski pertengkaran hanya sesaat, karena kedua orangtua saya memiliki hati yang luas untuk saling memaafkan, namun dampaknya masih tersisa untuk beberapa lama. Tak urung pertengkaran ini menimbulkan suasana yang kurang nyaman di hati saya, adik serta kakak saya yang lain. Saling diam, suasana hening, pokoknya sangat tidak nyaman untuk melakukan aktifitas apapun. Serba salah semuanya.
Lantaran menjadi “penyebab” pertengkaran, saya pun merasa tidak enak hati. Kadang timbul rasa penyesalan, mengapa ini bisa terjadi. Atas kondisi inilah sayapun bertekad jika nanti berumah tangga, tidak akan bertengkar dengan istri di depan anak-anak. Apapun alasannya. Karena tadi, meskipun mudah berdamai, namun bekas ‘ketidaknyamanan” pasti masih tersisa. Apalagi jika pertengkaran itu terjadi di mata anak-anak. Mereka akan selalu terbayang sehingga sangat tidak baik untuk perkembangan fisik dan mentalnya kedepan. Jujur saya sangat tidak ingin jika anak-anak menjadi korban sikap “EGO” kedua orangtuanya. Yang lebih mengedepankan “amarah” daripada hati pemurah.
Mengapa saya perlu menulis ini ? Karena saat ini saya ataupun kita semua sedang melihat pertengkaran yang hebat. Dan pertengkaran ini dilakukan “orangtua” kita dalam arti luas. Jika pertengkaran dalam skala kecil rumah tangga saja, effeknya sangat membuat tidak nyaman dan bisa mengganggu perkembangan pertumbuhan fisik dan mental anak-anak, apalagi pertengkaran yang sedang terjadi ini.

Saya mohon maaf sebelumnya. Meski mungkin nantinya dibantah, beberapa hari ini saya melihat “pertengkaran” antara Pemerintah Kota Bandarlampung dibawah pimpinan Herman HN dan Pemerintah Provinsi Lampung dibawah pimpinan Ridho Ficardo. Ini menyikapi masalah pembangunan Fly Over/Underpass di ruas Jl. Nasional Kota Bandarlampung.
Kubu Herman HN tetap bersemangat dengan tekadnya untuk membangun. Sementara kubu Ridho Ficardo bertekad untuk mencegahnya. Berbagai argumen dan landasan hukum pun di paparkan. Para pakar dan pengamat turut berdebat, terjadi pro-kontra dan aksi dukung-mendukung layaknya menonton acara Indonesia Lawyer Club (ILC) di salah-satu channel TV nasional.
Saya tidak ingin masuk pada ranah pendapat benar atau salah. Alasannya sederhana. Saya tidak memiliki kemampuan akademik untuk melakukan telaah dan analisa. Waktu kuliah dahulu, syukur-syukur Tuhan YME bermurah hati untuk memberikan “rasa kebaikan” kepada para dosen tercinta agar meluluskan saya. Tuhan yang saya sembah mengalihkan perhatian mereka. “Menutup” pandangan mereka, agar tidak mengetahui jika saya selalu membawa “salinan” disaat ujian. Hasilnya saya pun selamat dan lulus mendapat gelar SI. Kondisi inilah yang membuat saya minder dan kecil hati untuk meneruskan kuliah mengambil tingkat magister atau S2. Meskipun dorongan dari ibu, istri, anak dan teman-teman selalu ada.
Yang pasti saya hanya dapat menghimbau kepada orangtua saya Herman HN dan Ridho Ficardo. Ditangan kalian berdua, pembangunan di Kota Bandarlampung dan Pemprov Lampung diamanahkan. Anda berdua pemimpin kami (meskipun saya tidak memilih kalian berdua).
Jadi bersikaplah yang matang. Gunakanlah hati nurani. Sangat tidak elok mempertontonkan “pertengkaran” di depan rakyat. Kedepankanlah sikap dewasa, arif dan bijaksana. Tidak ada masalah di dunia ini yang tidak bisa “dinegosiasikan”. Kecuali hal ini menyangkut masalah aqidah atau kehormatan keluarga. Duduklah satu meja. Ngopilah bersama. Apalagi ini bulan ramadhan. Bulan penuh berkah. Penuh rahmat dan ampunan.
Sebab jika “pertengkaran” terus seperti ini yang dipertahankan, saya pun teringat dengan pribahasa di waktu mengenyam pendidikan sekolah dasar dahulu. “Gajah bertarung lawan Gajah, pelanduk mati di tengah-tengah”. Peribahasa ini berarti bahwa apabila ada orang-orang berkedudukan tinggi berkelahi satu sama lain, maka yang menjadi korban adalah rakyat/orang kecil. Dan rakyat kecil itu adalah saya, anda dan kita semua. Semoga hal ini tidak terjadi.(wassalam)