Despacito Vs CikDin SM

Saya ini pecinta lagu-lagu lawas. Jadi bicara mengenai perkembangan musik terkini bisa dikatakan “buta”. Apalagi jika lagunya kebarat-kebaratan. Ya habislah. Saya hanya bisa terbengong-bengong. Tidak mengerti arti dan tahu tentang perkembangan terbaru.

Karenanya begitu heboh mengenai sikap Pemerintah Malaysia yang melarang stasiun milik pemerintah menyiarkan lagu yang saat ini sedang populer, “Despacito” saya pun tidak nyambung. Alasannya pemerintah disana lirik lagu ini tidak pantas untuk didengar karena mengarah ke pornografi. Sifatnya penuh “nafsu”. Walaupun nafsu yang bagaimana rupanya lagi-lagi saya tidak mengerti dan tidak nyambung.

Namun demikian karena tidak nyambung tersebut, saya pun harus mencoba memahami dan berprasangka baik. Bahwa tidak ada dan tidak mungkin pemerintah dimanapun yang bakal “menyesatkan” rakyatnya. Meski tidak mengerti saya berkeyakinan bahwa tindakan pemerintah Malaysia ini sudah pasti melewati berbagai kajian dan pertimbangan yang matang. Apalagi saya dengar belakangan beberapa negara juga melakukan kebijakan yang sama. Bahkan Provinsi Jawa Tengah pun juga kabarnya mengambil kebijakan serupa. Melarang diputarnya lagu Despacito tersebut.

Yang membuat miris justru meski sudah menjadi viral dan telah dilarang, ternyata di Lampung lagu ini malah terus di putar di berbagai tempat. Misalnya di Bandara Raden Intan II, Branti baru-baru ini. Yakni di mobil antar jemput penumpang VIP maskapai terbaik di Indonesia, Garuda Indonesia.

Persoalan ini tentunya mungkin bisa dinilai sangat sepele. Namun demikian, meski sepele saya berharap masalahnya juga bisa menjadi perhatian serius. Sebab kadang-kadang kita terlena dengan masalah sepele yang justru bisa menghancurkan identitas Bangsa.

Lalu Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Provinsi Lampung sudah semestinya berperan aktif untuk “menyensor” persoalan lagu Despacito ini. Jangan sampai ada anggapan peran lembaga ini tidak ada gunanya. Sarankan saja kepada Maskapai Garuda Indonesia untuk memutar lagu-lagu daerah Lampung. Misalnya lagu-lagu Klasik Tulang Bawang, Dang Mewang, Cadang Atei, Gabat Gibut, Sanak Aghuk dengan penyanyi legendaris Cikdin Syahri SM. Daripada memutar lagu-lagu barat yang sekali lagi, belum tentu ada nilai “nasehat” bagi kita semua.(wassalam)