Cagub dan Pasar Bandarjaya

KAMIS (17/3/2016) lalu masih teringat saat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Tengah (Lamteng) menjalin kerjasama dengan PT. Pandu Jaya Buana (PJB). Tujuan merehab Pasar Daerah (PD) Bandar Jaya Plaza yang janjinya diubah menjadi Pasar Modern atau mall pada umumnya. Menurut rencana, perubahan itu diutamakan pada bagian depan dan belakang, sehingga tampilan seperti layaknya mall yang ada di kota besar. Di lantai 2 akan ditempatkan arena bermain anak, karaoke keluarga dan area parkir kendaraan roda dua. Lalu lantai 3 diisi kafe kelas nasional, bioskop dan area parkir kendaraan roda empat.

Penandatanganan perjanjian waktu itu dilakukan Bupati Lamteng, Mustafa, yang kini hendak bercita-cita menjadi Calon Gubernur (Cagun) Lampung 2019-2014. Waktu ini sang Bupati berjanji PD Bandar Jaya Plaza akan menjadi Icon daerahnya. Kedepan, lanjut Mustafa, PD ini tidak ada lagi sampah yang berserakan dan irigasi tersumbat. PD ini akan menjadi pasar modern yang bersih, tertib dan aman yang menjadi kebanggaan masyarakatnya.

Sementara Direktur Presiden Komisaris PT. PJB, Gita Hartanto mengatakan pembangunan diawali dari pengelolaan pasar daerah dan pembangunan lantai 2 dan 3. Menurutnya pembangunan akan memberikan manfaat ke masyarakat, khususnya pedagang. Sebab telah tersedia semua fasilitas memadai layaknya mall pada umumnya yang bisa membuat kesejahteraan masyarakat Lamteng.

“Pembangunan pasar kita mulai bulan ini, telah disediakan anggaran sebesar Rp60 miliar. Insya allah selesai 31 Desember 2017. Semoga menjadi barokah dan impian masyarakat,” janji manis sang pengembang waktu itu.

Sayangnya belum lama ini saya terkaget-kaget membaca pernyataan Wakil Ketua I DPRD Lamteng, J Natalis Sinaga. Menurut saya ini baru wakil rakyat yang berani menyuarakan isi hati dengan lantang menyatakan PT. PJB ingkar janji menyelesaikan pengerjaan bagian depan PD Bandar Jaya Plaza. Menurut Natalis, pihak pengembang telah mengatakan bagian depan PD Bandar Jaya Plaza akan diselesaikan tempo dua bulan. Namun realitas hingga saat ini, itu tak terwujud. “Waktu itu (2016) pengembang berjanji dua bulan menyelesaikan pengerjaan jembatan depan pasar. Tapi sampai kini tidak ada progres pembangunannya,” kata Natalis Sinaga, Selasa (11/7/2017) lalu.

Melihat ini semua saya hanya bisa termenung. Hati kecil saya membenarkan. Saya pun lantas berpikir apakah karena kesibukan bersosialisasi mengenalkan diri di masyarakat, membuat sang Bupati kurang peka terhadap wilayah sendiri khususnya kondisi PD Bandar Jaya Plaza. Andai ini benar, saya hanya bisa berdoa agar sang Bupati dapat mengevaluasi niatnya maju dalam pemilihan gubernur Lampung nantinya. Sebab jangan bermimpi membangun Provinsi Lampung yang begitu kompleks persoalannya, jika hanya menyelesaikan pembangunan PD Bandar Jaya Plaza saja tidak mampu. Jangan sampai nanti ada pribahasa Gajah di pelupuk mata tak terlihat, Semut di seberang lautan nampak. Yakni kesalahan diri sendiri tidak tampak, tapi kesalahan orang lain terlihat jelas. Semoga jangan. (wassalam)