Alay dan Pasar SMEP

SEBENARNYA saya sudah agak bosan menulis masalah mangkraknya pembangunan Pasar SMEP, Sukajawa Baru, Tanjungkarang Barat. Tapi seiring ditangkapnya sang developer yang bernama Ferry Sulisthio, S.H., alias Alay, naluri saya merasa terusik lagi.

Sayapun lantas teringat kondisi pasar yang pernah menjadi tempat bermain dan belanja kebanggaan masyarakat Lampung ini. Dulu waktu kecil saya sering diajak ibu berbelanja disana. Berbaur sama ribuan pembeli dan pedagang. Pasar ini menjadi salahsatu sentral transaksi perekonomian terbesar.

Mungkin ribuan orang yang menggantungkan dapurnya “mengebul” dengan adanya aktifitas perdagangan disana. Tapi kondisinya terkini, memiriskan. Saya kehabisan kata menggambarkannya. Kumuh, jorok, bau menyegat, sumber sarang penyakit dan lain-lain-dan lain-lain. Sangat menyedihkan.

Karenanya seiring ditangkapnya Alay, saya berharap dirinya bisa menjelaskan prihal penyebab mangkraknya proyek Pasar SMEP. Termasuk mengungkap kemana aliran dana milik pedagang yang terlanjur di tarik bernilai puluhan miliar rupiah.

Jika memang ada “upeti” yang disetorkan, saya mohon Alay menjelaskan. Sehingga dia tidak menjadi “musuh publik” yang memintanya mengembalikan uang setoran.

Mengapa ini perlu saya sampaikan ? Sebab ini sebenarnya murni bukan tanggungjawab Alay semata. Pasalnya sebelumnya dia bersama Pemkot Bandarlampung dan atas rekomendasi dewan tentunya telah menjalin kerjasama. Dengan investasi sebesar Rp286,8 miliar lebih, Alay telah memberikan Bank Garansi sebesar Rp14,3 Miliar lebih ke Pemkot Bandarlampung sebagaimana tertulis dalam berkas perjanjian kerjasama setebal 14 halaman bernomor 20/PK/HK/2013 dan nomor 888/PAD/VII/2013 tertanggal 15 Juli 2013.

Jadi jika memang perjanjian gagal, Pemkot Bandarlampung bisa kapan saja mencairkan Bank Garansi tersebut. Pertanyaannya benarkah Bank Garansi itu ada? Atau hanya akal-akalan saja ? Pertanyaan ini tentunya hanya Alay yang bisa mengungkap.

Dia harus berani membongkar jika memang ada GRATIVIKASI disaat dibuatnya Perjanjian kerjasama antara Pemkot Bandarlampung dan PT. Prabu Artha Developer yang dipimpinnya. Kecuali jika Alay bersedia  untuk “berkorban”, pasang badan sendiri dibui. Semoga jangan. (wassalam)