Status Gadis Nunik Daftar Pilgub Jadi Bahasan Nitizen

BANDARLAMPUNG – Meski sudah terjawab, ternyata status perkawinan Calon Wakil Gubernur (Cawagub) Lampung, Chusnunia Chalim alias Nunik, masih ramai menjadi bahasan di media sosial (medsos), khususnya facebook. Para nitizen rata-rata mengaku kaget sekaligus kagum soal status Bupati Lampung Timur (Lamtim) ini yang ternyata masih gadis alias belum kawin saat mendaftar dan ikut gegap gempita Pemilihan Gubernur Lampung (Pilgub) Lampung, 27 Juni 2018 mendatang.

“Masih Gadis ya?” tulis akun facebook M. Syahril Pusran. “Memang masih gadis kan ya,” koment akun facebook Udo Mirzawan.

Lain lagi komentar akun facebook atas nama Rahmat yang menyarankan agar Nunik segera menikah.  “Yoo gek rabi too buk, umate kanjeng nabi Muhammad, ben tambah akeehh,” cetusnya.

Malah akun facebook atas nama Ina Shemoet mengutarakan kekagetannya. “Aku seng wes 30 tahun tak kiro wes gadis tuwek. Tapi iki jek enek konco ne seng urung rabi,” tulisnya.

Sementara akun facebook atas nama Noer Hidayach sedikit kecewa dengan sikap Nunik maju sebagai Calon Wagub Lampung. “Pimpin Lamtim dulu buk baru calon. Lamtim belum beres, udah nyalon aja. Baru juga jabat di Lamtim belum genap 5 tahun, sangat di sayangkan,” tulisnya sambil melampirkan emoji penyesalan.

Disisi lain, akun facebook atas nama Wahyu Ilham Alfaizi mengutarakan kebanggaannya terhadap sosok Nunik. “Duh-duh udah cantik cerdas bupati lagi entar lagi insyalloh jadi wagub….,” tulisnya.

Seperti diberitakan dalam dokumen daftar riwayat hidup model BB.2.-KWK Calon Gubernur dan Wagub Lampung yang diunggah diwebsite lampung.kpu.go.id dijelaskan data pribadi Nunik. Didalamnya dijelaskan bahwa Nunik merupakan gadis kelahiran Karang Anom, 12 Juli 1982. Nunik beralamat di Karang Anom RT/RW 011/004 Kecamatan Waway Karya. Dalam biodata yang ditandatangani diatas materai Rp6000 tertanggal 9 Januari 2018 itu, Nunik menegaskan status perkawinannya adalah belum kawin.

“Daftar riwayat hidup ini dibuat sebenarnya untuk digunakan sebagaimana mestinya dan bersedia dipublikasikan oleh KPU Provinsi Lampung,” tulis Nunik dalam surat pernyataan sebagai Bakal Calon Wakil Gubernur Lampung.

Sebelumnya dalam salah satu grup WhatsApps, timbul sikap pro-kontra soal status perkawinan Nunik yang maju dalam Pilgub Lampung, 27 Juni mendatang sebagai Calon Wagub yang berpasangan dengan Calon Gubernur, Arinal Djunaidi.

Hal ini disebabkan maraknya isu yang mempertanyakan apakah Nunik yang juga merupakan Ketua DPW Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Provinsi Lampung, sudah memiliki suami atau tidak. Alasannya, secara hakiki dan sebagai pejabat publik, calon wakil gubernur atau gubernur tidak boleh menyembunyikan hal-hal yang malah akan menimbulkan fitnah terkait status perkawinan dan lain-lain, meskipun ini sifatnya privaci. Apalagi tidak ada larangan orang tidak menikah atau terus lajang. Allah SWT tidak melarang manusia bercerai. Bahkan Islam juga tidak melarang seorang wanita menjadi isteri kesatu, kedua, ketiga, dan seterusnya.”

Untuk diketahui, terkait status Nunik ini sendiri sebagaimana dilansir dari http://regional.liputan6.com sempat menuai aksi unjuk rasa. Aksi unjuk rasa menyoal status anak adopsi Bupati Lamtim Chusnunia Chalim yang berlanjut ke ranah hukum. Bupati ketika itu melaporkan Lembaga Pengawas Pelayanan Publik dan Informasi (LP3-RI) Lampung ke pihak kepolisian atas tuduhan pencemaran nama baik dan perbuatan tidak menyenangkan.

Kepala Polres Lamtim AKBP Yudy Chandra Erlianto melalui Kasat Reskrim Polres Lamtim AKP Devi Sujana mengatakan pihaknya menerima laporan resmi Chusnunia Chalim pada Jumat, 21 Juli 2017. Polres Lamtim segera menyelidiki dan menyidik serta memanggil para saksi.

“Dilaporkan atas tuduhan pencemaran nama baik dan perbuatan tidak menyenangkan karena Chusnunia tidak terima nama anaknya dibawa dalam demonstrasi,” ujar Devi seperti dikutip Antara.

Sebelumnya, ratusan warga yang mengatasnamakan Lembaga Pengawas Pelayanan Publik dan Informasi (LP3-RI) Provinsi Lampung berdemonstrasi di depan kantor Pemkab Lamtim pada Selasa, 18 Juli 2017. Mereka menuntut penjelasan bupati terkait status anaknya yang berinisial AJ. Anaknya itu diketahui tertera dalam dokumen kependudukan (KK) Chusnunia yang dikeluarkan Dinas Pencatatan Sipil Jakarta Selatan. Di dalam KK ibunya bupati yang dikeluarkan Kantor Pencatatan Sipil Lamtim disebut sebagai cucu.

Pendemo menyampaikan tuntutan dan membawa spanduk serta sejumlah foto Chusnunia Chalim bersama AJ. Mereka akhirnya diterima pejabat Pemkab Lamtim yang menjelaskan persoalan anak bupati.

Juru Bicara LP3-RI Provinsi Lampung Johan Abidin mengatakan,””Kami hormati proses hukum itu,” saat dikonfirmasi terkait pelaporan Chusnunia Chalim ke polisi.

Dia mengatakan apa yang disampaikan LP3-RI adalah sikap murni aspirasi masyarakat kepada Chusnunia Chalim sebagai Bupati Lamtim. Menurut dia, banyak masyarakat Lamtim mempertanyakan status AJ.

“Langkah kami mengkritisi bupati karena banyak warga yang mempertanyakan anak bupati. Karena dari data yang kami punya dalam KK tersebut tidak disebutkan nama dari ayah AJ,” ujar dia.

Dia membantah demonstrasi itu bagian dari politik menjatuhkan Chusnunia Chalim. “Kami tidak ada kepentingan politik. LP3-RI Provinsi Lampung murni melakukannya untuk mengkritisi. Silakan dibuktikan jika kami punya kepentingan politik menjatuhkan bupati,” ujarnya.

Johan menambahkan, sebelum aksi demonstrasi tersebut, pihaknya telah berkirim surat kepada Bupati Lamtim sebanyak dua kali. Namun, surat tersebut tidak mendapat jawaban dari Chusnunia Chalim.

“Kami sudah berkirim surat sebanyak dua kali meminta penjelasan Bupati tentang status AJ. Pertama pada bulan Mei, tapi tidak dijawab. Lalu kami kembali berkirim surat pada bulan Juni, tapi tetap tidak dijawab, sehingga kami menggelar demonstrasi menuntut penjelasan itu,” ujar dia.

Terkait tuduhan bahwa LP3-RI Lampung justru telah mengeksploitasi anak, dia pun kembali membantah. Menurut dia, adanya demonstrasi itu menambah terang permasalahan itu, sehingga masyarakat tidak lagi menyoal status AJ tersebut.

“Kami pikir ini isunya telah dibelokkan. Kami sama sekali tidak ada unsur mengeksploitasi anak. Hanya saja karena materi demo itu adalah anak, sehingga menyertakan foto anak itu,” katanya pula.(red/net)