Mantan Ketua Bakumham Golkar Lampung Dukung Sikap Barlian Mansyur

BANDARLAMPUNG – Langkah H. Barlian Mansyur memilih mundur dari pengurus Partai Golkar Lampung karena kecewa sosok Ketua DPD Partai Golkar Lampung, Arinal Djunaidi terus dapat apresiasi. Kali ini mantan Ketua Bidang Hukum, HAM dan Otda (Bakumham) DPD Partai Golkar Lampung Wiliyus Prayietno, S.H., M.H., angkat bicara. Mantan jurnalis yang berprofesi sebagai advokat, menilai langkah Barlian sudah tepat.

Mengapa ? “Karena sekarang hampir tidak ada kebanggaan lagi menjadi pengurus golkar di era Arinal. Tiap hari mendapat hujatan dan aksi massa karena kuatnya peranan “korporasi” sehingga timbul kesan partai ini sudah tidak mandiri dan independen,” tegas Wiliyus yang juga pernah menjabat sebagai Ketua Baladhika Karya Provinsi Lampung.

Karenanya Wiliyus menilai langkah Barlian mundur sudah tepat. Bahkan ini menujukan jati dirinya sebagai politisi berintegritas.

“Saya yakin partai lain berlomba dan berebut mengajaknya bergabung. Dan yang rugi Partai Golkar yang akan ditinggalkan konstituennya. Tak mungkin yang bersangkutan bisa duduk di dewan jika tidak dicintai masyarakat. Saat ini di DPRD Kota Bandarlampung, dia satu-satunya anggota dewan tiga periode berturut-turut,” papar Wiliyus lagi.

Sebelumnya, sikap mundur Barlian mendapat dukungan dari Wakil Sekretaris DPD Partai Golkar Lampung, Asep Yani.  Menurut Asep, Barlian memiliki sikap ksatria dan jauh dari “kemunafikan”. Selain itu menunjukan eksistensi Barlian sebagai politisi kawakan yang mempunyai pendirian mempertahankan prinsip dan nilai kebenaran.

“Sekarang jarang ada politisi yang berani seperti Barlian Mansyur. Yang ramai politisi munafik. Yang enggan menyatakan kebenaran lantaran takut posisi atau jabatan terancam. Sehingga melakukan semua upaya, termasuk mengedepankan sikap “menjilat” sekalipun,” tutur Asep Yani.

Karenanya Asep yang juga Sekretaris Depidar SOKSI Lampung mendukung sikap Barlian yang mundur karena merasa tidak cocok yang kepemimpinan Ketua DPD Partai Golkar Lampung, Arinal Djunaidi.

“Malah saran saya, saudara Barlian harus lebih berani. Ungkap semua kebobrokan yang dia ketahui selama kepemimpinan Arinal. Termasuk soal carut marut Pilgub Lampung. Biar publik tahu. Katakan yang benar itu benar, meskipun pahit,” tandas Asep Yani.

Seperti diketahui, satu persatu kader Partai Golkar Lampung mundur. Ini seiring kekecewaan mereka pada, Arinal Djunaidi. Terbaru politisi yang juga anggota DPRD Kota Bandarlampung tiga periode, Barlian Mansyur menyatakan mundur dari kepengurusan.

“Cara berpolitiknya (Arinal,red) “kotor” dan tidak elegan. Saya kecewa dengan cara kepemimpinannya. Karenanya saya memutuskan mundur,” tegas Barlian.

Menurut Barlian, ada instruksi yang tidak lazim oleh Arinal sebelum hari H pecoblosan Pilgub Lampung, 27 Juni 2018 lalu. Sayangnya Koordinator Pemenangan Wilayah I Kota Bandarlampung tidak menyebut instruksi yang dimaksud. ”Suatu saat pasti saya ungkap. Untuk masalah ini saya siap jadi saksi mahkota,” tegasnya lagi.

Dipaparkan Barlian, dia dituding tidak bekerja di pemenangan Arinal-Nunik di Kota Bandarlampung. Padahal di TPS (tempat pemungutan suara,red) yang bersangkutan kalah telak. Padahal semua upaya sudah dilakukan. “Tapi ya sudahlah, yang penting saya sudah pegang kartu AS-nya. Pasti nanti akan saya ungkap carut marut pelaksanaan Pilgub Lampung, sehingga pasangan Arinal-Nunik bisa menang,” tutupnya.

Sebelumnya beberapa kader Partai Golkar sudah terlebih dulu mundur karena kecewa terhadap kepemimpinan Arinal. Sebut saja. Hi. Kaswan Sanusi yang mundur dari Ketua DPD Partai Golkar Lampung Tengah.

“Saya mundur lantaran ketidakcocokan. Khususnya terhadap gaya kepemimpinan Arinal. Tidak etis kalau saya ungkapkan. Biarlah saya yang memutuskan mundur sehingga tidak ada pertentangan. Yang pasti perlu saya tegaskan, di partai ini saya semata mengabdi. Tanpa ingin menyombongkan diri, saya tidak mencari hidup di partai. Untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, rezeki yang ada sangat berlimpah. Saya memiliki usaha dan penghasilan yang jelas, yang insya Allah lebih dari cukup,” tuturnya beberapa waktu lalu.

Selain Kaswan Sanusi, Miswan Rodi, anggota DPRD Lampung juga memilih mundur dari Partai Golkar. Dia bergabung Partai Nasdem. Miswan Rodi mengungkapkan alasan mundur karena kecewa dengan Arinal sehingga dirinya hengkang.

“Akibat sikap saya ini tak mengapa saya harus kehilangan jabatan dan status anggota DPRD Lampung,” tutur Miswan Rodi, Rabu (19/7/ 2017).

Menurut Miswan pada hakekatnya dia masih mencintai Partai Golkar. Bagaimanapun dia tidak lupa Partai Golkar yang telah menjadikan sebagai anggota DPRD Lamteng selama dua periode serta anggota DPRD Lampung.

Namun kini kondisi Golkar Lampung semasa dipimpin Arinal berbeda. Gaya kepemimpinan yang bersangkutan seperti mengelola perusahaan. Saling menonjolkan ego dan rasa individualisme. Tidak ada rasa solidaritas dan setia kawan. Yang muncul sikap saling curiga dan tidak percaya antara satu dengan lainnya.

Mirisnya lagi tidak ada pembelaan yang dilakukan oleh Arinal terhadap kadernya yang tertimpa masalah hukum. “Padahal tidak terhitung beberapa biaya yang telah saya keluarkan membesarkan Partai Golkar, semua murni dana pribadi. Tapi ternyata tidak ada apresiasi. Ini mendorong saya mundur dari Partai Golkar,” urai dia.

Tak hanya Kaswan dan Miswan, kader Partai Golkar Lampung lainnya, Jauharoh Haddad juga memilih mundur semasa kepemimpinan Arinal Djunaidi. Kader perempuan yang aktif di berbagai organisasi ini, kini memilih bergabung di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).(red)