Debat Cagub Kurang Inovatif

BANDAR LAMPUNG – Debat kandidat calon gubernur (Cagub) dan wakil gubernur (Wagub) Lampung yang dihelat di Ballroom Novotel Bandar Lampung, Sabtu (7/4) malam, tidak berjalan seru seperti yang diharapkan masyarakat. Faktanya, visi dan misi yang diungkapkan para Paslon terkesan datar-datar saja, kurang inovatif.

Mirisnya,  bukan visi misi dan ‘aksi saling serang’ yang membuat acara debat menjadi ‘hidup’. Melainkan sejumlah kelucuan dan kegugupan paslon menjawab pertanyaan yang justru membuat penonton terkekeh.

Misalnya ketika Cagub, Arinal Djunaidi tak mampu menjawab pertanyaan cepat yang diajukan moderator. Arinal patut bersyukur bahwa wakilnya, Chusnunia Chalim tampil lebih tenang. Boleh dikata, wanita yang karib disapa Nunik itu lebih bisa menghidupkan acara debat kandidat dan sekaligus menutupi kelemahan Arinal yang dari awal memang terlihat grogi.

Selain Arinal, cagub lainnya, Herman HN juga tidak terlihat luwes. Ia terkesan datar-datar saja menyampaikan visi dan misinya. Ia terus-terusan menyampaikan soal infrastruktur jalan, kesehatan dan pendidikan gratis, yang selama ini digaung-gaung sukses diterapkan di Kota Bandar Lampung yang telah dipimpinnya selama lebih dari lima tahun.

Sejujurnya, Herman juga terkesan tak mengungkapkan misi baru yang bakal dikejarnya jika terpilih sebagai gubernur. Hanya wakilnya, Sutono, yang mengaku punya sejumlah langkah  percepatan untuk meningkatkan pertanian.

Untuk Ridho dan Bactiar, kedua pasangan petahana ini terbilang cukup oke dengan performanya di acara debat ini.  Ridho mengungkap masalah kemiskinan yang mulai berkurang dan berhasil keluarnya Lampung dari tiga besar provinsi termiskin di Sumatera, serta langkah peningkatan infrastruktur jalan.

Ia dan Bachtiar juga cukup luwes menjawab pertanyaan yang dibuat oleh delapan tim pakar bergelar doktor pilihan KPU Lampung. Hanya sayangnya, Ridho kurang menunjukkan apa strateginya kelak jika kembali berhasil memimpin Lampung.

Sementara paslon nomor 4, Ahmad Jajuli, meski cukup luwes menjawab pertanyaan, namun ketidakhadiran Mustafa (yang tengah di bui KPK), jelas terasa berpengaruh.

Terlepas dari adu kecerdasan menjawab, acara debat itu diwarnai sejumlah kejadian. Misalnya, ketika Herman HN yang semula ogah menyalami Ridho Ficardo di awal acara, namun akhirnya mau juga mengulurkan tangannya untuk menyalami Ridho usai acara.

Berbeda halnya dengan Cawagub, Bachtiar Basri. Ia tak sungkan memberikan pelukan kepada para pesaing, termasuk juga dengan Herman  HN dan Sutono.

Pemandangan unik lainnya adalah ketika cawagub nomor urut 3, Chusnunia Chalim berhasil membujuk para peserta untuk melakukan foto weefie bareng dengan Paslon lainnya. Itulah momen ketika para kompetitor tersenyum bersama dalam satu bingkai foto.

Sementara Ketua KPU Lampung, Nanang Trenggono cukup puas dengan debat kandidat pertama ini. “Materi sudah cukup baik dan para pendukung juga lebih bisa diatur,” katanya.

Pada acara kedua, ia menjanjikan tampilan yang lebih baik, dengan menggali emosional para pasangan calon. “Kita ingin melihat bagaimana calon memimpin dalam hal emosionalnya,” kata Nanang didampingi tiga komisioner KPU lainnya. (ilo)