Bupati Mesuji Sebut 40 Desa Belum Dialiri Listrik

BANDAR LAMPUNG — Bupati Mesuji Khamami mengakui bahwa penyaluran listrik ke wilayah kabupatennya masih belum selesai. Hal itu karena proses pembangunan Gardu Induk (GI) oleh PLN belum tuntas. Akibatnya, pasokan listrik ke wilayah 40 desa di Mesuji belum normal, sehingga permukiman penduduk masih sering mati lampu dan tegangan listrik tidak normal.

“Kami sangat berharap penyelesaian Gardu Induk tepat waktu. Pembangunan tapak tower SUTET sudah selesai, namun 40 desa masih menunggu pasokan listriknya,” kata Bupati Mesuji Khamami Senin (25/9), menanggapi keluhan warga Mesuji yang sering mati lampu hingga saat ini.

Ia mengatakan saat ini sudah terbangun GI Mini di Lembu Kibang. Namun pasokan listrik masih belum normal dan tegangan listrinya masih belum stabil, sehingga pemadaman listrik masih terjadi di wilayah Kabupaten Mesuji.

Untuk mengatasi hal tersebut, ia berharap kepada PT PLN untuk menyelesaikan pembangunan jaringan transmisi dari Sumatra Selatan (Sumsel) ke Mesuji (Lampung) dengan penyelesaian tempat waktu. Meski tower saluran udara tegangan ekstra tinggi (Sutet) sudah selesai, ia menyatakan pasokan listrik belum tersedia, sehingga 40 desa masih menunggu aliran listrik.

Ia berharap warga tetap sabar mengenai permasalahan listrik di desanya. Persoalannya, pembangunan GI sudah selesai, namun transmisi listrik dari Sumsel masih belum selesai. Selama ini, menurut dia, pasokan listrik dari GI Tulangbawang.

Menurut dia, pembangunan menara Sutet sebagian sudah selesai hingga Desa Agungbatin, Kecamatan Simpang Pematang, Mesuji. Diperkirakan tahun depan, desa-desa di Mesuji sudah teraliri listrik.

Warga sejumlah desa di Mesuji mengeluhkan seringnya pemadaman listrik oleh PLN yang dilakukan secara mendadak tanpa adanya pemberitahuan sebelumnya. Mati lampu tersebut telah terjadi beberapa tahun silam, namun tak kunjung berubah hingga saat ini.

Menurut Apri, listrik padam di Mesuji tidak menentu waktunya. Bisa pagi, siang, dan atau malam hari. Lama pemadaman berkisar empat sampai lima jam. “Mati lampu setiap hari tidak siang tidak malam, yang jelas mati lampu sudah menjadi langganan,” kata warga Desa Brabasan, Mesuji.

Ia menyesalkan janji PLN yang menyatakan listrik di Mesuji akan normal setelah pembangunan transmisi tower Sutet pada September tahun ini. Namun, proses pembangunan belum selesai sehingga warga terus mengalami mati lampu.

Pemadaman listrik tanpa jadwal dan pemberitahuan dari PLN sangat merugikan warga. warga tidak bisa beraktivitas di rumah seperti mengisi air PAM atau menggunakan peralatan elektronik atau mesin lainnya. Seharusnya PLN dapat memberitahukan jika akan terjadi pemadaman listrik bergilir agar warga bisa bersiap-siap.(republika)