Tai-pan dan Cagub

BELUM lama ini kita (khususnya saya) dikagetkan adanya headline pemberitaan salahsatu Surat Kabar Harian (SKH) terbesar di Lampung. Intinya membahas tentang tokoh yang digadang-gadang maju sebagai calon Gubernur (Cagub) Lampung periode 2019-2024 ternyata dimodali oleh Tai-pan (baca konglomerat) salahsatu perusahaan gula (sebut saja PT. Sugar Group Companies). Tai-pan sendiri berdasarkan hasil browsing saya diartikan seorang pengusaha besar (umumnya Chinese) yang memiliki imperium bisnis yang luas.

Usai membaca SKH ini saya pun termenung. Tidak saya hiraukan berbagai pesan yang masuk di ponsel yang mempertanyakan maksud dan tujuan serta arah pemberitaan tersebut. Saat itu spontan saya hanya langsung teringat persahabatan dengan beberapa teman, yang maaf kebetulan berasal dari etnis Chinese.

Di dunia politik saya memiliki mentor yang sudah seperti kakak sendiri. Meskipun dari etnis minoritas Tionghoa, namun sikap dan prilakunya sangat santun. Dalam memberikan petunjuk dan arahan, dia teramat memperhatikan dan menjaga perasaan orang lain. Tak terhitung juga jasanya kepada saya sehingga saya bisa seperti “saat ini”. Dia selalu “menjaga” saya. Jadi tidak ada yang salah dengan mentor saya ini. Meski dia berbeda keyakinan dan berasal dari kaum Tionghoa.

Lalu di dunia bisnis. Saya mempunyai kenalan yang sangat dekat. Dia sehari-hari berprofesi sebagai pengusaha dan pemilik toko besi dan bahan bangunan. Kenalan saya inipun merupakan keturunan Tionghoa. Tapi jangan tanya kebaikannya. Disaat para pemilik toko yang berasal dari pribumi tidak mau menolong saat saya kesulitan uang tunai untuk membangun rumah misalnya, teman saya yang etnis China ini yang justru menjadi “malaikat penolong”. Saya boleh mengambil apa saja bahan bangunan di tokonya dengan sistem pembayaran belakangan. Semua tanpa bunga dan harga yang wajar. Jadi dengan kenalan saya yang pemilik toko besi dan bahan bangunan ini pun saya menilai tidak ada yang keliru dengan etnis Tiongkok-nya.

Kemudian dalam kehidupan kekeluargaan. Saya memiliki beberapa keluarga China yang dekat dengan keluarga saya. Sampai-sampai istri dan anak-anak saya sering ikut kumpul bersama. Bila keluarga besar saya sedang ada hajatan atau merayakan Hari Raya Idul Fitri, pasti yang bersangkutan sekeluarga bertamu kerumah bersilaturahmi dan mencicipi opor ayam dan makan ketupat bersama.

Begitu juga sebaliknya. Pas hari Raya Natal. Giliran anak-anak saya yang merajuk jika saya tidak membawa mereka berkunjung kerumah keluarga teman saya tadi. Begitu juga saat berwisata. Keluarga teman saya ini yang kebetulan memiliki rumah di Jakarta dan villa di Pulau Bali, selalu berpesan agar kami tidak membooking hotel. Tapi menginap saja di kediamannya. Jadi sekali lagi saya tegaskan tidak ada yang salah atau keliru dengan keluarga teman saya yang beretnis Chines ini. Kami sama-sama saling menghargai dan memiliki toleransi yang tinggi.

Karenanya begitu membaca headline berita tadi saya hanya bisa mengurut dada. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan yang namanya Tai-pan untuk mempergunakan uangnya. Mau ditabur dan dibuang dari atas helikopter atau dibakar semua uangnya pun itu haknya. Apalagi hanya sekedar untuk tujuan mulia mendukung cagub. Saya sedih jika kata Tai-pan berkonotasi negatif. Seperti diartikan maaf, China kaya yang berengsek. Padahal dia hanya beretnis China dan tidak ada yang salah bila dia kaya. Sangat miris teman-teman beretnis China namun dilabeli citra negatif.

Yang harusnya dikritisi sebenarnya adalah bukan sebutan Tai-pan atau etnisnya. Tapi jalannya usahanya. Benarkah yang bersangkutan sudah membayar pajak dengan setepat-tepatnya. Apakah usahanya tidak berpengaruh terhadap kerusakan lingkungan. Sudahkah jalan usahanya itu telah mensejahterahkan masyarakat sekitar seperti yang diributkan berbagai kalangan. Tidakkah usahanya itu telah menyerobot lahan seperti yang disoal oleh DPRD Tulang Bawang yang dalam waktu dekat bakal membentuk Panitia Khusus (Pansus) untuk meminta diadakan ukur ulang terhadap lahan Hak Guna Usaha (HGU) yang dimiliki?.
Atau bisa juga yang disorot adalah track record dan rekam jejak sang tokoh yang dimodali oleh sang Tai-pan tadi. Sudahkan dia mumpuni dan layak memimpin Lampung lima tahun kedepan? Benarkah yang bersangkutan tidak ada persoalan hukum sebagaimana maraknya gelombang aksi dan tuntutan massa yang berdemo di Kejati Lampung beberapa waktu yang lalu?.

Jika ini semua yang dikritisi saya sangat mendukung. Sebab itu menyangkut hajat hidup orang banyak dan dan terkait erat dengan kebijakan publik. Tapi jika yang disorot adalah etnis sang pemilik usaha dengan sebutan Tai-pan atau kehidupan pribadi sang tokoh yang digadang-gadang menjadi cagub, jujur saya sangat-sangat teramat menyesalkan. Mengapa ? Sebab ini jauh dari kehidupan nilai-nilai berbangsa yang mengedepankan Pancasila.

Puji Tuhan. Agaknya kekeliruan SKH yang tadi kini mulai dibenahi. Beberapa hari terakhir saya melihat iklan dan wajah sang tokoh yang dimodali oleh Taipan tadi kini terpampang jelas di halaman muka koran yang sempat “menyentilnya”. Tentunya dengan segala puja dan puji pemberitaan terhadap segala aktifitasnya.

Dari hati yang paling dalam saya selalu berdoa. Semoga puja-puji ini semata-mata karena ketulusan. Bukan lantaran telah “dibarter” oleh sang tokoh cagub atau sang Tai-pan tadi.(wassalam)