Sindiran Wartawan

SEBAGAI orang yang selalu belajar untuk beradab, saya sangat memaklumi dan dengan lapang dada menerima kritik dan sindiran yang dilakukan oleh Calon Presiden (Capres) nomor urut 02 Prabowo Subianto. Ini terkait istilah “pemilintiran” atau “manipulasi” terhadap beberapa isu-isu pemberitaan ditengah masyarakat (baca, ruang publik) yang dilakukan beberapa media terkenal.

Rasanya sedih dan miris, ketika melihat dan membaca salahsatu media yang mengambil tema misalnya “bahwa jumlah peserta reuni akbar 212 di Monumen Nasional (Monas), Minggu (2/12) lalu hanya diikuti sekitar 40 ribu atau 50 ribu peserta. Atau yang mengangkat “isu ada satu peserta reuni akbar 212 yang meninggal dunia ditengah “jutaan” peserta aksi lainnya. Tentu berita-berita ini kadarnya lebih lucu dari menonton lawakan Grup Srimulat.

Seperti ada “kewarasan” yang hilang saat membaca berita itu. Seperti ada akal sehat ditepikan dan terpinggirkan. Padahal slogan, yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah, harusnya bisa menjadi pedoman paling sederhana yang dimiliki seseorang yang mengaku berprofesi sebagai wartawan. Itu jika “dirinya” atau “medianya” ingin dipercaya dan dihormati.

Nanti dululah, bicara soal ketrampilan lain. Seperti wartawan harus menguasai teknik wawancara, liputan, investigasi dan lainnya. Atau menjadi lulusan dan peserta terbaik saat penggelaran Uji Kompetensi Wartawan (UKW).

Ini jika wartawan tidak ada atau tidak memiliki apa yang dinamakan “standar kejujuran” yang sifatnya universal dan mengedepankan akal sehat. Bukan wartawan yang menonjolkan persepektif ketidakwarasan, kedunguan, sontoloyo, keidiotan, genderuwo atau berbagai istilah lain yang ramai di media sosial. Sebab kalau  ini terjadi, jangan heran ketika banyak orang, kini kehilangan rasa hormat terhadap profesi wartawan.

 

Jujur saja, sebenarnya saya tak terlalu peduli dengan “politik”. Siapapun pemenang momen politik, seperti Pemilihan Bupati/Wakil Bupati, Walikota/Wakil Walikota, Pemilihan Gubernur/Wakil Gubernur serta Pemilihan Legislatif (Pileg), tidak membuat ada yang berubah dengan hidup saya. Apalagi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 yang akan datang.

 

Tapi ketika, lantaran adanya momentum politik itu, membuat kita, terutama beberapa profesi yang harusnya bisa menjaga jarak dan menempatkan diri secara objektif, namun malah justru menjual “harga dirinya”, melanggar norma dan etika suatu profesi, maka sudah sepatutnya harus dikritisi dan dilawan. Bahkan tidak patut untuk dihormati.(wassalam)