Pilpres, Pilih Penonton

PASCA ditetapkannya Calon Presiden dan Wakil Presiden RI untuk bertarung dalam Pilpres 2019, membuat publik seolah terbelah. Pendukung nomor 01 , Joko Widodo dan Maruf Amin, tampak militan mempromosikan jagoannya. Begitu juga kubu penantangnya nomor 02, Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno, yang juga berani pasang badan terang-terangan meneriakkan yel-yel 2019 Ganti Presiden.

Tak hanya didunia nyata. Di dunia maya, media sosial (medsos) pertarungan tak kalah seru. Bahkan perdebatan kadang-kadang sudah mengarah ke kampanye hitam. Bukan lagi sekedar kampanye negatif.

Karenanya dibutuhkan “kelapangan dada” dan kedewasaan dalam menghadapi hiruk-pikuk perdebatan tersebut. Tidak boleh terbawa emosi. ‘Baperan’ istilah anak sekarang.

Ada baiknya rakyat Indonesia yang sudah terdaftar sebagai pemilih bisa benar-benar mencerna, apakah sudah Presiden Jokowi, berprestasi. Sudahkan menunaikan semua janji-janjinya dalam kampanye Pilpres 2014 lalu. Jika sudah, tentunya sangat layak untuk dipilih kembali.

Atau sebaliknya. Dinilai tidak berhasil. Sehingga perlu ada presiden baru. Dan pilihan ada ditangan rakyat Indonesia untuk menentukan pilihan sesuai hati nurani.

Terlepas dari itu semua, supaya tidak baper, ada baiknya kita meresapi  ucapan budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun). Dalam politik (dikaitkan momen pilpres tentunya) Caknun menegaskan dirinya tidak memiliki peran apa-apa. Dia hanya memilih menjadi penonton saja. Wasit ya bukan, hakim garis ya tidak. Ofisial juga tidak. Penonton saja.

Bila tokoh sekaliber Caknun, mengaku bukan siapa-siapa, apalagi “kita” yang tidak ada apa-apa. Jadi jangan ikut-ikutan. Marah-marahan. Tak tegur-teguran hanya karena berbeda dukungan. Apalagi dengan teman, sahabat atau tetangga.

Sebab kalau kita sakit dan memerlukan bantuan, atau lebih ekstrem lagi jika kita mati alias meninggal dunia dicabut nyawa oleh malaikat Izroil, belum tentu Jokowi atau Prabowo datang untuk membantu atau melayat. Melainkan teman, sahabat dan tetangga terdekatlah yang pertama kali menolong dan mendoakan.

Jadi kesimpulannya jagalah silaturahmi. Soal pilihan, nanti 17 April 2019 kita tentukan bersama. Apakah Jokowi akan kembali melenggang atau terjengkang. Semua ada ditangan kita. Jadi sekali lagi, jangan ribut-ribut. (wassalam)