Jokowi dan Kasus Novel

TAK terasa sudah satu tahun teror sadis yang menimpa Novel Baswedan berlalu. Dan hingga kini kasus teror yang menimpa penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini terkesan timbul tenggelam penyidikannya. Teror berupa penyiraman air keras yang membuat mata Novel Baswedan nyaris buta atau sudah buta tersebut, entah mengapa belum berhasil diungkap jajaran Polri.

Padahal Polri memiliki semuanya. Kemampuan penyidiknya sudah teruji dan diakui dunia internasional. Misalnya saat mengungkap kasus Bom Bali atau sindikat terorisme. Peralatan yang dimiliki pun tergolong sangat canggih.

Namun mengapa kasus yang menimpa Novel Bawesdan yang tergolong kasus biasa dan sederhana, justru tidak pernah berujung pada pengungkapan. Pertanyaan ini, hanya jajaran Polri yang bisa menjawabnya.

Yang pasti yang harus menjadi pertanyaan kita semua benarkah pemerintahan yang ada kini benar-benar mendukung pemberantasan korupsi? Jika jawaban iya, maka pengungkapan kasus Novel Bawesdan dan penyerangan terhadap pegawai KPK lainnya, seharusnya menjadi salahsatu indikator penilaian.

Namun bila tidak, maka sudah semestinya jelang ajang pemilihan Presiden (Pilres) tahun 2019 mendatang, kita harus mempertimbangkan berbagai pilihan. Salahsatu dengan coba memahami adanya gerakan tagar #GantiPresiden2019.

Sebab jika Presiden RI yang sekarang, Bapak Ir. Joko Widodo, terkesan kurang peduli dan tidak dapat menyelesaikan masalah ini dalam kapasitasnya sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan, maka ada baiknya, beliau dapat menghitung dan berpikir ulang guna melanjutkan kepriode yang ke-2.

Mengapa ? Karena bisa saja masalah ini malah menjadi batu sandungan. Dimana rakyat Indonesia mulai berpikir untuk memilih pemimpin baru yang lebih tegas dalam penegakan hukum. Tidak hanya sekedar pemimpin yang pandai beretorika.(wassalam)