Bos Chicken Crush Ungkap Dugaan Pemerasan

BANDAR LAMPUNG – Owner atau pemilik Chicken Crush, restoran di lantai 4 Mall Boemi Kedaton yang dilaporkan menjual ayam busuk, merasa janggal dengan tudingan yang memojokkan usaha dagangnya.

“Saya lihatnya aneh saja, masa yang komplain hanya bapak, ibu dan anak kecil usia 1,5 tahun, sementara customer lain nggak ada yang protes, biasa-biasa saja,” kata CEO Chicken Crush, Ardantya Syahreza seperti dikutip radarlampung.co.id.

Ardantya mengatakan, saat itu ada sepasang suami istri bersama anaknya datang, kemudian membeli bakso dua porsi dan ayam potong bagian paha.

“Tiba-tiba suaminya itu datang ke kasir dan minta pegawai saya untuk mencium daging yang sudah dibungkus plastik dan plastik yang mereka bawa itu bukan dari kami,” jelasnya.

Sekitar satu jam kemudian, kata Ardantya, pasangan itu datang kembali sambil membawa dua orang seraya membawa nasi dan ayam dalam plastik. “Dua orang yang dibawa itu satu berpakaian batik, dan satu berpakaian putih, dan memanggil supervisor sembari membawa nasi dan ayam dalam sebuah plastik,” terangnya.

Ardantya berdalih pihaknya tidak pernah menyediakan plastik dalam setiap pengemasan namun selalu dalam kemasan kotak.

“Yang jadi pertanyaan kami itu plastik dan ayam dari mana mereka itu, benar gak dari tempat kami,” katanya.

Ia pun kecewa dengan kedua orang tersebut yang telah mengintimidasi kedua pegawainya yang saat itu sedang bertugas. Bahkan, mereka masuk ke dalam bagian dapur penyimpanan makanan dengan cara memaksa.

“Mereka itu siapa, main masuk saja ke bagian dapur, padahal nggak ada izin, mereka itu bukan polisi dan Dinas Kesehatan. Karena mereka masuk zona pengamanan kami,” tegasnya.

Kata dia, restorannya memiliki SOP yaitu dengan melakukan pengecekan setiap ayam potong masuk. “Lalu kami lakukan marinasi dan masukan ke dalam mesin pembeku, ini sudah SOP dan pastikan dalam kondisi baik,” tandasnya.

Arduantya menduga ada unsur pemerasan dalam kejadian tersebut. i “Apakah ya, setelah makan daging ayam tak layak konsumsi langsung sakit perut dan BAB. Padahal itu jedahnya hanya 15 menit. Tapi, ini sedang kami selidiki ayam dibawa punya kami atau bukan,” ungkapnya.

Terus dia, bahkan kedua orang tak dikenal tersebut sempat melakukan negosiasi dengan meminta uang ganti rugi sebesar Rp 15 juta rupiah. “Ini aneh saja, ayam harganya berapa tapi meminta ganti rugi nggak wajar, kalau untuk customer terbukti sakit karena ayam goreng kami, kami siap mengobati. Tapi, inikan nggak terbukti, bahkan mereka minta turun Rp 10 juta untuk damai,” terangnya.

Atas kejadian tersebut, Ardantya mengaku, akan mengambil langkah mensomasi karena sempat ada indikasi intimidasi terhadap pegawainya. “Saya akan laporkan kejadian ke Jakarta, bahwa ada praktek tidak baik di Lampung, saya ingin melindungi kuliner karena saya tidak ingin ada praktek seperti ini terjadi ditempat lain,” paparnya.

Sebelumnya diberitakan, tidak terima dengan makanan siap saji yang dipesannya yang diduga tidak layak dikonsumsi, sepasang suami-istri melaporkan salah satu restoran siap saji (Chiken Crush) yang berada di lantai 4, Mall Boemi Kedaton (MBK) Bandarlampung, ke Polresta Bandarlampung, Kamis (21/6).

Ratu Meriska Sari (24) mengaku menjadi korban oleh restoran makanan siap saji yang berada di lantai 4, MBK, yang diduga menyediakan ayam tidak layak konsumsi atau ayam tiren (mati kemarin). “Saya sama suami makan bakso yang ada di MBK, sedangkan anak saya yang masih berusia satu tahun saya pesankan chiken itu. Kemudian saya suapin anak saya itu, tapi kok ada lalat dekati makanan ini dan nggak mau pergi dari tangan saya, tapi ayam itu sudah dimakan anak saya,” ujarnya/ (rdr)