UNIVERSITAS NERAKA JAHANAM Oleh: Eddy Rifai*)

Ia seorang profesor, aktif menulis di media massa, kritis, cerdas, arif bijaksana, juga peduli. Ia senior saya, bahkan ia sudah menjadi dosen tatkala saya masih menjadi mahasiswa, banyak membantu dan membimbing saya, bahkan beberapa kali melewati masa-masa sulit ia “pasang badan”. Salah satunya, waktu saya Pemred SKM Teknokra Unila. Surat kabar memberitakan tentang praktik jual-beli nilai di kampus yang dilakukan beberapa dosen. Berita sudah memenuhi syarat-syarat pemberitaan, termasuk ada wawancara dengan narasumber yang sanggup buktikan bahwa berita itu benar, tetapi banyak dosen marah, beberapa pimpinan fakultas juga marah.

Pimpinan universitas terbelah ada yang marah dengan saya, tetapi ada yang membela saya. Untungnya beberapa senior pers mahasiswa dan mantan-mantan pimpinan Unila, seperti Prof. Muhajir Utomo, Rizani Puspawijaya, dan Anshori Djausal termasuk beliau ini yang sekarang menjadi profesor pada turun gunung dan membantu berdialog dengan pimpinan universitas dan fakultas. Kesimpulannya, wartawan dan redaktur mahasiswa yang menulis berita hanya ditegur lisan, tidak diskors.

Saya diminta mengundurkan diri, karena pemred akan dijabat oleh mahasiswa, tidak lagi oleh dosen, sebagai konsekuensi perubahan dari sistem NKK/BKK ke SMPT. Akhirnya saya mundur dari Pemred, kebetulan juga sudah terpilih menjadi Pembantu Dekan III, sehingga tidak baik juga kalau rangkap jabatan.

Peristiwa itu sudah lama terjadi, tetapi kemarin ketika beliau memberi sambutan, beliau mengucapkan istilah yang mengusik tentang kekritisan kita sebagai akademisi tentang rencana pembukaan Prodi dengan kelas eksekutif. “Kita jangan sampai menjadi Universitas Neraka Jahanam,” katanya.

Saya mengingat-ingat, tentang sebuah universitas negeri di Jakarta yang dulunya berupa institut kemudian menjadi universitas. Beberapa dosen melaporkan rektornya ke ombudsman karena nepotisme, mengangkat keluarga dan sanak saudaranya menjadi pejabat di lingkungan universitas dan fakultas serta adanya plagiarisme pada beberapa prodi pasacasarjana, bahkan pada prodi S3.

Yang lebih parah lagi, sebagaimana ditulis pada blog Supriadi Rustad, Guru Besar Universitas Dian Nuswantoro, Semarang, yang menjadi Tim Evaluasi Kinerja Akademik (EKA) Perguruan Tinggi, Kemenristekdikti. Walaupun dia tidak menyebut nama universitas tersebut, ia menceritakan dalam tulisannya berjudul “Promotor Nyambi Provider”. “Sang promotor telah terbukti memecahkan rekor pembimbingan. Ia membimbing lebih dari 400 doktor dan meluluskan 118 orang doktor hanya dalam waktu 8 bulan. Seluruh penduduk negeri hanya bisa terdiam dan terheran-heran, membayangkan ia memiliki banyak kawan dan bangga dengan sejumlah kejumawaan. Promotor dan provider adalah dua makhluk yang sangat berbeda”.

“Promotor bertugas mempromosikan hal yang sudah ada, sementara provider bertugas menyediakan hal yang belum ada. Rupanya, sang promotor telah memainkan peran ganda. Selain sebagai promotor, ia juga nyambi menjadi provider ijazah untuk bidang apa saja.

Sekalipun terjadi di negeri dongeng, namun penjelasan ini cukup bisa menghibur logika tentang mengapa seorang profesor bisa memecahkan rekor dunia”. Tulisnya tentang plagiarisme yang terjadi di kampus tersebut.

Sebulan kemudian setelah tulisan itu, keluar keputusan Menristekdikti yang memberhentikan sementara rektor berdasarkan laporan Tim Evaluasi Kinerja Akademik (EKA) Perguruan Tinggi, Kemenristekdikti, karena adanya plagiarisme pada kampus tersebut. Padahal sebelumnya rektor sedang melaporkan beberapa dosen ke polisi dengan menggunakan UUITE sebagai fitnah/pencemaran nama baik, karena para dosen yang melaporkan rektor dianggap memfitnah/mencemarkan nama baik rektor. Termasuk pula kemudian rektor melaporkan Menristekdikti ke polisi.

Itulah yang terjadi pada Universitas Neraka Jahanam, yang kalau teman saya seorang jurnalis senior di Lampung mendengar, mungkin dia akan marah, karena almamaternya menjadi contoh jelek dan guyonan kepanjangan yang sangat sarkasme dan pedih. Tetapi mungkin dia juga maklum, kalau yang bicara itu seorang profesor panutan dan gurunya juga. Pernah memang dalam suatu diskusi dia balik bertanya “Kalau kampusku Neraka Jahanam, kalau kampusmu, apa kepanjangannya?” tanyanya sengit. “Ya, Universitas Lam……” jawab saya.

“Weleeeh, mbelgedes!!!” sergahnya. “Kalau itu semua juga tahu. Kepanjangan yang lain…..sampeyan takut yah dilaporkan UUITE…” katanya ketus. Saya diam saja, melamunkan kepanjangannya apa? Biar temanku yang jurnalis senior itu saja yang mereka-reka kepanjangannya, sepanjang kampusku tidak ada masalah, kenapa takut.

Asal saja jangan ada yang membuat akronim sebagai Unlam. Kadang-kadang, teman-teman di Jakarta dan Jawa bilangnya Unlam, padahal Unlam kepanjangannya Universitas Lambung Mangkurat di Kalimantan bukan di Lampung.

Bahkan ada yang menganggap universitas yang negeri itu Universitas Bandar Lampung. Ya biarkan saja, namanya juga tidak tahu, asal buat kepanjangannya yang bagus-bagus aja, jangan seperti orang Jawa Tengah, buat kepanjangan Unpad, Universitas Pangeran Diponegoro, katanya. Karena tahunya pahlawan mereka adalah Pangeran Diponegoro, sehingga Undip dan Unpad merupakan nama pahlawan Diponegoro.

(*Konsultan Hukum dan Direktur Utama Garuda Institut)