Tak Tergoda Money Politik, Warga Lampung Harus Contoh Pilgub Jakarta

Tak Terpengaruh Uang dan Anti Pemimpin Penista Agama

BANDARLAMPUNG – Masyarakat Lampung harus belajar dari Pilgub Jakarta. Pasalnya meski “dihujani” money politik dan pembagian sembako, mereka tetap tak terpengaruh. Mereka bersikukuh memilih Calon Gubernur-Wakil Gubernurnya sesuai hati nurani. Terutama para calon yang tidak terpengaruh intervensi asing (baca, cukong red) atau terlibat kasus penistaan agama.

“Jadi saya harap juga pemilih di Lampung bersikap sama dengan Pilgub Jakarta. Jangan mau “dibeli” suaranya meski dilapangan ada salahsatu cagub-wagub yang tabur money politik,”  tutur Ali Sopian., S.H., Kordinator Tim Masa Perubahan (MP) Provinsi Lampung.

Menurut Ali Sopyan, di momen pilgub ini masyarakat Lampung harus berani dan secara mandiri menentukan pilihan sesuai hati nurani. Tidak terpengaruh money politik dan intimidasi.

“Saya setuju himbauan para tokoh masyarakat. Dimana mereka berharap masyarakat berhati-hati memilih pemimpin Lampung di Pilgub 27 Juni 2018. Tidak memilih pemimpin produk “pabrikan” yang disokong cukong atau taipan. Sebab ini bisa membuat Lampung “tergadai”. Selain itu, pilih Cagub-Wagub Lampung yang dekat agama dan ulama. Jangan sampai merupakan penista agama,” tuturnya.

Seperti diketahui Pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan-Sandiaga Uno, mengungguli pasangan Basuki T Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat di Pilkada Jakarta beberapa waktu lalu.  Menurut Lingkaran Survei Indonesia (LSI), isu pembagian sembako dan money politik justru diduga menjadi faktor kekalahan Ahok-Djarot. Hal itu diungkapkan peneliti LSI Rully Akbar. Dia mengatakan faktor kekalahan Ahok-Djarot dikarenakan rumor pembagian sembako oleh pendukung dan simpatisan di Jakarta. Tudingan bagi sembako merusak citra Ahok-Djarot.

“Faktor gerilya sembako yang dilakukan simpatisan pasangan ahok-djarot akhirnya menjatuhkan sendiri atau menjadi blunder besar bagi pasangan Ahok Djarot,” kata Rully sebagaimana dilansir berbagai media.

Faktor lainnya, kata dia, masyarakat masih terpengaruh ucapan Ahok soal surat Al-Maidah ayat 51 dihubungkan dengan Pilgub DKI. Rully menilai warga mencap pernyataan Ahok itu sebagai bentuk penistaan agama meski proses hukum di pengadilan masih berjalan. “Isu penistaan agama, jadi memang mayoritas manusia di atas 50 persen menganggap Basuki Tjahaja Purnama dengan pernyataan kemarin soal Al Maidah 51 adalah salah satu penistaan agama. Warga Jakarta ogah dipimpin seorang terdakwa penista agama,” tegasnya.

Untuk Pilgub Lampung sendiri adanya dugaan maraknya politik uang agaknya bukan hisapan jempol. Karenanya KPU-Bawaslu, TNI/Polri serta segenap elemen masyarakat dituntut partisipasi mengawasi money politik oleh salahsatu pasangan calon (paslon) di tengah-tengah masyarakat.

Terbaru Bawaslu Lampung mengaku menerima laporan dari Panwas Lampung Tengah (Lamteng) soal dugaan money politik yang diduga dilakukan tim pasangan calon Arinal Djunaidi – Chusnunia (Nunik) di Desa Sinar Seputih, Kecamatan Bangun Rejo.

“Kami sudah mendapat laporan dari Panwas Lampung Tengah bila ada laporan dari masyarakat terkait praktik politik uang. Kami langsung perintahkan panwas menindak laporan itu,” kata Komisioner Bawaslu Lampung Iskardo P Panggar, Minggu (24/6) sebagaimana dilansir fajarsumatera.co.

Diketahui, Minggu (24/6) Ibu Nuryati warga Desa Sinar Seputih, Bangun Rejo, Lamteng melaporkan terkait dugaan politik uang yang diduga dilakukan tim pemenangan Arinal – Nunik ke Panwas setempat. Dalam surat laporan tertulis, pada Sabtu (23/6) sekitar pukul 20.00 waktu setempat Ibu Nuryati yang sedang duduk di ruang tamu kediamannya didatangi seseorang wanita, kemudian wanita itu memberikan uang Rp50.000 dan meminta kepada Ibu Nuryati untuk mencoblos paslon nomor urut 3 Arinal Djunaidi – Chusnunia Chalim. Dan keesokan harinya, Ibu Nuryati melaporkan peristiwa yang dialaminya semalam ke Panwas Lamteng dengan melampirkan barang bukti uang Rp50.000 serta tiga orang sebagai saksi.

Sementara itu di Tanggamus, masyarakat Peduli Pemilu menangkap oknum salahsatu Kepala Pekon, Sumani, yang sedang membagikan amplop berisi uang kertas pecahan Rp50.000 di Kecamatan Talang Padang, Tanggamus, Minggu (24/6). Salahsatu warga Solihin Rahmat, mengatakan Sumani diduga melakukan money politik di wilayah kerjanya Pekon Betung, Talang Padang Minggu (24/6), pukul 11.00 WIB.

Melihat kejadian tersebut, Solihin melaporkan tindakan yang dilakukan kepala pekon itu ke kantor Panwascam Talang Padang dan menyeretnya ke kantor Panwaskab Tanggamus.

“Kejadian ini terjadi tadi siang sekira pukul 11.00 WIB dan hal ini langsung kami laporkan kepada panwascam dan langsung kami giring ke panwaskab berikut barang bukti jumlah amplop diduga berisikan uang Rp50.000,” terangnya, Minggu (24/6).

Sebelumnya KPU, Bawaslu dan jajaran TNI/Polda Lampung telah diminta tokoh masyarakat M. Alzier Dianis Thabranie proaktif mewaspadai gerakan money politic jelang Pilgub. Sudah semestinya, aktor “intelektual” penyebaran money politic ini segera ditangkap.(red/net)