Kisah Keluarga Tuna Netra, 3 Hari Tidak Makan karena Tak Ada yang Minta Urut

PESAWARAN – Mirisnya melihat kehidupan Sri Rujito (48). Di tengah sulitnya ekonomi, warga Desa Bogo Rejo Dusun 5 Kecamatan Gedongtataan Kabupaten Pesawaran yang memiliki cacat mata ini hanya mengandalkan hidup dari hasil jasa urut yang tidak seberapa.

Penghasilan yang tidak menentu membuat Sri Rujito ‘kembang kempis’ menghidupi keluarganya, terutama tiga anaknya. Apalagi dua diantaranya masih sekolah.

“Saya tuna netra dari sejak umur 3 tahun mas, maka saya hanya mempunyai hasil dari upah urut selama ini untuk bertahan hidup,” ungkapnya.

Hidup di rumah geribik berukuran 5×5 meter, ia terus bisa berusaha untuk menyekolahkan anaknya.

“Anak saya yang pertama Andre Yanto (14) tahun putus sekolah, Eko Arif Nugroho (8) kelas dua (SD) dan Triadiyanto (7) kelas (1) SD. Ya kalau bisa anak saya sampai lulus SMA. Itu harapan saya,”ujarnya.

Sri Rujito mengakui selama ini ia hidup cukup prihatin. Bahkan pernah terpaksa tiga hari berpuasa karena tidak ada makanan untuk dimakan.

” Ya mas, saya pernah tidak makan selama 3 hari mas, karena tidak ada yang urut. Tapi Alhamdulilah, isteri dan anak -anak saya tidak rewel,” katanya. Saat menceritakan ini terlihat lelehan air berlinang di sudut matanya.

Sebagai pria dengan keterbatasan fisik, Sri tentu berharap bantuan, khususnya dari pemerintah daerah.

Kata dia, selama ini ia mendapat fasilitas pemerintah berupa Kartu Indonesia Sehat (KIS), Progam Keluarga Harapan (PKH), BPJS dan Raskin saja.

“Bantuan ini hanya baru 2 tahun kita dapat dari pemerintah.Malah, dulu kalau raskin kita dipinta duit Rp13 ribu untuk 5 kilogram (kg),” katanya.

 

Sri Rujito berharap pemerintah juga mau menengok rumahnya yang reyot dan mau berbelas kasihan memperbaikinya melalui program bedah rumah .

“Kalau hujan lebat, dapur dan ruang tamu kemasukan air,” katanya sedih. (don)