Opini : Dr. As’ad, S. Ag., S.Hum., M.H., C.Me.
Dosen MK. Pancasila dan Kewarganegaraan UIN JuraiSiwo Lampung
Indonesia adalah bangsa muda yang belum genap berusia 100 tahun dengan jumlah pulau yang lebih dari 17.000. Memiliki ratusan bahasa lokal , etnisitas dan sub-kultur yang –saking beragamnya– jika diibaratkan sebagai sebuah negara, maka Indonesia adalah negara dengan ratusan negara di dalamnya. Oleh karena itu, kemajemukan masyarakat dan budaya yang terdapat di Indonesia itu adalah keniscayaan yang perlu dibanggakan, karena bangsa dan negara kepulauan yang terbesar dan terluas hanya terdapat di satu bangsa, yaitu Indonesia. Selain itu, bangsa Indonesia adalah bangsa yang terbangun dari hasil interaksi panjang, lebih dari 300 suku bangsa, dengan 250 jenis bahasa yang berbeda dan perpaduan dari kelompok agama besar di dunia –Islam, Kristen, Hindu, Budha dan Konghucu. Luar biasa.
Untuk itu, sebagai sebuah bangsa yang sedang bertumbuh, Indonesia harus selalu dijaga keutuhannya dari trigger atau pemicu segragasi, invasi, ilfiltrasi bahkan konflik horizontal yang potensial terjadi di tengah kemajemukan. Salah satunya adalah akibat perubahan sosial seiring dengan perkembangan teknologi informasi yang ditandai dengan digitalisasi di semua sektor kehidupan masyarakat, tak terkecuali media sosial. Pada bagian lain, situasi geopolitik yang terjadi di Rusia, Ukraina, Timur Tangah dan –terkini—Venezuela dan isu pencaplokan Greendland oleh Amerika Serikat juga patut diwaspadai.
Selain tentu kewaspadaan nasional perlu terus ditingkatkan, pendidikan politik bagi masyarakat juga harus senantiasa dikedepankan. Dalam konteks inilah Gen Z (di Indonesia) sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari komunitas besar bangsa Indonesia perlu mendapatkan perhatian yang cukup. Mengapa? Karena berdasarkan data resmi yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada sensus penduduk tahun 2020, jumlah Gen Z mencapai angka 27,94% dari keseluruhan penduduk Indonesia. Angka populasi yang begitu besar. Menariknya gen z adalah mereka yang berada dalam usia produktif dan aktif. Merekalah yang kini sangat adaptif dan familiar dengan media sosial.
Harus diakui bahwa era digital yang ditandai dengan perkembangan teknologi yang begitu luar biasa membawa dampak positif dan kemudahan-kemudahan yang sulit dirasakan di era-era sebelumnya. Saat ini dunia serasa dalam genggaman dengan adanya beragam aplikasi. Namun demikian perkembangan teknologi tersebut pada bagian lain, menyebabkan terjadinya perubahan kultur di tengah masyarakat terutama di kalangan Gen Z. Generasi yang sekarang mendominasi kancah kehidupan sosial kemasyarakatan di Indonesia, terutama dikaitkan dengan kehidupan social, ekonomi dan politik. Untuk itu diperlukan alat penjaga moral dan kurikulum yang integral untuk membingkai dan menuntun terutama generasi muda bagaimana memandang potensi dan tantangan negaranya, yang sangat mungkin menjadi incaran negara-negara besar terutama akibat melimpahnya sumber daya alam maupun serta letak geografis yang sangat strategis. Sekali lagi case yang terjadi di Venezuela dan isu pencaplokan Greendland oleh Amerika Serikat –untuk sekedar mengambil beberapa contoh— adalah bukti nyata bahwa kekayaan alam suatu negara adalah sumber daya yang sangat mungkin diperebutkan oleh pihak luar/negara asing dengan cara apapun, tak terkecuali invasi militer Dalam konteks inilah menurut keyakinan penulis –terutama dalam kapasitas sebagai dosen pengajar mata kuliah Pancasila dan Kewarganegaraan, sesungguhnya topik-topik yang beririsan dengan nilai-nilai Pancasila masih sangat relevan dengan perkembangan zaman untuk menjadi acuan dan asupan bagi kalangan Gen Z yang bisa membekali mereka dalam menatap masa depan mereka sekaligus masa depan bangsa Indonesia di tengah isu-isu global. Tema dan materi tentang Pancasila dapat menjadi benteng menghadapi arus informasi yang begitu pesat yang berpotensi merusak keragaman dan integritas bangsa yang telah lama dibangun oleh para founding fathers kita terdahulu.
Eksistensi Gen Z di tengah Paradoks Informasi
Dikutip dari Wikipedia, para peneliti dan media populer menggunakan pertengahan hingga akhir tahun 1990-an sebagai tahun awal kelahiran dan awal tahun 2010-an sebagai tahun akhir kelahiran Gen Z Dalam bahsa yng lebih sederhana, gen z dalag mereka yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012. Hal ini memungkinkan adanya perbedaan di setiap wilayah atau negara atas pengklasifikasian rentang usia masing-masing generasi, salah satu yang menjadi pertimbangan dalam hal ini adalah perkembangan teknologi di setiap negara atau wilayah yang tidak sama, yang akan berpengaruh terhadap pola hidup, mindset, pengalaman, psikologi, dan lain sebagainya pada setiap generasi. Genzi atau Generasi Z yang digunakan di Indonesia berawal dari tahun 1997 hingga 2012. Sebagai mereka kini adalah pekerja aktif ataupun siswa dan mahasiswa di bangku kuliah.
Sebagai generasi sosial pertama yang tumbuh dengan akses ke Internet dan teknologi digital portabel sejak usia muda, Gen Z, meskipun belum melek digital, telah dijuluki “digital native” atau orang-orang yang tumbuh bersamaan dengan reformasi digital. Di seluruh dunia, genzi menghabiskan lebih banyak waktu pada perangkat elektronik dan pada bagian lain lebih sedikit waktu untuk membaca buku dibandingkan generasi sebelumnya. Sementara itu perkembangan teknologi terutama teknologi informasi yang begitu masif memungkinkan informasi begitu cepat tersebar tanpa filter. Maraknya media sosial juga membuka kran seluas-luasnya bagi seluruh kalangan masyarakat seluruh dunia untuk terhubung satu sama lain tanpa penghalang dan dan batas. Tidak ada lagi gap. Hal ini memungkinkan terjadinya paradoks di dalam dunia informasi itu sendiri. Di mana, saking banyaknya –informasi yang tersebar tanpa filter—menyebabkan informasi yang presisi justru sulit ditemui dengan mudah. Validitas informasi yang eksisting di dunia maya memerlukan uji literasi yang ketat karena berbaur dan bercampur aduk antara informasi sampah, hoaks dan valid. Pada bagian lain sebagaimana diungkap di atas bahwa kesempatan dan keinginan menekuni dunia literasi di kalangan Gen z justru menurun. Riset membuktikan bahwa hobi membaca buku di kalangan Gen Z merosot drastis. Mereka condong memanfaatkan kemajuan dan perkembangan teknologi dengan seluas-luasnya dan sebebas-bebasnya. Dalam konteks ini kemajuan AI (artificial intelegense) dengan beragam platformnya menjadi jawaban instan dari kebutuhan kalangan Gen Z akan informasi. Tentu ini semua tidak salah. Kita tidak bisa menghindar dari arus perkembangan informasi dan (apalagi) tekhnologi. Namun demikian diperlukan upaya-upaya preventif dalam rangka membekali mindset ataupun pola fikir –terutama kalangan Gen Z.
Lalu bagaimana dengan Pendidikan Pancasila itu sendiri?
Di sinilah letak tantangannya. Harus diakui bahwa materi dan pembelajaran Pancasila yang sebagian masih mengadopsi materi dan cara-cara lama, dianggap membosankan oleh kalangan gen zi. Pancasila masih dianggap sebagai norma (grund norm) yang kuno dan mengawang-awang. Hanya baik di teori tapi sulit untuk dipraktikkan. Hal ini ditandai dengan masih banyaknya prilaku koruptif maupun tidak pantas yang dipertontonkan oleh pengambil kebijakan yang justru bertentangan dengan nilai-nilai dasar Pancasila yang mulia. Pada bagian lain, generasi genzi yang tumbuh dan berkembang di era digital adalah generasi yang ada dalam usia produktif dan kritis. Tidak mudah meyakinkan mereka tentang doktrin-doktrin Pancasila yang konvensional tanpa dibarengi dengan contoh-contoh kongkrit dan pendekatan-pendekatan yang sezaman dengan mereka. Di sinilah menurut Penulis diperlukan “kurikulum baru” dalam membumikan nilai-nilai Pancasila bagi kalangan genzi. Pendekatan dan penggunaan media sosial dan digital mutlak diperlukan dalam penyampaian materi-materi tentang Pancasila. Harus ditanamkan sejak dini bahwa Pancasila sebagai dasar Negara adalah sebuah ‘temuan ilmiah” dan saripati dari beragam khazanah budaya bangsa yang sudah teruji oleh waktu. Pancasila telah mengalami fase-fase panjang yang justru membuktikan kesaktiannya. Tentu ini harus dikemas dengan pendekatan yang menarik dan ilmiah. Karena genzi sangat minim informasi awal tentang Pancasila –apalagi sejarah dan perjuangannya– yang hari ini lebih banyak dapatkan dari sumber-sumner online yang kebanyakan belum teruji validitasnya. Hal ini dikarenakan masih banyak didapatkan banyak materi dan opini ataupun konten hingga berita di media online –dalam hal ini yang berkaitan dengan isu-isu Pancasila—yang masih mengedepankan pertimbangan rating dan viral.
Sudah saatnya, Pemerintah dan para pihak yang konsen akan nilai-nilai kebangsaan untuk merumuskan kembali cara yang tepat, menarik dan adatif dengan tehnologi untuk membumikan Pancasila terutama di kalangan genzi yang hari ini berada dalam usia-usia produktif dan di tangan merekalah kelak masa depan bangsa dipertaruhkan.




















