PESAWARAN – Sanggar Karawitan Desa Bagelen, Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran menggelar acara tasyakuran sekaligus pemberian nama untuk seperangkat gamelan bantuan dari Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ahmad Luthfi, Minggu malam (17/5/2026).

Dalam kegiatan tersebut, seperangkat gamelan resmi diberi nama “Kyai Pakuwojo” sebagai simbol persatuan dan pelestarian budaya masyarakat Jawa di perantauan.

Seperangkat gamelan itu merupakan bantuan langsung dari Gubernur Jateng kepada Kepala Desa Bagelen, Merdi Parmanto, S.Kom., M.Pd., yang diserahkan pada 19 Maret 2026 bertepatan dengan momentum bulan suci Ramadan menjelang Hari Raya Idulfitri. Bantuan tersebut diberikan sebagai bentuk dukungan terhadap upaya pelestarian budaya Jawa di Provinsi Lampung, sekaligus mengenang sejarah transmigrasi masyarakat Jawa dari Pulau Jawa ke Sumatra, khususnya di Desa Bagelen.

Nama “Kyai Pakuwojo” dipilih bukan tanpa makna. Pakuwojo merupakan akronim dari Paguyuban Keluarga Wong Jowo, yang merepresentasikan semangat persatuan masyarakat Jawa di tanah rantau. Nama itu menjadi simbol kekuatan budaya, kebersamaan, serta tekad menjaga warisan seni tradisional agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman.

Desa Bagelen sendiri dikenal sebagai salah satu kawasan transmigrasi masyarakat Jawa di Kabupaten Pesawaran yang hingga kini masih mempertahankan tradisi, kesenian, dan nilai budaya leluhur secara turun-temurun. Kehadiran gamelan tersebut diharapkan dapat menjadi penguat identitas budaya sekaligus ruang pembinaan generasi muda dalam mengenal dan mencintai seni tradisional Jawa.

Acara tasyakuran berlangsung khidmat dan penuh nuansa kekeluargaan di Sanggar Karawitan Desa Bagelen. Kegiatan diawali dengan doa bersama, dilanjutkan penampilan gamelan serta pertunjukan seni tradisional yang mendapat sambutan antusias dari masyarakat setempat.

Turut hadir dalam kegiatan itu, anggota DPRD Pesawaran dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Herlan, S.E., Ketua KDMP Desa Bagelen Jumadi, Ketua BPD Desa Bagelen Suhaini, tokoh agama, tokoh masyarakat, Ketua Seni Kuda Kepang Desa Bagelen, serta para pegiat seni budaya lainnya.

Kepala Desa Bagelen, Merdi Parmanto, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmen menjaga warisan budaya leluhur agar tetap hidup di tengah masyarakat tanpa mengesampingkan budaya lokal Lampung.

“Kegiatan ini bertujuan untuk melestarikan budaya Jawa, tetapi tidak menghilangkan budaya Lampung sebagai budaya lokal yang harus tetap dijunjung tinggi oleh masyarakat di Kabupaten Pesawaran,” ujarnya.

Merdi juga menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada Gubernur Jawa Tengah atas perhatian terhadap masyarakat Jawa di tanah perantauan.

“Kami atas nama Pemerintah Desa Bagelen dan seluruh masyarakat mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Bapak Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol. (Purn.) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., atas bantuan gamelan ini. Bantuan ini bukan hanya alat seni, tetapi simbol persaudaraan, pengingat sejarah transmigrasi, sekaligus bentuk kepedulian terhadap pelestarian budaya Jawa di Provinsi Lampung.

Semoga gamelan Kyai Pakuwojo ini menjadi pemersatu masyarakat dan dapat terus diwariskan kepada generasi muda,” ungkapnya.
Ia berharap keberadaan gamelan “Kyai Pakuwojo” tidak hanya menjadi sarana pelestarian seni budaya, tetapi juga wadah pembinaan generasi muda serta media mempererat persaudaraan lintas budaya di Desa Bagelen.

Lebih jauh, kegiatan tasyakuran tersebut juga menjadi momentum memperkuat nilai kebersamaan sekaligus penghormatan terhadap sejarah perjuangan para transmigran Jawa yang telah menetap dan membangun kehidupan di Kabupaten Pesawaran. Dengan hadirnya gamelan “Kyai Pakuwojo”, masyarakat berharap warisan budaya leluhur dapat terus hidup dan berkembang di tengah arus modernisasi tanpa kehilangan akar tradisinya. (***)