BANDARLAMPUNG –Tokoh masyarakat Lampung, M. Alzier Dianis Thabranie kembali menyindir kinerja Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai. Ini terkait pernyataan Natalius Pigai yang menolak wacana penembakan pelaku begal di tempat tanpa proses hukum karena bertentangan dengan prinsip HAM dan negara hukum.

“Itukan pernyataan asal mangap saja ya, tanpa terlebih dulu melihat kondisi nyata dan dinamika di masyarakat. Dimana kini pelaku kejahatan seperti begal sangat nekat, kejam dan sadis hingga tak segan-segan melukai dan membunuh,” tutur Alzier.

Menurut Ketua Dewan Penasehat DPW Persatuan Advokasi Indonesia (PERSADIN) Provinsi Lampung ini, pernyataan Natalius Pigai terkesan tak peduli pada perasaan yang dialami korban. Seperti peristiwa yang terjadi pada Brigpol Arya Supena, Sabtu, 9 Mei 2026. Anggota Sat Intel Polda Lampung harus meregang nyawa karena ditembak mati pelaku curanmor.

“Natalius Pigai ini bisa bilang begitu karena belum pernah jadi korban. Coba sekarang renungkan, bagaimana nasib keluarga anak-istri almarhum Brigpol Arya Supena yang harus ditinggal pergi selamanya lantaran tewas ditembak mati pelaku curanmor. Dengan anggota polisi saja, pelaku kriminal ini sangat berani dan sadis hingga membunuh saat beraksi. Apalagi dengan masyarakat atau rakyat biasa,” jelas Alzier.

Karenanya Alzier menilai sudah tepat langkah yang ditempuh Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Lampung, Irjen Pol. Helfi Assegaf yang memerintahkan seluruh jajaran menindak tegas pelaku pembegalan dan pencurian kendaraan bermotor. Penerapan tindakan tegas dan terukur ini semata demi keselamatan masyarakat dan polisi yang bertugas. Terutama ketika melihat pelaku yang memakai senjata api atau senjata tajam.

“Sudahlah, Menteri Pigai tak usah urusi soal begal. Fokus saja dengan kinerjanya. Misalnya tuntaskan Peristiwa Talangsari Tahun 1989 yakni penyerbuan kelompok Warsidi di Lampung yang mengakibatkan korban jiwa dari warga sipil. Lalu, ada lagi kasus penyiraman air keras yang menimpa aktivis KontraS, Andrie Yunus serta beberapa kasus lain. Jika tidak mampu, ya mundur saja. Jangan bebani Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto,” pungkas Alzier.(red)