BANDARLAMPUNG – Tokoh masyarakat Lampung, M. Alzier Dianis Thabranie menilai pernyataan Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) , Natalius Pigai, yang menolak wacana penembakan pelaku begal di tempat tanpa proses hukum karena bertentangan dengan prinsip HAM dan negara hukum, adalah sesat. Pasalnya pernyataan ini diungkapkan tanpa terlebih dahulu melihat kondisi nyata dan dinamika yang terjadi dimasyarakat. Dimana kini pelaku kejahatan seperti begal, dalam menjalankan aksinya kerap nekat berlaku kejam dan sadis. Bahkan mereka tak segan-segan melukai dan membunuh.
Misalnya peristiwa terbaru yang terjadi pada, Brigpol Arya Supena, Sabtu, 9 Mei 2026 lalu. Dimana Anggota Sat Intel Polda Lampung tersebut, harus meregang nyawa karena ditembak mati oleh pelaku curanmor.
“Jadi sudah benar adanya perintah Kepala Kepolisian Daerah Lampung, Irjen Pol. Helfi Assegaf yang memerintahkan seluruh jajaran menindak tegas pelaku pembegalan dan pencurian kendaraan bermotor. Saya mendukung penuh. Tidak ada toleransi. Tembak di tempat,” tutur Alzier, Jumat, 22 Mei 2025.
Lebih jauh, Alzier yang juga merupakan Ketua Dewan Penasehat DPW Persatuan Advokasi Indonesia (PERSADIN) Provinsi Lampung ini, mengandaikan jika nantinya suatu saat Natalius Pigai sendiri yang menjadi korban pelaku kejahatan.
“Pasti suaranya beda. Beliau (Natalius Pigai,red) bisa bilang begitu karena belum pernah menjadi korban. Coba sekarang renungkan, bagaimana nasib keluarga anak-istri almarhum Brigpol Arya Supena, yang harus ditinggal pergi selamanya lantaran tewas ditembak mati oleh pelaku curanmor. Dengan anggota polisi saja, para pelaku kriminal ini sangat berani dan sadis hingga melakukan pembunuhan saat menjalankan aksinya. Apalagi dengan masyarakat atau rakyat biasa,” jelas Alzier lagi.
Sebelumnya, Kapolda Lampung, Irjen Pol. Helfi Assegaf, memerintahkan seluruh jajaran menindak tegas pelaku pembegalan dan pencurian kendaraan bermotor. Menurutnya langkah itu diambil karena aksi pembegalan dinilai semakin meresahkan masyarakat di wilayah Lampung. Pelaku begal ini melakukan aksinya bukan lagi untuk masalah perut. Tetapi kebanyakan hasil dari pencurian kendaraan bermotor dipakai oleh para pelaku untuk dibelikan narkoba.(red)


















