Umar Achmad dan Narkoba

SAYA ini paling dilematis dalam melihat persoalan kasus narkoba. Sebisa mungkin harus paripurna dan mendalam. Apakah yang ditangkap pemakai yang cendrung sering “korban”, atau pengedar dan bandar.

Misalnya soal tertangkapnya dua Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemkab Tulang Bawang Barat (Tubaba), Agus Kurniawan (35) dan Andhika Widya Utama (32). Saya tidak ingin langsung “memvonis” keduanya tidak benar.

Mengapa ? Karena saya bisa merasakan “hancur”nya hati keluarga mereka berdua. Sedihnya hati para orangtuanya. Apalagi jujur saja, saya juga memiliki kedekatan dengan beberapa ASN di tempat mereka bertugas.

Namun disisi lain, saya menyesalkan mengapa ini bisa terjadi. ASN apalagi yang diberi tanggungjawab jabatan, harusnya bisa jadi tauladan. Tapi mirisnya, ini justru tertangkap disaat memakai mobil dinas. Tertangkapnya pun tidak tanggung-tanggung di sebuah hotel yang berkelas.

Sehingga timbul pertanyaan apakah mereka benar-benar korban. Berapa sebenarnya gaji ASN hingga mampu membeli dan mengonsumsi narkoba tersebut ?

Karenanya kini sudah menjadi tugas aparat Polresta Bandarlampung mengusut kasus ini secara tuntas. Jika memang dari penyidikan, ternyata keduanya diketahui merupakan pengedar atau bandar, sematkan saja jeratan pasal dengan hukuman pidana dan denda yang tertinggi. Jangan sungkan. Bongkar semua jaringannya.

Siapa tahu, bukan hanya keduanya yang kerap mengonsumsi narkoba. Tapi bisa mengimbas pada pejabat atau ASN di lingkungan Pemerintahan Kabupaten Tubaba. Tentunya saya tidak ingin menguraikan apa yang dimaksud dengan kata “Pemerintahan dalam arti ketatanegaraan”.

Lalu kepada Bupati Tubaba, Umar Ahmad, saya berharap agar kasus ini hendaknya dapat segera diambil hikmah dan pelajaran. Evaluasi menyeluruh. Minta semua ASN tes urine atau bila perlu dilakukan pemeriksaan darah dan rambut.

Tentunya ini memerlukan biaya yang tidak sedikit. Namun, kebijakan ini lebih penting untuk menyaring ASN. Yang imbasnya membuat kinerja roda pemerintahan menjadi lebih baik dan sangat bermanfaat bagi masyarakat.

Sebab bila “staf” terdekat saja bisa terlibat narkoba, lalu bagaimana dengan staf lain yang justru jauh dari pengawasannya. Umar tidak cukup dengan kecewa. Dia harus benar-benar tegas.

Apalagi tanpa ingin mengungkit cerita lama, Umar Ahmad bersama Sekretaris Daerah (Sekdanya), Herwan Sahri dulu, beberapa tahun yang silam juga pernah “diguncang” isu serupa.

Jadi kini saatnya-lah untuk menjawab bahwa “SAYA UMAR AHMAD dan segenap jajaran Pemkab Tubaba adalah orang Nomor 1 yang paling Anti dan Siap Melawan Peredaran Narkoba”.

Semoga Tuhan YME selalu memberikan hidayah untuk kita semua. Amien. (wassalam).