Tumpulnya Maaf Rektor Unila

MEMBACA opini Dr. Eddy Rifai berjudul “Rektor yang Bijak Vs Arogansi Oknum Arogan” saya merenung. Salahsatunya poinnya berisi penjelasan bahwa Rektor Universitas Lampung (Unila) Prof. Dr. Hasriadi Mat Akin, MS adalah sebagai pribadi yang cerdas, jujur, berintegritas, arif dan bijaksana.

Beliau merupakan Rektor Unila yang baik, dan bahkan pemaaf. Dimana dirinya telah memaafkan Maruli Hendra Utama, S.Sos, M.Si, Dosen Sosiologi Fisip Unila, yang kini meringkuk dibui lantaran telah mengkritik dengan sebutan “bandit tua” via media sosial (medsos) FB.

Percayakah saya dengan opini mantan dosen saya tersebut ? Tentunya hak saya untuk menyatakan tidak. Alasannya dengan jabatan tertinggi sebagai seorang Rektor Ternama, ditambah dengan gelar Guru Besar, tidak semestinya YTH Prof. Dr. Hasriadi Mat Akin, MS, mohon maaf sebelumnya jika saya menyebutnya hanya sekedar “berbasi-basi atau “berdiplomasi” seperti layaknya seorang politisi. Yakni menyatakan jika dia telah memaafkan perbuatan Marully, meskipun Marully menyatakan tidak menyesal dan bertanggungjawab atas kata-katanya.

Sebagai Rektor dan Guru Besar pula, sudah semestinya beliau bisa menunjukan sikap tegas. Segera mengambil berbagai langkah bijaksana guna meredam kasus ini hingga jangan sampai “mencuat” gaungnya ketingkat nasional.

Beliau harusnya tidak hanya bisa sekedar bicara maaf. Tapi beliau dapat memanggil Marulli Hendra Utama. Beliau bisa memerintahkan Yang Maha Agung, Dekan Fisip Unila, Dr. Syarief Makhya untuk mencabut laporan di polisi. Sehingga kasus ini tidak terus membesar seperti bola salju yang justru menimbulkan kesan negatif terhadap kampus Unila, dimana saya pernah menimba ilmu didalamnya.

Dan yang harusnya terbayang di mata Sang Rektor sebenarnya bukan pribadi diri Marulli Hendra Utama saja. Tapi yang harus direnungkan adalah doa anak dan istrinya Marulli yang merasa jika “ayah dan suami” sebagai “tulang punggung” keluarganya telah “dizholimi” yang saya percaya suatu saat doa tersebut akan terdengar oleh Tuhan YME.

Saya yakin-seyakin-yakinnya ada etika yang dilanggar oleh Marulli. Ada adab dan sopan-santun ketimuran yang hilang dan diabaikan oleh Marulli saat dirinya menulis status FB dengan menyebut Wadek III Fisip Unila, Dadang Karya Bakti sebagai “bandit”. Yang Maha Agung Dekan Fisip Unila, Dr. Syarief Makhya disebut “senyum bandit”. Dan YTH Rektor Unila, Prof. Dr. Ir. Hasriadi Mat Akin, M.P. sebagai “bandit tua”.

Namun demikian demikian, bukan langkah yang bijaksana pula, jika hanya karena postingan tersebut, yang bersangkutan harus menghuni dan merasakan pengapnya penjara. Dimana perbuatan yang harusnya tidak harus berujung dijeruji besi, namun terkesan dipaksakan harus berwujud.

Karenanya dengan segala hormat, saya memohon sudahilah “basa-basi” dan diplomasi kata-kata maaf ini.

Mari bangkitkanlah kembali budaya berdiskusi, musyawarah atau bila perlu berdebat di lingkungan Unila. Jangan hanya karena permasalahan kecil yang harusnya dapat diselesaikan secara internal, namun justru dibawa keranah dunia peradilan.

Sekali lagi saya berdoa, semoga tulisan ini dapat menggugah hati para pihak yang bertikai agar melihat persoalan yang lebih besar. Yakni mengedepankan kepentingan kemajuan Unila daripada mempertontonkan “keributan memalukan” yang sebenarnya tidak perlu orang pintar untuk menyelesaikannya. Apalagi sekelas Doktor atau Guru Besar. (wassalam)